Laman

Tuesday, March 18, 2025

Motivasi Untuk Meningkatkan Keterlibatan Siswa

Keterlibatan dan motivasi adalah dua hal yang terpisah tetapi saling berhubungan, meskipun sering disalahartikan. Motivasi adalah dorongan yang menyebabkan seorang siswa mengambil tindakan. Keterlibatan adalah perilaku yang dapat diamati atau bukti dari motivasi tersebut. Motivasi diperlukan untuk menciptakan keterlibatan, tetapi keterlibatan yang berhasil juga dapat membantu siswa merasa lebih termotivasi di masa depan.  

Dalam buku The Independent Learner, saya membaca bagaimana strategi belajar mandiri membantu siswa meningkatkan motivasi dan kemauan mereka untuk terlibat dalam pembelajaran karena strategi tersebut menciptakan perasaan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Menurut penelitian Ryan dan Deci, ada tiga komponen yang mendukung motivasi:  

- Otonomi adalah rasa memiliki inisiatif dan kepemilikan atas tindakan seseorang. 

- Kompetensi adalah perasaan menguasai sesuatu” dan keyakinan bahwa dengan usaha, siswa dapat “berhasil dan berkembang. 

- Keterhubungan terjadi ketika lingkungan sekolah menunjukkan rasa hormat dan kepedulian, sehingga siswa merasa memiliki rasa kebersamaan dan keterikatan. 


Memotivasi Siswa di Kelas  

Penting untuk tidak menyamakan keterlibatan dengan hiburan. Dalam sebuah survei oleh EdWeek, para peneliti menemukan bahwa aktivitas yang dianggap guru dapat meningkatkan keterlibatan siswa ternyata tidak selalu efektif. Sebagian besar guru yang meningkatkan penggunaan permainan digital mengira bahwa permainan tersebut akan membuat siswa lebih terlibat, tetapi hanya 27 persen siswa yang melaporkan merasa lebih terlibat saat menggunakan permainan digital. Bahkan, 30 persen siswa menyatakan bahwa pembelajaran justru menjadi kurang menarik.  

Jadi, apa yang sebenarnya menciptakan keterlibatan? Gallup menemukan bahwa siswa yang sangat setuju dengan dua pernyataan berikut 30 kali lebih mungkin melaporkan tingkat keterlibatan yang tinggi di sekolah:  

1. Sekolah saya berkomitmen untuk mengembangkan potensi setiap siswa. 

2. Saya memiliki setidaknya satu guru yang membuat saya bersemangat tentang masa depan.

Dengan kata lain, siswa yang terlibat menyadari bahwa mereka mendapatkan dukungan dari orang dewasa yang peduli dan bersedia bermitra dengan mereka dalam pembelajaran.  

Tidak semua kelas menciptakan kondisi seperti ini. Kelas yang bersifat mengontrol justru mengurangi otonomi dan motivasi serta meningkatkan frustrasi siswa. Di dalam kelas seperti ini, siswa cenderung menghindari tantangan karena takut gagal. Mereka belajar demi mendapatkan hadiah eksternal atau untuk menghindari kecemasan atau rasa malu akibat kesalahan. Guru sepenuhnya mengendalikan jawaban dan materi pembelajaran serta menggunakan bahasa seperti “harus” atau “wajib,” sehingga siswa merasa tertekan untuk berperilaku dan mencapai prestasi tertentu.  

Sebaliknya, menciptakan lingkungan kelas di mana siswa merasa memiliki otonomi, kompetensi, dan keterhubungan membantu mereka mempertahankan motivasi dan meningkatkan keterlibatan dalam aktivitas sekolah. Kelas yang mendukung motivasi dan meningkatkan keterlibatan memiliki struktur yang baik tetapi tidak bersifat terlalu mengontrol. Kelas seperti ini memiliki beberapa karakteristik berikut:  

1. Mendukung 

Guru mendukung otonomi dengan mendengarkan, berusaha memahami, dan merespons perspektif siswa. Mereka melihat kemampuan siswa saat ini dan membimbing mereka untuk mencapai standar atau tujuan dengan menyediakan bantuan atau dukungan yang sesuai. Ini memungkinkan siswa mencapai kompetensi sesuai tingkat kelasnya, bahkan bagi mereka yang belum sepenuhnya siap.  

2. Personal dan Individual  

Siswa merasa memiliki kesempatan untuk menyesuaikan tugas mereka sehingga dapat mengeksplorasi minat pribadi. Mereka juga dapat diajarkan untuk menghubungkan materi yang dipelajari dengan pengalaman mereka sendiri melalui pembuatan kaitan atau hook dalam pembelajaran.  

Mengakui keunikan dan bakat khusus siswa, memahami minat mereka, serta mengintegrasikan minat tersebut ke dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterhubungan. Menghubungi orang tua melalui catatan atau email untuk memberi apresiasi atas pencapaian siswa juga merupakan strategi efektif untuk membuat pembelajaran lebih personal.  

3. Terstruktur dan Berorientasi pada Tujuan  

Ketika guru memberikan strategi, umpan balik yang sering, serta menunjukkan cara menggunakan strategi tersebut secara efektif, siswa termotivasi karena dapat melihat perkembangan mereka sendiri. Guru dapat memberikan tujuan pembelajaran yang jelas dan membimbing siswa dalam menetapkan target jangka pendek untuk setiap tugas.  

Membantu siswa menyelaraskan tindakan dan usaha mereka dengan hasil yang ingin dicapai dapat dilakukan melalui perencanaan proses. Saya menemukan bahwa ketika siswa membuat grafik perkembangan mereka sendiri atau menggunakan rencana proses sebagai daftar periksa, mereka dapat melihat kemajuan mereka secara visual dan memahami langkah-langkah yang telah dicapai setiap hari menuju tujuan mereka. Selain itu, ekspektasi yang jelas, konsistensi dalam struktur kelas, aturan yang terdefinisi dengan baik, dan rutinitas yang tetap sangat penting dalam mendukung keterlibatan siswa.  

4. Kolaboratif 

Guru memberikan siswa pilihan dan kesempatan untuk bekerja sama dalam proses pembelajaran serta memiliki rasa kepemilikan atas tugas yang diberikan. Ketika guru mendorong siswa untuk mulai membuat pilihan dan bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri, mereka melihat adanya tujuan dalam kegiatan sekolah.  

Salah satu cara untuk mencapai hal ini adalah dengan menggunakan penilaian diri sebagai alat refleksi terhadap strategi belajar. Saya meminta siswa untuk menganalisis tugas mereka yang telah dinilai guna menentukan strategi yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki. Ketika siswa memahami bahwa kesalahan bukanlah kegagalan, tetapi kesempatan untuk belajar, mereka lebih termotivasi untuk terus berkembang.  

---


Sumber: https://www.edutopia.org/article/to-increase-student-engagement-focus-on-motivation/


0 comments: