This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Laman

Wednesday, May 11, 2022

Sukses VS Attitude

Sukses tidak hanya karena otak, tapi lebih kepada sikap mental dan perilaku (attitude): belajar dari Pareto's Principle
—————————————————
Oleh: Dr. Sunu Wibirama (Universitas Gadjah Mada)

Anda pernah tahu 80/20 rules? Atau kalau tidak, apakah Anda pernah mendengar tentang Pareto's Principle? 80/20 rules menyatakan bahwa dalam sebuah populasi tertentu, sesuatu yang jumlahnya lebih sedikit ternyata bernilai lebih tinggi dibandingkan dengan bagian lain yang jumlahnya lebih dominan. Dengan kata lain, tidak semua orang di dunia ini akan berhasil ketika mereka mengerjakan suatu hal yang sama, bahkan dengan modal awal yang sama. Hanya 20% dari mereka—atau bahkan kurang dari itu—yang akan sukses dan berhasil. Mengapa demikian?

***

Keberhasilan dan kesuksesan dalam mengerjakan sebuah tugas itu ditentukan oleh banyak hal. Kalau Anda mengira bahwa “kepandaian” atau otak adalah kunci utama sukses, Anda salah besar. Dalam sebuah artikel tentang kunci kesuksesan [1], Keith Harell mengatakan seperti ini:

“I generally start my workshops and seminars by asking a fundamental question: What attitude did you bring into this meeting? Often, this brings puzzled looks. In truth, people generally don’t have a high level of attitude awareness. They’ll know if they are hungry or if their feet hurt, but they usually don’t have a good handle on their attitude. That is a mistake because attitude is everything. It governs the way you perceive the world and the way the world perceives you.”

Apa artinya? Sikap mental dan perilaku inilah yang seringkali menjadi barrier terbesar untuk mencapai sesuatu. "Good handle of attitude" ini akan membuat Anda mendapatkan persepsi yang berbeda dengan lawan bicara, misalnya. Hal penting lainnya, Anda akan memiliki pola pikir (mindset) yang kokoh saat menghadapi masalah. Sikap proaktif, menurut Stephen Covey [2], adalah sikap pertama yang diperlukan untuk berhasil.

Contoh sederhana yang saya temukan belum lama ini adalah ketika saya menjawab beberapa respon pertanyaan tentang klinik paper dan riset. Dari hampir 50-an lebih yang berkomunikasi dengan saya, hanya sekitar 10-15 orang yang benar-benar memiliki “good attitude”. Mereka merespon dengan baik jawaban saya dan menyatakan kesediaan atau ketidaksediaan mereka. Sisanya? Diam tidak menjawab. Bahkan ketika saya mencoba mengonfirmasi lagi, sama sekali tidak ada respon (meskipun pesan saya terbaca).

Attitude seperti inilah yang menjadi barrier terbesar Anda. Anda tidak menganggap bahwa komunikasi yang baik menjadi kunci keberhasilan. Softskill dan empati Anda buruk sekali. Akibatnya orang akan memandang Anda tidak serius dan tidak memiliki dedikasi yang baik jika Anda diberi amanah pekerjaan tertentu, atau jika Anda kelak studi lanjut misalnya. Sehebat apapun promotor atau supervisor Anda, Anda akan gagal kalau attitude dan sikap mental Anda buruk.

Contoh lain attitude buruk adalah tidak siap menerima kritik dan masukan. Menjadi seseorang yang sukses mensyaratkan diri kita untuk melakukan “continuous improvement” (dalam budaya orang Jepang, continuous improvement ini disebut sebagai “Kaizen”). Untuk bisa melakukan “continuous improvement”, kita harus siap menerima kritik dan “open mind”—berpikir terbuka, siap maju, dan tidak malu untuk belajar. Daniel Kahneman—seorang profesor di bidang psikologi sekaligus penerima nobel di bidang ekonomi—mengatakan, “The expectation of intelligent gossip is a powerful motive for serious self-criticism, more powerful than New Year resolutions to improve one’s decision making at work and at home” [3]. Orang yang tidak siap menerima kritik dan masukan adalah orang yang tidak pernah mau untuk menjadi lebih baik. Akibatnya, ia menjadi penghalang kesuksesan untuk dirinya sendiri.

Dalam menghadapi masalah, misalnya. Tidak semua orang siap mengelola emosi. Orang yang memiliki sikap mental kokoh selalu berusaha mencari sisi positif dari masalah yang sedang dihadapi dan fokus pada solusi masalahnya, bukan skala masalahnya. Saya masih ingat betul saat saya gagal mencapai target publikasi ilmiah yang disepakati jadwalnya selama studi doktoral. Saat itu saya berpikir, “Wah, tanggal kelulusan saya pasti mundur ini, bisa-bisa beasiswa habis sebelum saya lulus”. Kekhawatiran yang tidak perlu, sebenarnya. Mengapa demikian? Sebab faktor kelulusan tidak hanya ditentukan oleh publikasi ilmiah, tapi juga berhasil atau tidaknya sidang tesis, kualitas tesis, bahkan yang paling buruk: faktor-faktor yang tidak bisa kita hindari seperti bencana alam gempa bumi atau bahkan tsunami.

Meskipun saat itu saya sempat stress—yang mana kondisi itu wajar untuk seorang mahasiswa doktoral—saya mencoba fokus pada solusi. Saya mencoba mengurai masalahnya untuk mencari tahu mengapa saya terlambat dan bagaimana saya harus memperbaiki kesalahan saya. Setelah itu saya memotivasi diri saya sendiri dengan membuat capaian-capaian kecil, supaya rasa percaya diri saya tumbuh. Saya mencoba mengirimkan hasil eksperimen saya ke sebuah seminar internasional dan paper saya diterima untuk dipresentasikan. Hasil-hasil kecil seperti ini menumbuhkan rasa percaya diri dan memberi keyakinan dalam hati bahwa saya bisa menyelesaikan studi dengan baik. Meskipun terlambat, akhirnya saya berhasil memenuhi syarat kelulusan sesuai dengan peraturan universitas.

***

Kembali kepada 80/20 rules [4]. Anda akan melihat bahwa tidak semua orang berhasil mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, meskipun ia memiliki sumber daya dan modal yang sama dengan orang lain. Sikap mental dan perilakulah yang menjadi kunci pembedanya. Dua hal ini, sayangnya, tidak “taken for granted”. Tidak “given”, tapi harus dilatih. Tidak seperti kecerdasan akademik yang bisa ditransmisikan melalui kelas atau tutorial, sikap mental dan perilaku ini tumbuh tidak hanya dengan pengetahuan tentang dua hal tersebut, tapi juga dengan proses interaksi antar sesama manusia dan “constant feedback” dari interaksi tersebut. “Constant feedback” inilah yang akan memastikan adanya “continuous improvement” ke arah yang lebih baik.

Percayalah, resolusi tahun baru tidak akan mengubah Anda kalau sikap mental dan perilaku Anda masih seperti tahun ini. Target apapun yang Anda tuliskan di atas kertas tidak akan tercapai jika Anda tidak berusaha mengubah bagaimana Anda bersikap terhadap masalah dan terhadap lingkungan di sekitar Anda.

“A bad attitude is like a flat tire, you can’t go anywhere until you change it”.

Referensi:

[1] K. Harell, “Why Your Attitude is Everything”, 2016. Available online: https://www.success.com/why-your-attitude-is-everything/ (Accessed: 24 Desember 2019).

[2] S. R. Covey, “The 7 Habits for Highly Effective People”, Free Press, 1989.

[3] D. Kahneman, “Thinking, Fast and Slow”, Farrar, Straus and Giroux, 2011.

[4] R. Koch, "The 80/20 Principle: The Secret of Achieving More with Less", Nicholas Brealey Publishing, 2017.

Monday, May 9, 2022

HBH Keluarga Besar Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren Al-Asy'ari

Halal bi Halal Keluarga Besar Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren Al-Asy'ari

Tema: Hidmat pada pendiri untuk mendapatkan berkah.


Keluarga besar yayasan pendidikan dan Pondok Pesantren Al-Asy'ari, mulai dari unit pendidikan PAUD, RA, MI, MTsN 15, MA, SMK, pagi ini pada hari Selasa tanggal 10 Mei 2022 melangsungkan acara Halal bi Halal di gedung aula MA Al-Asy'ari lantai 2. Acara dimulai tepat pukul 10 WIB, dengan diiringi lantunan salawat oleh grup Banjari siswa MA Al-Asy'ari.

Pada HBH tahun ini, yayasan pendidikan dan Pondok Pesantren Al-Asy'ari mengundang Bapak KH. Kholid Dahlan, pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang. Beberapa pelajaran berharga yang bisa saya rangkum dari tausiah yang beliau sampaikan, antara lain:

1. Hendaknya segala kegiatan yang kita lakukan diiringi dengan dzikir. Dzikir yang baik adalah terucap dari  lisan, selanjutnya ruhnya dzikir akan terasa sampai ke dalam hati.

2. Jika hati kita telah melantunkan dzikir, semua panca indera kita pasti akan berdzikir. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. 

Dzikirnya mata adalah ketika kita gunakan untuk membaca Al-Quran. Dzikirnya kaki adalah saat kita melangkahkan kaki ke kamar mandi  di sepertiga malam dan dilanjutkan dengan bersujud dalam tahajud. Dzikirnya rambut adalah ketika kita kenakan hijab untuk menutupinya, tidak ada yang bisa melihatnya kecuali mahrom. Dan seterusnya.

3. Hendaknya kita banyak-banyak bersyukur. Sebagaimana firman Allah SWT.: Lainsyakartum laazidannakum walainkafartum inna'adzabi lasyadid.

Sejatinya kita semua sehat. Mengkonsumsi makanan dan minuman apa saja tidak apa-apa. Yang menjadikan kita sakit adalah karena kita terlalu berlebihan ketika makan dan minum. Misalnya: Saat disuguhi makanan lezat, kita terburu-buru makan tanpa mengunyah dengan pelan dan sempurna, maka akan menjadikan tubuh kita sakit karenanya.

4. Guru yang baik adalah guru yang  menguasai materi yang diajarkan kepada siswa, tidak asal-asalan. Maka para guru hendaknya tidak berhenti belajar, terutama mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan IT dan gen Z.

5. Hendaknya kita perbanyak memaafkan sesama. Jangan segan untuk meminta maaf dan jangan pelit untuk memaafkan orang yang meminta maaf ke kita.

Kiai Kholil menutup mauidhohnya dengan membaca salawat dan doa  khotmil qur'an bersama. [AZ]


Jombang, 10 Mei 2022