This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Laman

Showing posts with label Cerita Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Cerita Inspirasi. Show all posts

Thursday, April 13, 2023

Belajar Memaafkan

Belajar Memaafkan dari Kisah Abu Bakar ash-Shiddiq

Mengapa kita langsung marah dengan seseorang yang mengkhianati kita, padahal semua manusia pada hakikatnya setiap hari berkhianat kepada Allah, yang bukan hanya memberi kita makan, namun juga memberi penghidupan?


Suatu hari, Abu Bakar geram sekaligus sedih karena ada sebuah fitnah terhadap Aisyah, anak kandungnya. Aisyah difitnah telah berzina dengan salah seorang sahabat Nabi. Tentu ini merupakan fitnah yang keji. Abu Bakar mencari-cari siapa yang menyebarkan rumor ini. Akhirnya, ketahuan bahwa salah satu yang ikut menyebarkan gosip itu adalah Misthah bin Utsasah, yang merupakan sepupunya sendiri. Selain sepupunya sendiri, Misthah adalah seorang fakir yang kehidupannya dibiayai oleh Abu Bakar.

Ketika mengetahuinya, Abu Bakar bak petir di siang bolong. Jika dikonversi menjadi sinema, Misthah bisa menjadi tokoh antagonis paling menyebalkan karena “pengkhianatannya” itu. Bayangkan saja, yang menyebarkan fitnah terhadap anak Abu Bakar adalah sepupunya sendiri yang tiap hari ia penuhi segala hajat hidupnya. Abu Bakar telah berbuat baik kepadanya, namun ia dikhianati oleh keluarganya sendiri.

Memang, Misthah bukanlah pihak yang membuat fitnah itu. Ia adalah orang baik. Ia merupakan bagian dari kalangan Muhajirin yang berpindah dari Makkah ke Madinah. Ia juga pejuang Perang Badar Bersama Rasulullah. Hanya saja, ia termakan isu yang menyebar, dan sayangnya, bukannya mengkonfirmasi kebenarannya, Misthah justru ikut “membantu” menyebarkan fitnah itu.

Oleh karena fitnah itu, kebaikan-kebaikan Misthah menjadi tidak ada artinya. Namanya tercoreng luar biasa. Bagaimana tidak? Menyebarkan fitnah tentang istrinya Nabi Muhammad. Hal ini otomatis memancing amarah di kalangan umat Islam, terutama para sahabat. Mereka secara serempak memberikan sentiment buruk kepada Misthah. Ia dicela, diboikot, dijauhi, bahkan dalam sebuah riwayat, ibu kandungnya sendiri turut mengutuk Misthah. Sejak itulah, Misthah menjadi sangat terpuruk.

Lalu, bagaimana dengan Abu Bakar? Tentu saja ia kecewa luar biasa. Ia marah, geram, dan merasa dikhianati. Sampai-sampai, Abu Bakar bersumpah, seperti yang tertulis dalam hadis riwayat Ahmad:

“Demi Allah selamanya aku tidak akan menafkahi Misthah sedikitpun.”

Abu Bakar bukan sembarang sahabat. Ia adalah orang terdekat Nabi. Orang yang dikenal jujurnya luar biasa. Orang yang santun dan juga sangat pemaaf. Jika seorang dengan kepribadian semegah itu saja sampai menyumpahi Misthah, maka memang tidak main-main kekecewaan Abu Bakar dan sebegitu parahnya kesalahan Misthah. Namun, reaksi Abu Bakar ini rupanya tetap tidak dibenarkan oleh Islam. Allah langsung merespon sumpah serapah Abu Bakar lewat QS. an-Nur : 22,

وَلَا يَأْتَلِ أُو۟لُوا۟ ٱلْفَضْلِ مِنكُمْ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤْتُوٓا۟ أُو۟لِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينَ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا۟ وَلْيَصْفَحُوٓا۟ ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampuni kamu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Ayat tersebut secara eksplisit menyatakan bahwa Allah tidak ingin hambanya tidak memaafkan sesamanya sekalipun ia kecewa. Allah menyindir hambanya yang “sok” mempunyai harta, kemudian memperlakukan orang lain dengan sewenang-wenang hanya karena ia dikecewakan.

Kisah Abu Abu Bakar layak dijadikan sebagai refleksi apakah bulan mulia ini membantu mentransformasi kita menjadi Muslim yang lebih baik. Meskipun kita kecewa, meskipun kita merasa sudah dikhianati oleh orang yang kita “baik” kepadanya, mengapa kita tidak bisa memberi maaf? Allah mengingatkan kita soal “lupa diri” yang seringkali menjangkiti manusia. Padahal, semua manusia pada hakikatnya setiap hari berkhianat kepada Allah, yang bukan hanya memberi kita makan saja, bukan hanya sekadar baik sama kita saja, tetapi memberi kita nyawa, memberi rezeki, memberi kehidupan, dan lain sebagainya.

Dengan itu semua, umat manusia masih sering berkhianat. Umat manusia setiap hari melanggar perintah Sang Maha Pemberi. Meskipun begitu, Allah selalu saja memaafkan kita. Meskipun Allah juga tahu, bahwa besoknya kita bakal berbuat dosa lagi. Kesadaran ini yang setidaknya membuat Abu Bakar langsung menarik sumpahnya, dan kembali memperlakukan Misthah seperti dulu lagi.


Sumber: Artikel dari pegiat Moderasi Beragama di Islami Institute.

Thursday, January 2, 2020

Guru MTsN 5 Jombang Juara 1 Guru Madrasah Berprestasi Tingkat Kabupaten Tahun 2019


Sejalan dengan amanat UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, maka Pendidikan Madrasah adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sumber Daya Manusia (SDM) bermutu dan berdaya saing yang dihasilkan Pendidikan Madrasah diharapkan dapat menjadi generasi emas bangsa yang berkemampuan kompetitif dalam era global. Upaya pengembangan kualitas mutu input, proses, dan output Pendidikan Madrasah menjadi agenda penting yang perlu dilakukan secara berkesinambungan. Tenaga pendidik dan kependidikan dalam konteks proses pendidikan di madrasah memiliki peran strategis dalam mewujudkan tujuan nasional pendidikan. Inovatif, kreatif, dan produktif dalam mengemban kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan menjadi suatu keniscayaan yang harus dimiliki insan profesional di bidang pendidikan tersebut.

Dalam rangka percepatan pengembangan kualitas mutu tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang melalui Seksi Pendidikan Madrasah menyelenggarakan Kompetisi Guru, Kepala dan Pengawas Madrasah Berprestasi Tingkat Kabupaten Jombang Tahun 2019. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memberikan motivasi sekaligus penghargaan bagi guru, kepala, dan pengawas madrasah di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang dalam mengemban amanah dan jabatan profesionalnya. Dengan demikian, kompetisi yang positif dalam mengembangkan pendidikan madrasah diharapkan pula akan terwujud tumbuh dan berkembang sejalan dengan tuntutan perkembangan pada skala regional, nasional, maupun internasional.

KOMPETISI GURU, KEPALA, DAN PENGAWAS MADRASAH BERPRESTASI

Kompetisi Guru, Kepala dan Pengawas Madrasah Berprestasi bertujuan untuk:
1. Mendorong dan meningkatkan motivasi dan profesionalisme Guru, Kepala dan Pengawas Madrasah dalam pelaksanaan tugas profesionalnya.
2. Menciptakan guru, kepala madrasah, pengawas madrasah yang mampu berkontribusi dalam membangun suasana pembelajaran pada satuan pendidikan RA dan Madrasah.
3. Meningkatkan daya kreatifitas dan inovasi guru, kepala madrasah, pengawas madrasah pada satuan pendidikan RA dan Madrasah.
4. Memberikan apresiasi dan penghargaan kepada guru, kepala madrasah dan pengawas madrasah pada satuan pendidikan RA dan madrasah yang memiliki kompetensi, dedikasi dan prestasi dalam menjalankan tugas.
5. Memberikan pengakuan kepada guru, kepala madrasah dan pengawas madrasah yang berprestasi pada satuan pendidikan RA dan Madrasah.

Kegiatan Kompetisi Guru, Kepala, dan Pengawas Madrasah ini diharapkan dapat memberikan kemanfaatan antara lain; Meningkatnya motivasi Guru, Kepala dan Pengawas Madrasah untuk meningkatkan kinerja, disiplin, dedikasi, dan loyalitas untuk kepentingan masa depan bangsa dan negara. Meningkatnya harkat, martabat, citra, dan profesionalisme Guru, Kepala dan Pengawas Madrasah melalui prestasi. Meningkatnya inovasi, kreatifitas, dan produktifitas Guru, Kepala dan Pengawas Madrasah dalam pendidikan dan pembelajaran. Meningkatkanya interaksi positif antar-peserta dan antar-madrasah melalui tukar pengalaman praktik terbaik pendidikan dan pembelajaran.

Penilaian dalam kompetisi ini ada dua tahap. Tahap pertama, penilaian berkas yang meliputi Dokumen portofolio(Pf) dan Karya tulis ilmiah (KTI). Tahap kedua, penilaian Presentasi dan wawancara tentang penguasaan, pemahaman dan wawasan tentang pengembangan bakat, potensi dan prestasi peserta didik atau pengembangan masyarakat (bagi guru), pengembangan satuan pendidik(bagi Kepala RA dan Madrasah), atau pengembangan profesionalisme guru atau Kepala Satuan Pendidikan (bagi pengawas).

MTsN 5 JOMBANG  JUARA 1 KATEGORI GURU


Final Kompetisi Guru, Kepala dan Pengawas Madrasah Berprestasi Tahun 2019 Tingkat Kabupaten Jombang yang dilaksanakan pada hari Jum'at, tanggal 20 Desember 2019 bertempat di Aula Darussalam diikuti oleh 35 Guru, Kepala dan Pengawas Madrasah terpilih; dengan rincian 3 orang Kategori Guru Madrasah masing-masing jenjang (RA, MI, MTs, MA); 4 orang Kategori Kepala Madrasah masing-masing jenjang (RA, MI, MTs, MA); dan 8 orang Pengawas Madrasah. Dalam kesempatan tersebut, para finalis harus mempresentasikan Karya Tulis Ilmiah yang ditulisnya sekaligus wawancara berkaitan dengan dokumen portofolio yang telah dikumpulkan.

Finalis kategori Guru MTs

Ni'matuz Zahroh (biasa dikenal dengan panggilan Miss Anik), salah satu guru MTsN 5 Jombang Jawa Timur yang mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris ikut berpartisipasi dalam Kompetisi  tersebut dan berhasil mendapatkan Juara 1 untuk kategori Guru MTs. Dalam Karya Tulis Ilmiah yang ditulisnya, beliau membahas tentang budaya literasi terutama tentang mudahnya menulis bagi siswa (cerita pengalaman siswa) dengan menggunakan metode Back and Draw Activity. Kunci keberhasilan beliau dalam mengikuti kompetisi tersebut adalah banyak membaca dan mempelajari situasi dan kondisi yang sedang booming di era disrupsi revolusi industri 4.0



Era disrupsi yang dipenuhi kemajuan teknologi informasi yang sedemikian pesatnya, adalah sebuah keniscayaan bahwa guru harus menguasai teknologi untuk kemudian digunakan sebagai media pendukung dalam kegiatan pembelajaran. Kepada para guru-guru Madrasah yang hebat, jangan pernah puas dengan ilmu yang anda miliki. Anak-anak milenial saat ini banyak yang terdegradasi, meniadakan guru. Karena mereka lebih percaya belajar dengan Aplikasi-aplikasi online, seperti RuangGuru, dll. Guru harus bisa introspeksi diri, agar siswa-siswa tidak memunafikkan eksistensi guru.


Semangat menjadi guru Madrasah yang profesional dan moderat di era disrupsi.
Dirgahayu Hari Bakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia ke-74 Tahun 2020, "Umat rukun, Indonesia maju"


Daftar nama Juara 1,2, dan 3
Guru, Kepala, dan Pengawas Madrasah

Juara 1,2, dan 3 Guru dan Kepala MTs



Jombang, 3 Januari 2020
Anik Zahroh

Tuesday, November 21, 2017

Cerita ketika Nabi Muhammad SAW dalam kandungan

Sayidah Aminah berkata, “Ketika aku mengandung “Kekasihku” Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, di awal masa kehamilanku, yaitu bulan Rajab.

Suatu malam, ketika aku dalam kenikmatan tidur, tiba tiba masuk seorang laki-laki yang sangat elok parasnya, wangi aromanya, dan tampak sekali pancaran cahayanya.

Dia berkata, “Marhaban bika Ya Muhammad (Selamat datang untukmu Wahai Muhammad)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab “Aku Adam, ayah sekalian manusia”
“Apa yang engkau inginkan?”
“Aku ingin membawa kabar gembira. Bahagialah engkau wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Sayidil Basyar” (Pemimpin Manusia)”

Pada bulan kedua datang seorang laki-laki, seraya berkata, “Assalamu’alaika Ya Rasulallah (Salam untukmu wahai utusan Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Tsits”
“Apa yang engkau inginkan”
“Aku ingin menggembirakanmu, bergembiralah wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibut Ta’wil wal Hadits” (Pemilik Ta’wil dan Hadits)”

Pada bulan ketiga datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Nabiyallah (Salam untukmu wahai Nabi Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Idris”
“Apa yang engkau inginkan”
“Gembiralah engkau Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyir Ro-iis” (Nabi Pemimpin)”.

Pada bulan keempat datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Habiballah (Salam untukmu wahai Kekasih Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Nuh”
“Apa yang engkau inginkan”
“Bahagialah wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibun Nashri wal Futuh” (Pemilik Pertolongan dan Kemenangan)”.

Pada bulan kelima datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya shafwatallah (Salam untukmu wahai Sahabat Karib Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Hud”
“Apa yang engkau inginkan”
“Bergembiralah wahai ibu Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibusy Syafa’ah fil yawmil Masyhud” (Pemilik Syafaat di Hari persaksian/ Hari kiamat)”.

Pada bulan keenam datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Rohmatallah (Salam untukmu wahai kasih sayang Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Ibrohim AlKholil”
“Apa yang engkau inginkan”
“Bahagialah engkau Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Jalil” (Nabi yang Agung)”.

Pada bulan ketujuh datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya manikhtaarohullah” (Salam untukmu wahai orang yang telah dipilih Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Isma’il Adz-Dzabih (Yang disembelih)”
“Apa yang engkau inginkan”
“Gembiralah Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Malih” (Nabi yang Elok)”.

Pada bulan kedelapan datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Khirotallah” (Salam untukmu wahai pilihan Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Musa putra Imran”
“Apa yang engkau inginkan”
“Kabar gembira Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Man Yunzalu ‘alaihil Qur’an” (Orang yang akan diuturunkan padanya Al-Qur’an)”.

Pada bulan kesembilan, yakni bulan Robi’ul Awwal, datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Rosulallah” (Salam untukmu wahai utusan Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Isa putra Maryam”
“Apa yang engkau inginkan”
“Gembiralah engkau Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Mukarrom wa rosulil mu’adhom” (Nabi yang dimuliakan dan Rasul yang diagungkan)”.

Syaikh Nawawi Banten, Maulid Ibriz, hlm 17-19

Monday, October 9, 2017

Kisah Abu bin Hasyim sang Ahli Ibadah

Alkisah ada ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim yang kuat sekali tahajudnya. Hampir bertahun-tahun dia tidak pernah absen melakukan sholat tahajud. Pada suatu ketika saat hendak mengambil wudhu untuk tahajud, Abu dikagetkan oleh keberadaan sesosok makhluk yang duduk di bibir sumurnya.

Abu bertanya, “Wahai hamba Allah, siapakah Engkau ?”.
Sambil tersenyum, sosok itu berkata; “Aku Malaikat utusan Allah”
Abu Bin Hazim kaget sekaligus bangga karena kedatangan tamu malaikat mulia.
Dia lalu bertanya, “Apa yang sedang kamu lakukan di sini ?”
Malaikat itu menjawab, “Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah”
Melihat Malaikat itu memegang kitab tebal, Abu lalu bertanya; “Wahai Malaikat, buku apakah yang kau bawa ?”
Malaikat menjawab; “Ini adalah kumpulan nama hamba-hamba pencinta Allah.”
Mendengar jawaban Malaikat, Abu bin Hasyim berharap dalam hati namanya ada disitu. Maka ditanyalah Malaikat itu. “Wahai Malaikat, adakah namaku disitu ?” Abu berasumsi bahwa namanya ada di buku itu, mengingat amalan ibadahnya yg tdk kenal putusnya. Selalu mengerjakan sholat tahajud setiap malam, berdo’a dan bermunajat pd Allâh SWT di sepertiga malam.

“Baiklah, aku buka,” kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. Dan ternyata Malaikat itu tidak menemukan nama Abu di dalamnya. Tidak percaya, Abu bin Hazim meminta Malaikat mencarinya sekali lagi. “Betul … namamu tidak ada di dalam buku ini !” kata Malaikat.

Abu bin Hazim pun gemetar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat. Dia menangis sejadi-jadinya. “Rugi sekali diriku yang selalu tegak berdiri di setiap malam dalam tahajud dan bermunajat … tetapi namaku tidak masuk dalam golongan para hamba pecinta Allah,” ratapnya.

Melihat itu, Malaikat berkata, “Wahai Abu bin Hasyim ! Bukan aku tidak tahu engkau bangun setiap malam ketika yang lain tidur … mengambil air wudhu dan kedinginan pada saat orang lain terlelap dalam buaian malam. Tapi tanganku dilarang Allâh menulis namamu.”

 “Apakah gerangan yang menjadi penyebabnya ?” tanya Abu bin Hasyim. “Engkau memang bermunajat kepada Allâh, tapi engkau pamerkan dengan rasa bangga kemana-mana dan asyik beribadah memikirkan diri sendiri. Di kanan kirimu ada orang sakit atau lapar, tidak engkau tengok dan beri makan. Bagaimana mungkin engkau dapat menjadi hamba pecinta Allah kalau engkau sendiri tidak pernah mencintai hamba-hamba yang diciptakan Allâh ?” kata Malaikat itu.

Abu bin Hasyim seperti disambar petir di siang bolong. Dia tersadar hubungan ibadah manusia tidaklah hanya kepada Allâh semata (hablumminAllâh), tetapi juga ke sesama manusia (hablumminannâs) dan alam -


Semoga cerita ini dapat menginspirasi kita semua, Amin...

Thursday, October 5, 2017

AL QUR'AN & UMUR

Al Qur'an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Rasul kita Muhammad SAW., dimulai dengan Surat al-Fatihah dan ditutup dengan Surat an-Nas, bernilai ibadah bagi siapa Yang membacanya, berdasarkan hadits Rasulullah saw. :


مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan الــم ialah satu huruf, akan tetapi ا satu huruf, ل satu huruf dan م satu huruf. [HR. Bukhari].


Berkata Abdul Malik bin Umair: "Satu-satunya manusia yang tidak tua adalah orang yang selalu membaca Al-qur'an".
"Manusia yang paling jernih akalnya adalah para pembaca Al-qur'an".

Berkata Al-imam Qurtubi: "Barang siapa yang membaca Al-qur'an,  maka Allah akan menjadikan ingatannya segar meskipun umurnya telah mencapai 100 tahun".

Imam besar Ibrahim al-Maqdisi memberikan wasiat pada muridnya Abbas bin Abdi Daim rahimahullah; "Perbanyaklah membaca Al-qur'an jangan pernah kau tinggalkan, karena sesungguhnya setiap yang kamu inginkan akan di mudahkan setara dengan yang kamu baca".

Berkata Ibnu Solah: "Bahwasannya para Malaikat tidak diberi keutama'an untuk membaca Al-qur'an,  maka oleh karena itu para Malaikat bersemangat untuk selalu mendengar saja dari baca'an manusia".

Berkata Abu Zanad: "Di tengah malam, aku keluar menuju masjid Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam sungguh tidak ada satu rumahpun yang aku lewati melainkan pada nya ada yang membaca Al-qur'an".

Berkata Shaikhul Islam ibnu Taimiyyah: "Tidak ada sesuatu yang lebih bisa memberikan nutrisi otak, kesegaran jiwa, dan kesehatan tubuh serta mencakup segala kebahagiaan melebihi dari orang yang selalu melihat kitabullah ta'ala". Bergantunglah pada Alqur'an niscaya kau akan mendapatkan keberkahan.

Berkata sebagian ahli tafsir: "Manakala kita menyibukkan diri dengan Al-qur'an maka kita akan di banjiri oleh sejuta keberkahan dan kebaikan di dunia". Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufiqnya kepada Kami dan semua yang membaca tulisan ini untuk selalu membaca Al-qur'an dan mengamalkan kandungannya.

Sahabatku,
Umur kita terlalu singkat, hingga ALLAH karuniakan lailatul qadar untuk menambah umur amal.
Umur kita terlalu singkat, ALLAH pinta bersilatulrahim untuk memanjangkannya.
Umur kita terlalu singkat, ALLAH karuniakan Puasa Enam hari di bulan Syawal seperti berpuasa setahun.
Umur kita terlalu singkat, ALLAH karuniakan baca Surah Al-Ikhlas seperti membaca sepertiga Al-Quran.
Umur kita terlalu singkat, ALLAH kurniakan Sholat di Masjidil Haram seperti sholat 100 ribu lebih di masjid lain.
Umur kita terlalu singkat, ALLAH karuniakan Sholat berjemaah nilainya 27x lebih banyak pahalanya daripada sholat sendirian.
Umur kita terlalu singkat, ALLAH karuniakan Sholat sunat di rumah nilainya 25x lebih banyak pahalanya daripada sholat dilihat mata orang lain.
Hidup ini terlalu singkat, ALLAH karuniakan satu huruf bacaan Al-Quran dengan 10 pahala/kebaikan.
Hidup ini terlalu singkat, ALLAH karuniakan siapa yang beramal jariyah, berbagi ilmu yang bermanafaat, dan menjadikan anak-anaknya yang sholeh, pahalanya akan terus mengalir ke alam kuburnya.

Wahai diri..., usia umat Nabi Muhammad SAW. rata-rata hanya 63 - 65 tahun. Kalau saat ini usia kita sudah 45 tahun, paling lama 20 tahun lagi Malaikat Al Maut akan menjemput kita..

HIDUP INI TERLALU SINGKAT, JANGANLAH DISIA-SIAKAN KESEMPATAN YG DIBERIKAN ALLAH SWT.

Baarokallaah...

Thursday, September 28, 2017

DOA IBU LEBIH MULIA DARI ULAMA BESAR SEKALIPUN

Sekedar sebuah Renungan

Di Hadromaut (Yaman), Setiap orang yang datang menghadap Habib Salim atau Habaib Sepuh yang Alim di Tarim untuk minta di doakan, selalu mendapat pertanyaan yang sama :
"Apakah kamu masih memiliki permata (Ibu) di rumahmu ?"

Jika jawabannya, masih. Maka beliau dengan halus mengatakan :
"Tahukah kamu, bahwa doa ibu untukmu, lebih mulia dan Makbul dari pada Doa seorang Wali Besar sekalipun ?"

Ketika Habib Umar Bin Hafidz dan abangnya Habib Ali Masyhur Bin Hafidz masih bayi dan sering menangis,
Ibunda mereka Hubabah Zahra, akan memeluk dan membelai anak-anaknya sambil mengusap kepala mereka.

Kepada Habib Ali Masyhur, beliau sering
berbisik "Mufti, Mufti". dan sekarang Habib Ali Masyhur telah menjadi Mufti Yaman.

Kepada Habib Umar sang ibu selalu berdoa
"Da'i, Da'i". Dan kini Habib Umar telah menjelma menjadi Da'i Islam terkenal di zaman ini.

Rasulullah ﷺ bersabda : "Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah, maka jangan sia-siakan pintu itu atau jagalah ia." (HR. TIRMIDZI).

Saudaraku,
Ibu adalah pintu Surga bagi anak2-nya, dan Ayah adalah jembatan menuju kepadanya.
Air susu Ibu yg kita minum adalah saripati makanan hasil jerih payah, keringat Ayah yang mencari nafkah untuk keluarga.
Karena itu Muliakan Mereka.
Mau keluar rumah ?. Jangan lupa cium tangan Ibu dan Ayah. (Ingatlah ketika kita masih kecil, kita selalu dipeluk dan diciumnya).

Bila kita sudah bekerja/ berkeluarga, atau tak tinggal serumah, sering2-lah mengunjunginya.
Bila tidak memungkinkan,
Telponlah, agar beliau senang dan ridho, atas seluruh jerih payah dan setiap tetesan susu yang telah menjadi darah daging kita.

Setidaknya, memberikan  Perhatian  kepada nya di Masa Tuanya...

Semoga ALLAH Ta'ala Meridhoi dan selalu memberikan Rahmat + barokah kepada kedua orang tua dabfn keluarga kita tercinta.

آمِّيْنَ آمِّيْنَ آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Semoga bermanfaat...

Tuesday, November 22, 2016

Ketika Murid Tidak Sesuai Harapan


Ada satu kisah dari Waliyulloh Agung dari Pasuruan, Kiai Hamid, tentang bagaimana seharusnya seorang guru menghadapi murid yang tidak sesuai dengan harapannya.

Suatu hari di sekitar tahun 60-an, salah seorang santri beliau yang menjadi pimpinan GP Ansor Cabang Pasuruan nyaris putus asa dalam kaderisasi di ranting-ranting. Pasalnya, dari 100 lulusan pelatihan, paling hanya ada 3-5 orang kader saja yg betul-betul bisa diandalkan. Dalam kegalauannya ini, si santri memutuskan sowan pada Kiai Hamid dahulu untuk konsultasi.

Saat dia sowan, sembari menunjuk pada pohon-pohon kelapa yang berbanjar di pekarangan rumah, Kiai Hamid berkata panjang lebar.

"Aku menanam pohon ini, yang aku butuhkan itu buah kelapanya. Ternyata yang keluar pertama kali malah blarak, bukan kelapa. Setelah itu glugu, baru setelah beberapa waktu keluar mancung. Mancung pecah, nongol manggar, yang (sebagian rontok lalu sisanya) kemudian jadi bluluk, terus (banyak yang rontok juga dan sisanya) jadi cengkir, terus (sebagian lagi) jadi degan, baru kemudian jadi kelapa. Lho setelah jadi kelapa pun masih ada saput, batok, kulit tipis (yang semua itu bukan yg saya butuhkan tadi). Lantas, ketika mau diambil santannya, masih harus diparut kemudian diperas. Yang jadi santan tinggal sedikit. Lha itu sunnatulloh. Lha yang 95 orang kader itu, carilah, jadi apa dia. Glugu bisa dipakai untuk perkakas rumah, blarak untuk ketupat."

Kalau inginnya mencetak orang 'alim, tidak bisa diharapkan bahwa semua murid di kelas itu bakal jadi 'alim semua. Pasti ada seleksi alam, akan ada proses pengerucutan. Meski begitu, bukan berarti pendidikan itu gagal. Katakanlah yang jadi hanya 5 %, tapi yang lain bukan lantas terbuang percuma. Yang lain tetap berguna, tapi untuk fungsi lain, untuk peran lain.

_Dari buku Percik-percik Keteladanan Kiai Hamid Pasuruan_

Semoga bermanfaat

Thursday, November 17, 2016

Karomah Hadratus Syeh KH Saihona Kholil

Makam Hadratus Syeh KH Saihona Kholil/Mbah Kholil
Pencetak para Ulama' dan Kyai Besar.
Mertajasah,Bangkalan,Madura Jawa Timur.

Karomah Mbah Kholil

Adapun karomah Mbah Kholil diantaranya:

1. Tertawa Keras didalam Sholat
Pada suatu hari, didalam sholat jemaah yang dipimpin oleh kyai disebuah pesantren tempat kyai
Kholil mencari ilmu, Kyai Kholil muda tertawa cukup keras sehingga teman-temannya takut kalau-
kalau kyai akan marah karna sikapnya itu.
Dugaan mereka tidak keliru,setelah selesai sholat sang kyai menegur Kyai Kholil muda dengan
sikapnya yang tertawa cukup keras waktu solat tersebut yang memang dilarang dalam Islam. Ternyata, Kyai Kholil muda masih terus tertawa meskipun kyai sangat marah terhadapnya.
Akhirnya Kyai Kholil menjawab bahwa ketika sholat berjamaah berlangsung dia melihat sebuah
berkat (wadah nasi waktu kenduri) diatas kepala sang Kyai. Mendengar jawaban tersebut, sang
kyai menjadi sadar dan merasa malu atas sholat yang ia pimpin tersebut. Karena sang kyai ingat
bahwa selama sholat berlangsung, dia memang merasa tergesa-gesa untuk menghadiri kenduri
mengakibatkan solatnya tidak khusyuk.

2. Debat kepiting dan Rajungan 
Pada suatu hari, para ulama Mekah berkumpul di Masjidil Haram untuk berdiskusi membahas
masalah dan hukum Islam yang sedang terjadi di Makah. Semua persoalan didiskusikan tanpa
hambatan dan selalu mendapatkan solusi dan kesepakatan semua Ulama tersebut. Akan tetapi
pada masalah mengenai halal atau haramnya kepiting dan rajungan terjadi banyak pendapat dan tidak menemukan solusi.
Kyai Kholil pada waktu itu berada diantara peserta diskusi sambil mendengarkan dengan tekun sambil sekali-sekali tersenyum melihat silang pendapat para peserta diskusi. Melihat jalan buntu
permasalahan yang ada dihadapnya, Kyai Kholil minta izin untuk menawarkan solusi untuk
masalah tersebut. Akhirnya Kyai Kholil dipersilahkan untuk naik ke atas mimbar oleh pimpinan diskusi.
Setelah tiba diatas mimbar, Kyai Kholil berkata, “Saudara sekalian, ketidaksepakatan kita dalam menentukan hukum kepiting dan rajungan ini menurut saya disebabkan karena saudara sekalian belum melihat secara pasti wujud kepiting dan rajungan” ujar kyai Kholil. Semua ulama yg hadir
dalam diskusi tersebut menyetujui keterangan kyai Kholil tersebut.
“saudara sekalian, adapun wujud kepiting seperti ini” ucap kyai Kholil sambil memegang kepiting yang masih basah.
“sedangkan yang rajungan seperti ini” lanjut Kyai Kholil sambil memegang rajungan yang masih basah, seakan baru mengambil dari laut. Semua hadirin merasa terpana dan suasana menjadi gaduh karna keanehan tersebut. Mereka hanya bisa merasa heran dan bingung dari mana sang Kyai Kholil mendapatkan kepiting dan rajungan dengan sekejap saja.
Maka setelah kejadian tersebut, masalah halal atau haramnya kepiting dan rajungan telah menemukan solusinya. Sejak kejadian itu, Kyai Kholil menjadi ulama yg disegani di antara ulama Masjidil Haram.

3. Ke Makkah Naik Kerocok (sejenis daun aren yg dapat mengapung di air).
Pada suatu sore di pinggir pantai daerah Bangkalan, Kyai Kholil hanya ditemani oleh Kyai Syamsul
Arifin, salah seorang murid dan sahabatnya. Mereka membicarakan perihal urusan pesantren dan
persoalan umat, tak terasa waktu sudah berlangsung lama dan matahari hampir terbenam.
“ kita belum solat Ashar kyai” kata Kyai Syamsul Arifin.
“ Astaghfirullah ” kata kyai Kholil menyadari Kekhilafannya. “ waktu ashar hampir habis, kita
tidak mungkin sholat secara sempurna Kyai” ucap Kyai syamsul Arifin.
“ kalau begitu, ambil kerocok untuk kita pakai ke Makkah ” kata Kyai Kholil. Setelah mendapatkan kerocok, mereka menumpanginya di atas kerocok tersebut. Beberapa saat ketika
Kyai Kholil menatap ke Makkah, tiba-tiba kerocok yang ditumpanginya melesat dengan cepat ke
arah Makkah. Sesampainya ke Makkah, Azan solat ashar baru saja dikumandangkan dan mereka mendapatkan Shaf pertama sholat Ashar berjamaah di Masjidil Haram.

4. Mengubah Arah Kiblat Masjid
Pada suatu hari, Kyai Kholil sedang melihat masjid yang sedang dibangun oleh menantu beliau
yaitu Kyai Muntaha. Ketika melihat arah kiblat pada masjid tersebut, Kyai Kholil menegur sang menantu yang alim itu untuk membetulkan arah kiblat masjid yang sedang dibangunnya itu.
Sebagai orang yg alim, Kyai Muntaha mempunyai alasan dalam menentukan arah kiblat tersebut,
beberapa argumen ditunjukan kepada Kyai Kholil dalam penentuan arah kiblat tersebut. Melihat menantunya tidak ada tanda-tanda untuk mendengar nasihatnya, Kyai Kholil tersenyum
sambil berjalan kearah tempat pengimaman di ikuti sang menantu. Kyai Kholil mengambil sebuah
kayu untuk melubangi dinding tembok arah kiblat dan menyuruh Kyai Muntaha untuk melihat
lubang pada dinding masjid di tempat pengimaman. Betapa kagetnya Kyai Muntaha setelah melihat
lubang itu, sang menantu melihat dalam lubang kecil itu terlihat Ka’bah yang berada di Makkah
dengan sangat jelas. Dengan penglihatan itu, Kyai Muntaha heran dan sadar bahwa arah kiblat yang menjadi kiblat bangunan masjidnya salah. Arah kiblat bangunan masjid terlalu miring dan
terbukti benar apa yang di koreksi Kyai Kholil.

5. Membelah Diri
 Kesaktian lain dari Mbah Kholil, adalah kemampuannya membelah diri. Dia bisa berada di beberapa tempat dalam waktu bersamaan.
Pernah ada peristiwa aneh saat beliau mengajar di pesantren. Saat berceramah, Mbah Kholil melakukan sesuatu yang tak terpantau mata. ”Tiba-tiba baju dan sarung
beliau basah kuyup,” Cerita KH. Ghozi. Para santri heran. Sedangkan beliau sendiri cuek, tak mau menceritakan apa-apa. Langsung ngeloyor masuk rumah, ganti baju. Teka-teki itu baru terjawab setengah bulan kemudian. Ada seorang nelayan sowan ke Mbah Kholil. Dia mengucapkan terimakasih, karena saat perahunya pecah di tengah laut, langsung ditolong Mbah Kholil. ”Kedatangan nelayan itu membuka tabir. Ternyata saat memberi pengajian, Mbah Kholil dapat pesan agar segera ke pantai untuk menyelamatkan nelayan yang perahunya pecah. Dengan karomah yang dimiliki, dalam sekejap beliau bisa sampai laut dan membantu si nelayan itu,”
Papar KH. Ghozi yang kini tinggal di Wedomartani Ngemplak Sleman ini.

6. Menyembuhkan Orang Lumpuh Seketika
Dalam buku yang berjudul “Tindak Lampah Romo Yai Syeikh Ahmad Jauhari Umar” menerangkan bahwa Mbah Kholil Bangkalan termasuk salah satu guru Romo Yai Syeikh Ahmad
Jauhari Umar yang mempunyai karomah luar biasa. Diceritakan oleh penulis buku tersebut sebagai berikut:
“Suatu hari, ada seorang keturunan Cina sakit lumpuh, padahal ia sudah dibawa ke Jakarta
tepatnya di Betawi, namun belum juga sembuh. Lalu ia mendengar bahwa di Madura ada orang
sakti yang bisa menyembuhkan penyakit. Kemudian pergilah ia ke Madura yakni ke Mbah Kholil untuk berobat. Ia dibawa dengan menggunakan tandu oleh 4 orang, tak ketinggalan pula anak dan istrinya ikut mengantar. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan orang Madura yang dibopong karena sakit (kakinya kerobohan pohon). Lalu mereka sepakat pergi bersama-sama berobat ke Mbah Kholil. Orang Madura berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Kira-kira jarak kurang dari 20 meter dari rumah Mbah Kholil, muncullah Mbah Kholil dalam rumahnya dengan membawa pedang seraya berkata:
“Mana orang itu?!! Biar saya bacok sekalian.” Melihat hal tersebut, kedua orang sakit tersebut ketakutan dan langsung lari tanpa ia sadari sedang sakit. Karena Mbah Kholil terus mencari dan membentak-bentak mereka, akhirnya tanpa disadari, mereka sembuh. Setelah Mbah Kholil wafat kedua orang tersebut sering ziarah ke makam beliau.

7. Kisah Pencuri Timun Tidak Bisa Duduk
Pada suatu hari petani timun di daerah Bangkalan sering mengeluh. Setiap timun yang siap
dipanen selalu kedahuluan dicuri maling. Begitu peristiwa itu terus-menerus, akhirnya petani timun
itu tidak sabar lagi. Setelah bermusyawarah, maka diputuskan untuk sowan ke Mbah Kholil.
Sesampainya di rumah Mbah Kholil, sebagaimana biasanya Kyai tersebut sedang mengajarkan
kitab Nahwu. Kitab tersebut bernama Jurumiyah, suatu kitab tata bahasa Arab tingkat pemula. “Assalamu’alaikum, Kyai,” Ucap salam para petani serentak.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,“ Jawab Mbah Kholil.
Melihat banyaknya petani yang datang. Mbah Kholil bertanya: “Sampean ada keperluan, ya?” 
“Benar, Kyai. Akhir-akhir ini ladang timun kami selalu dicuri maling, kami mohon kepada Kyai penangkalnya,” Kata petani dengan nada memohon penuh harap. Ketika itu, kitab yang dikaji oleh Kyai kebetulan sampai pada kalimat “qoma zaidun” yang artinya “zaid telah berdiri”. Lalu serta-merta Mbah Kholil berbicara sambil menunjuk kepada huruf “qoma zaidun”.
“Ya.., Karena pengajian ini sampai ‘qoma zaidun’, ya ‘qoma zaidun’ ini saja pakai sebagai penangkal,” Seru Kyai dengan tegas dan mantap.
“Sudah, Pak Kyai?” Ujar para petani dengan nada ragu dan tanda tanya.
“Ya sudah,” Jawab Mbah Kholil menandaskan.
Mereka puas mendapatkan penangkal dari Mbah Kholil. Para petani pulang ke rumah mereka masing-masing dengan keyakinan kemujaraban penangkal dari Mbah Kholil. Keesokan harinya, seperti biasanya petani ladang timun pergi ke sawah masing-masing. Betapa terkejutnya mereka melihat pemandangan di hadapannya. Sejumlah pencuri timun berdiri terus-menerus tidak bisa duduk. Maka tak ayal lagi, semua maling timun yang selama ini merajalela diketahui dan dapat ditangkap. Akhirnya penduduk berdatangan ingin melihat maling yang tidak bisa duduk itu, semua upaya telah dilakukan, namun hasilnya sia-sia. Semua maling tetap berdiri dengan muka pucat pasi karena ditonton orang yang semakin lama semakin banyak. Satu-satunya jalan agar para maling itu bisa duduk, maka diputuskan wakil petani untuk sowan ke Mbah Kholil lagi. Tiba di kediaman Mbah Kholil, utusan itu diberi obat penangkal. Begitu obat disentuhkan ke badan maling yang sial itu, akhirnya dapat duduk seperti sedia kala. Dan para pencuri itupun menyesal dan berjanji tidak akan mencuri lagi di ladang yang selama ini menjadi sasaran empuk pencurian. Maka sejak saat itu, petani timun di daerah Bangkalan menjadi aman dan makmur. Sebagai rasa terima kasih kepada Mbah Kholil, mereka menyerahkan hasil panenannya yaitu timun ke pondok pesantren berdokar-dokar. Sejak itu, berhari-hari para santri di pondok kebanjiran timun, dan hampir-hampir di seluruh pojok-pojok pondok pesantren dipenuhi dengan timun.

8. Kisah Ketinggalan Kapal Laut 
Kejadian ini pada musim haji. Kapal laut pada waktu itu, satu-satunya angkutan menuju Mekkah.
Semua penumpang calon haji naik ke kapal dan bersiap-siap, tiba-tiba seorang wanita berbicara
kepada suaminya: “Pak, tolong saya belikan anggur, saya ingin sekali,” Ucap istrinya dengan memelas. “Baik, kalau begitu. Mumpung kapal belum berangkat, saya akan turun mencari anggur,” Jawab suaminya sambil bergegas ke luar kapal. Suaminya mencari anggur di sekitar ajungan kapal, nampaknya tidak ditemui penjual buah anggur seorangpun. Akhirnya dicobanya masuk ke pasar untuk memenuhi keinginan istrinya tercinta. Dan meski agak lama, toh akhirnya anggur itu didapat juga. Betapa gembiranya sang suami mendapatkan buah anggur itu. Dengan agak bergegas, dia segera kembali ke kapal untuk menemui isterinya. Namun betapa terkejutnya setelah sampai ke ajungan, kapal yang akan ditumpangi semakin lama semakin menjauh. Sedih sekali melihat kenyataan ini. Ia duduk termenung tidak tahu apa yang mesti diperbuat. Di saat duduk memikirkan nasibnya, tiba-tiba ada seorang laki-laki datang menghampirinya. Dia memberikan nasihat: “Datanglah kamu kepada Mbah Kholil Bangkalan, utarakan apa musibah yang menimpa dirimu!” Ucapnya dengan tenang. “Mbah Kholil?” Pikirnya. “Siapa dia, kenapa harus ke sana, bisakah dia menolong ketinggalan saya dari kapal?” Begitu pertanyaan itu berputar-putar di benaknya. “Segeralah ke Mbah Kholil minta tolong padanya agar membantu kesulitan yang kamu alami,
insya Allah,” Lanjut orang itu menutup pembicaraan. Tanpa pikir panjang lagi, berangkatlah sang suami yang malang itu ke Bangkalan.
Setibanya di kediaman Mbah Kholil, langsung disambut dan ditanya: “Ada keperluan apa?” Lalu suami yang malang itu menceritakan apa yang dialaminya mulai awal hingga datang ke Mbah Kholil. Tiba-tiba Kyai itu berkata: “Lho, ini bukan urusan saya, ini urusan pegawai pelabuhan. Sana pergi!” Lalu suami itu kembali dengan tangan hampa. Sesampainya di pelabuhan sang suami bertemu lagi dengan orang laki-laki tadi yang menyuruh ke Mbah Kholil, lalu bertanya: ”Bagaimana, sudah bertemu Mbah Kholil?” “Sudah, tapi saya disuruh ke petugas pelabuhan,” Katanya dengan nada putus asa. “Kembali lagi, temui Mbah Kholil!” Ucap orang yang menasehati dengan tegas tanpa ragu. Maka sang suami yang malang itupun kembali lagi ke Mbah Kholil. Begitu dilakukannya sampai berulang kali. Baru setelah ketiga kalinya, Mbah Kholil berucap: “Baik kalau begitu, karena
sampeyan ingin sekali, saya bantu sampeyan.” “Terima kasih Kyai,” Kata sang suami melihat secercah harapan. “Tapi ada syaratnya,” Ucap Mbah Kholil. “Saya akan penuhi semua syaratnya,” Jawab orang itu dengan sungguh-sungguh. Lalu Mbah Kholil berpesan: “Setelah ini, kejadian apapun yang dialami sampeyan jangan sampai diceritakan kepada orang lain, kecuali saya sudah meninggal. Apakah sampeyan sanggup?”
Seraya menatap tajam. “Sanggup Kyai,“ Jawabnya spontan. “Kalau begitu ambil dan pegang anggurmu pejamkan matamu rapat-rapat,” Kata Mbah Kholil. Lalu sang suami melaksanakan perintah Mbah Kholil dengan patuh. Setelah beberapa menit berlalu dibuka matanya pelan-pelan. Betapa terkejutnya dirinya sudah berada di atas kapal tadi yang sedang berjalan. Takjub heran bercampur jadi satu, seakan tak mempercayai apa yang dilihatnya.
Digosok-gosok matanya, dicubit lengannya. Benar kenyataan, bukannya mimpi, dirinya sedang
berada di atas kapal. Segera ia temui istrinya di salah satu ruang kapal. “Ini anggurnya, dik. Saya beli anggur jauh sekali,” Dengan senyum penuh arti seakan tidak pernah terjadi apa-apa dan seolah-olah datang dari arah bawah kapal. Padahal sebenarnya dia baru saja mengalami peristiwa yang dahsyat sekali yang baru kali ini dialami selama hidupnya. Terbayang wajah Mbah Kholil. Dia baru menyadarinya bahwa beberapa saat yang lalu, sebenarnya dia baru saja berhadapan dengan seseorang yang memiliki karomah yang sangat luar biasa.

9. Kyai Kholil dipenjara oleh Penjajah 
Masa hidup Kiai Kholil, tidak luput dari gejolak perlawanan terhadap penjajah. Tetapi, dengan
caranya sendiri Kiai Kholil melakukan perlawanan; pertama, ia melakukannya dalam bidang
pendidikan. Dalam bidang ini, Kiai Kholil mempersiapkan murid-muridnya untuk menjadi pemimpin
yang berilmu, berwawasan, tangguh dan mempunyai integritas, baik kepada agama maupun
bangsa. Ini dibuktikan dengan banyaknya pemimpin umat dan bangsa yang lahir dari tangannya;
salah satu di antaranya: Kiai Hasyim Asy’ari, Pendiri Pesantren Tebuireng.
Cara yang kedua, Kiai Kholil tidak melakukan perlawanan secara terbuka, melainkan ia lebih
banyak berada di balik layar. Realitas ini tergambar, bahwa ia tak segan-segan untuk memberi suwuk (mengisi kekuatan batin, tenaga dalam) kepada pejuang, pun Kiai Kholil tidak keberatan pesantrennya dijadikan tempat persembunyian. Ketika pihak penjajah mengetahuinya, Kiai Kholil ditangkap dengan harapan para pejuang menyerahkan diri. Tetapi, ditangkapnya Kiai Kholil, malah membuat pusing pihak Belanda; karena ada kejadian-kejadian yang tidak bisa mereka mengerti; seperti tidak bisa dikuncinya pintu penjara, sehingga mereka harus berjaga penuh supaya para tahanan tidak melarikan diri. Di hari-hari selanjutnya, ribuan orang datang ingin menjenguk dan memberi makanan kepada Kiai Kholil, bahkan banyak yang meminta ikut ditahan bersamanya. Kejadian tersebut menjadikan pihak Belanda dan sekutunya merelakan Kiai Kholil untuk di bebaskan saja.

10. Kyai kholil berguru ke kyai pasuruan 
Ketika Kiai Kholil masih muda, dia mendengar bahwa di Pasuruan ada seorang kiai yang sangat
sakti mandraguna. Namanya Abu Darin. Kholil muda ingin sekali belajar kepada Abu Darin. Semangat untuk menimba ilmu itu begitu menggebu-gebu pada dirinya sehingga jarak tempuh yang
begitu jauh dari Bangkalan di Pulau Madura ke Pasuruan di Pulau Jawa tidak dianggapnya sebagai
rintangan berarti, meski harus berjalan kaki. Namun apa daya, sesampainya Kholil muda di Desa Wilungan, Pasuruan, tempat kiai Abu Darin membuka pesantren, ternyata Kiai Abu Darin sudah wafat. Dia meninggal hanya beberapa hari sebelum kedatangan Kholil muda. Habislah harapannya untuk mewujudkan cita-citanya berguru kepada kiai yang mempunyai ilmu tinggi tersebut. Dengan langkah gontai karena capai fisik dan penat mental, hari berikutnya Kholil berta’ziyah ke makam Kiai Abu Darin. Di depan pusara Kiai Darin, Kholil membaca Al-Qur’an hingga 40 hari. Dan pada hari yang ke-41, ketika Kholil tengah ketiduran di makam, Kiai Abu Darin hadir dalam mimpinya. Dalam kesempatan itu almarhum mengatakan kepada Kholil, “Niatmu untuk belajar sungguh terpuji. Telah aku ajarkan kepadamu beberapa ilmu, maka peliharalah.” Kholil lalu terbangun, dan serta merta dia sudah hafal kandungan kitab Imrithi, Asymuni, dan Alfiyah, kitab utama pesantren itu.
Subhanallah.

11. Melindungi calon santrinya dari musibah 
Pada kisah yang lain, Kiai Kholil berusaha melindungi calon santrinya dari musibah, padahal dia
berada di Bangkalan, sementara si calon santri di tengah Alas Roban, Batang, Pekalongan. Menurut cerita si calon santri yang bernama Muhammad Amin, ia berangkat dari Kempek, Cirebon,
bersama lima orang temannya, menuju Bangkalan, Madura, untuk berguru kepada Kiai Kholil.
Mereka tidak membawa bekal apa-apa kecuali beberapa lembar sarung, baju, dan celana untuk
tidur, parang, serta thithikan, alat pemantik api yang terbuat dari batu. Setelah berjalan kaki berhari-hari, menerobos hutan dan menyeberangi sungai, mereka sampai di tepi Hutan Roban di luar kota Batang, Pekalongan. Hutan itu terkenal angker, sehingga tidak ada yang berani merambahnya. Pohon-pohon yang ada di hutan itu besar-besar, semak belukar sangat tinggi, banyak binatang buas di dalamnya. Namun yang lebih menyeramkan, banyak perampok yang berkeliaran di tepi hutan itu. Mereka perampok yang kejam dan tidak segan-segan membantai mangsanya kalau melawan. Menjelang malam, tatkala enam orang calon santri itu sedang mencari tempat untuk tidur, tiba-tiba
muncul sesosok laki-laki. Namun karena tampangnya biasa-biasa saja, mereka tidak menaruh
curiga. Bahkan orang itu kemudian bertanya apa mereka punya thithikan, karena ia akan menyulut rokok. Namun setelah benda itu dipegangnya, ia mengatakan bahwa batu itu terlalu halus sehingga sulit dipakai untuk membuat api. “Masih perlu dibikin kasar sedikit,” kata orang itu sambil memasuk­kan batu tersebut ke mulutnya lalu menggigitnya sehingga pecah menjadi dua. Terbelalak mata enam orang calon santri itu menyaksikan kekuatan mulut laki-laki itu. Mereka gemetar ketakutan. “Serahkan barang-barang kalian,” hardik orang itu. Amin, yang paling berani di antara mereka, menjawab, “Kalau barang-barang kami diambil, kami tidak bisa me­lanjutkan perjalanan ke Bangkalan.” Mendengar kata “Bangkalan”, orang itu tampak waswas.
“Mengapa kalian ke sana?” dia balik bertanya. 
“Kami mau berguru kepada Mbah Kholil,” jawab Amin.
Tersentak laki-laki itu, seperti pemburu tergigit ular berbisa. Wajahnya pucat pasi, bibirnya menggigil. “Jadi kalian mau nyantri sama Kiai Kholil?” “
Betul,” sahut enam calon santri itu ber­samaan. Mereka gembira karena merasa tidak akan dirampok. Tapi dugaan itu meleset. “Kalau begitu, serahkan semua barangmu kepadaku,” kata lelaki itu. “Kalian tidur saja di sini, dan aku akan menjaga kalian semalaman.” Makin ketakutan saja para remaja itu. Mereka kemudian memang membaringkan badan tapi mata tidak bisa diajak tidur semalaman. Maut seakan sudah dekat saja.
Keesokan harinya, selepas mereka shalat Subuh, lelaki itu mengajak mereka pergi. “Ayo kita berangkat,” ujarnya. “Kemana ?” tanya para calon santri. “Akan kuantar kalian ke luar dari hutan ini agar tidak diganggu oleh perampok lain,” jawabnya tampak ramah. Dalam hati mereka bertanya-tanya, apa maunya orang ini. Namun sebelum pertanyaan itu terjawab, orang itu berkata. “Sebenarnya kalian akan aku rampok, dan menjual kalian kepada onderneming untuk dijadikan kuli kontrak di luar Jawa. Tapi ilmu saya akan berbalik mencelakakan diri saya kalau berani mengganggu para calon santri Kiai Kholil. Sebab guru saya pernah dikalahkan Kiai Kholil dengan ilmu putihnya.” Maka enam remaja dari Kempek itu kian mantap untuk nyantri ke Bangkalan. Terlebih lagi baru di perjalanan saja untuk menuju pesantren Kiai Kholil mereka telah memperoleh karamah dari pemim­pin pesantren tersebut.

12. Kedatangan macan
 Suatu hari di bulan Syawal. Kiai Kholil tiba-tiba memanggil santrinya. "Anak-anakku, sejak hari ini
kalian harus memperketat penjagaan pondok pesantren. Pintu gerbang harus senantiasa dijaga,
sebentar lagi akan ada macan masuk ke pondok kita ini.” Kata Syeikh Kholil agak serius.
Mendengar tutur guru yang sangat dihormati itu, segera para santri mempersiapkan diri. Waktu itu
sebelah timur Bangkalan memang terdapat hutan-hutan yang cukup lebat dan angker. Hari demi
hari, penjagaan semakin diperketat, tetapi macan yang ditungu-tunggu itu belum tampak juga. Memasuki minggu ketiga, datanglah ke pesantren pemuda kurus, tidak berapa tinggi berkulit
kuning langsat sambil menenteng kopor seng. Sesampainya di depan pintu rumah SyeikhKholil, lalu mengucap salam. Mendengar salam itu, bukan jawaban salam yang diterima, tetapi Kiai malah berteriak memanggil santrinya ; "Hey santri semua, ada macan….macan.., ayo kita kepung. Jangan sampai masuk ke pondok.” Seru Syeikh Kholil bak seorang komandan di medan perang. Mendengar teriakan Syeikh kontan saja semua santri berhamburan, datang sambil membawa apa yang ada, pedang, clurit, tongkat, pacul untuk mengepung pemuda yang baru datang tadi yang mulai nampak kelihatan pucat. Tidak ada pilihan lagi kecuali lari seribu langkah. Namun karena tekad ingin nyantri ke Syeikh Kholil begitu menggelora, maka keesokan harinya mencoba untuk datang lagi. Begitu memasuki pintu gerbang pesantren, langsung disongsong dengan usiran ramai-ramai. Demikian juga keesokan harinya. Baru pada malam ketiga, pemuda yang pantang mundur ini memasuki pesantren secara diam-diam pada malam hari. Karena lelahnya pemuda itu, yang disertai rasa takut yang mencekam, akhirnya tertidur di bawah kentongan surau. Secara tidak diduga, tengah malam Syeikh Kholil datang dan membantu membangunkannya. Karuan saja dimarahi habis-habisan. Pemuda itu dibawa ke rumah Syeikh Kholil. Setelah berbasa-basi dengan seribu alasan. Baru pemuda itu merasa lega setelah resmi diterima sebagai santri Syeikh Kholil. Pemuda itu bernama Abdul Wahab Hasbullah. Kelak kemudian hari santri yang diisyaratkan macan itu, dikenal dengan nama KH. Wahab Hasbullah, seorang Kiai yang sangat alim, jagoan berdebat, pembentuk komite Hijaz, pembaharu pemikiran.
Kehadiran KH Wahab Hasbullah di mana-mana selalu berwibawa dan sangat disegani baik kawan
maupun lawan bagaikan seekor macan, seperti yang diisyaratkan Syeikh Kholil.

13. Santri yang tidak ikut jamaah Dan diantara karomahnya,
Pada suatu hari menjelang pagi, santri bernama Bahar dari Sidogiri merasa gundah, dalam benaknya tentu pagi itu tidak bisa sholat subuh berjamaah. Ketidak ikutsertaan Bahar sholat subuh berjamaah bukan karena malas, tetapi disebabkan halangan junub.
Semalam Bahar bermimpi tidur dengan seorang wanita. Sangat dipahami kegundahan Bahar. Sebab
wanita itu adalah istri Kiai Kholil, istri gurunya. Menjelang subuh, terdengar Kiai Kholil marah besar
sambil membawa sebilah pedang seraya berucap:“Santri kurang ajar.., santri kurang ajar….."
Para santri yang sudah naik ke masjid untuk sholat berjamaah merasa heran dan tanda tanya, apa dan siapa yang dimaksud santri kurang ajar itu. Subuh itu Bahar memang tidak ikut sholat berjamaah, tetapi bersembunyi di belakang pintu masjid. Seusai sholat subuh berjamaah, Kiai Kholil menghadapkan wajahnya kepada semua santri seraya bertanya ; Siapa santri yang tidak ikut berjamaah?” Ucap Kiai Kholil nada menyelidik.
Semua santri merasa terkejut, tidak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu. Para santri
menoleh ke kanan-kiri, mencari tahu siapa yang tidak hadir. Ternyata yang tidak hadir waktu itu
hanyalah Bahar. Kemudian Kiai Kholil memerintahkan mencari Bahar dan dihadapkan kepadanya. Setelah diketemukan lalu dibawa ke masjid. Kiai Kholil menatap tajam-tajam kepada bahar seraya
berkata ; "Bahar, karena kamu tidak hadir sholat subuh berjamaah maka harus dihukum. Tebanglah
dua rumpun bambu di belakang pesantren dengan petok ini" Perintah Kiai Kholil.
Petok adalah sejenis pisau kecil, dipakai menyabit rumput. Setelah menerima perintah itu, segera Bahar melaksanakan dengan tulus. Dapat diduga bagaimana Bahar menebang dua rumpun bambu dengan suatu alat yang sangat sederhana sekali, tentu sangat kesulitan dan memerlukan tenaga serta waktu yang lama sekali. Hukuman ini akhirnya diselesaikan dengan baik. Alhamdulillah, sudah selesai, Kiai" Ucap Bahar dengan sopan dan rendah hati. Kalau begitu, sekarang kamu makan nasi yang ada di nampan itu sampai habis, Perintah Kiai kepada Bahar.Sekali lagi santri Bahar dengan patuh menerima hukuman dari Kiai Kholil. Setelah Bahar melaksanakan hukuman yang kedua, santri Bahar lalu disuruh makan buah-buahan sampai habis yang ada di nampan yang telah tersedia. Mendengar perintah ini santri Bahar melahap semua buah-buahan yang ada di nampan itu. Setelah itu santri Bahar diusir oleh Kiai Kholil seraya berucap; "Hai santri, semua ilmuku sudah dicuri oleh orang ini", ucap Kiai Kholil sambil menunjuk ke arah Bahar. Dengan perasaan senang dan mantap santri Bahar pulang meninggalkan pesantren Kiai Kholil menuju kampung halamannya. Memang benar, tak lama setelah itu, santri yang mendapat isyarat mencuri ilmu Kiai Kholil itu, menjadi Kiai yang sangat alim, yang memimpin sebuah pondok pesantren besar di Jawa Timur. Kiai beruntung itu bernama Kiai Bahar, seorang Kiai besar dengan ribuan santri yang diasuhnya di Pondok Pesantren Sido Giri, Pasuruan, Jawa Timur.

14. Kedatangan Habib
Suatu hari menjelang sholat magrib. Seperti biasanya Kiai Kholil mengimami jamaah sholat bersama
para santri Kedemangan. Bersamaan dengan Kiai Kholil mengimami sholat, tiba-tiba kedatangan
tamu berbangsa Arab. Orang Madura menyebutnya Habib. Seusai melaksanakan sholat, Kiai Kholil menemui tamunya, termasuk orang Arab yang baru datang itu. Sebagai orang Arab yang mengetahui kefasihan Bahasa Arab. Habib menghampiri Kiai Kholil seraya berucap ; "Kiai, bacaan Al-Fatihah antum (anda) kurang fasih" tegur Habib.
Setelah berbasa-basi beberapa saat. Habib dipersilahkan mengambil wudlu untuk melaksanakan sholat magrib. Tempat wudlu ada di sebelah masjid itu. Silahkan ambil wudlu di sana ucap Kiai sambil menunjukkan arah tempat wudlu. Baru saja selesai wudlu, tiba-tiba sang Habib dikejutkan dengan munculnya macan tutul. Habib terkejut dan berteriak dengan bahasa Arabnya, yang fasih untuk mengusir macan tutul yang makin mendekat itu. Meskipun Habib mengucapkan Bahasa Arab sangat fasih untuk mengusir macan tutul, namun macan itu tidak pergi juga. Mendengar ribut-ribut di sekitar tempat wudlu Kiai Kholil datang menghampiri. Melihat ada macan yang tampaknya penyebab keributan itu, Kiai Kholil mengucapkan sepatah dua patah kata yang kurang fasih. Anehnya, sang macan yang mendengar kalimat yang dilontarkan Kiai Kholil yang nampaknya kurang fasih itu, macan tutul bergegas menjauh. Dengan kejadian ini, Habib paham bahwa sebetulnya Kiai Kholil bermaksud memberi pelajaran kepada dirinya, bahwa suatu ungkapan bukan terletak antara fasih dan tidak fasih, melainkan sejauh mana penghayatan makna dalam ungkapan itu.

15. Berselisih 
Suatu Ketika Habib Jindan bin Salim berselisih pendapat dengan seorang ulama, manakah pendapat
yang paling sahih dalam ayat ‘Maliki yaumiddin’, maliki-nya dibaca ‘maaliki’ (dengan memakai alif setelah mim), ataukah ‘maliki’ (tanpa alif).Setelah berdebat tidak ada titik temu.
Akhirnya sepakat untuk sama-sama datang ke Kiyahi Keramat; Kiyai Kholil bangkalan. Ketika itu Kiyahi yang jadi maha guru para kiyahi pulau Jawa itu sedang duduk didalam mushala, saat rombongan Habib Jindan sudah dekat ke Mushola sontak saja kiyai Kholil berteriak. "Maaliki yaumiddin ya Habib, Maaliki yaumiddin Habib", teriak Kiyahi Kholil bangkalan menyambut
kedatangan Habib Jindan. Tentu saja dengan ucapan selamat datang yang aneh itu, sang Habib tak perlu bersusah payah menceritakan soal sengketa Maliki yaumiddin ataukah maaliki yaumiddin itu. Demikian cerita Habib Lutfi bin Yahya ketika menjelaskan perbendaan pendapat ulama dalam bacaan ayat itu pada Tafsir Thabari.

16. Didatangi Tamu 
Di Bangkalan Madura, hidup sepasang suami-isteri yang cukup bahagia. Pada suatu hari, sang
suami berkata kepada isterinya. “Bu, saya ingin sekali sowan (berkunjung) ke Kyai Kholil,”
katanya pada suatu pagi. “Itu bagus sekali Pak, tetapi apa yang akan kita bawa sebagai oleh-oleh kepada Kyai Kholil, kita tidak mempunyai apa-apa kecuali sebuah bentul,” jawab isterinya.
“Tidak apa-apa, bentul itu saja yang kita bawa. Asalkan kita ikhlas, Insya Allah akan diterima,”
tegas sang suami meyakinkan isterinya. Maka berangkatlah suami isteri tersebut ke Kyai Kholil. Dengan berbekal tawakkal dan sebuah bentul, mereka yakin akan diterima Kyai Kholil dengan baik. Bentul adalah makanan sangat sederhana sejenis talas.
Sesampainya di kediaman Kyai Kholil kedatangannya sudah ditunggu. Mereka disambut dengan hangat. “Kyai, saya tidak membawa apa-apa, hanya sebuah bentul ini yang bisa kami haturkan untuk Kyai.” ucap sang suami rada malu-malu. “Wah kebetulan, saya memang ingin makan bentul,” jawab Kyai Kholil menghibur.
Kemudian Kyai Kholil memanggil beberapa santri dan menyuruhnya untuk merebus bentul yang baru diterimanya itu. Tak lama setelah itu, santri datang membawa bentul yang sudah direbus itu. Kyai Kholil kelihatan sangat senang dan suka terhadap bentul itu, lalu dimakannya sampai habis. Suami-isteri yang sowan ke Kyai Kholil itu merasa senang, sebab apa yang dikhawatirkan selama ini menjadi kegembiraan.
Beberapa hari kemudian, suami-isteri itu ingin sowan kembali ke kyai Kholil. Masih segar di ingatan suami isteri itu akan kesukaan Kyai Kholil. Kali ini, tidak seperti terdahulu. Mereka membawa oleh-oleh bentul sebanyak-banyaknya dengan harapan Kyai Kholil sangat senang menerimanya. Maka berangkatlah suami isteri tersebut ke ulama karismatik itu.
Tidak seperti dahulu, dugaan mereka meleset. Mereka disambut dingin. Begitu juga dengan oleh- oleh yang banyak itu. Kyai Kholil tidak menerima oleh-olehnya dan disuruh bawa pulang kembali. Pada saat mereka pulang disadarinya apa yang telah mereka lakukan selama ini. Ternyata, oleh-oleh bentul yang pertama diniatkan semata-mata karena keikhlasan dan tawakkal kepada Allah,
sedangkan sowan yang kedua tidak dilanda ikhlas, tetapi rasa pamrih. Mereka meyakini atas
kekuatannya sendiri dan merasa dirinya mampu membawa oleh-oleh kepada kyai. Dan itu sangat
tidak disukai Kyai Kholil.

17. Hanya disuruh Perbanyak Baca Istighfar
Suatu hari Kyai Kholil kedatangan tiga tamu yang menghadap secara bersamaan. Sang kyai
bertanya kepada tamu yang pertama: “Sampeyan ada keperluan apa?” 
“Saya pedagang, Kyai. Tetapi hasil tidak didapat, malah rugi terus-menerus,” ucap tamu pertama. Beberapa saat Kyai Kholil menjawab, “Jika kamu ingin berhasil dalam berdagang, perbanyak baca istighfar,” pesan kyai mantap.
Kemudian kyai bertanya kepada tamu kedua:“Sampeyan ada keperluan apa?” 
“Saya sudah berkeluarga selama 18 tahun, tapi sampai saat ini masih belum diberi keturunan,” kata tamu kedua. Setelah memandang kepada tamunya itu, Kyai Kholil menjawab,
“Jika kamu ingin punya keturunan, perbanyak baca istighfar,” tandas kyai.
Kini, tiba giliran pada tamu yang ketiga. Kyai juga bertanya, “Sampeyan ada keperluan apa?”
“Saya usaha tani, Kyai. Namun, makin hari hutang saya makin banyak, sehingga tak mampu
membayarnya, ” ucap tamu yang ketiga, dengan raut muka serius. “Jika kamu ingin berhasil
dan mampu melunasi hutangmu, perbanyak baca istighfar,” pesan kyai kepada tamu yang
terakhir.
Berapa murid Kyai Kholil yang melihat peristiwa itu merasa heran. Masalah yang berbeda, tapi
dengan jawaban yang sama, resep yang sama, yaitu menyuruh memperbanyak membaca istighfar. Kyai Kholil mengetahui keheranan para santri. Setelah tamunya pulang, maka dipanggillah para santri yang penuh tanda tanya itu. Lalu, Kyai Kholil membacakan al-Qur’an Surat Nuh ayat 10-12. Mendengar jawaban kyai ini, para santri mengerti bahwa jawaban itu memang merupakan janji Allah bagi siapa yang memperbanyak baca istighfar. Memang benar. Tak lama setelah kejadian itu, ketiga tamunya semuanya berhasil apa yang dihajatkan.


#Ketika anda tidak sampai kehadirat-Nya sudah pasti anda sangat heran dengan ucapan orang-orang yang sudah bermakrifat, bisa berjumpa dengan Malaikat, berjumpa dengan Rasulullah SAW dan melihat Allah SWT, dan anda menganggap itu sebuah kebohongan dan sudah pasti anda mengumpulkan lagi puluhan bahkan ratusan dalil untuk membantah ucapan para ahli makrifat tersebut dengan dalil yang menurut anda sudah benar, padahal kadangkala dalil yang anda berikan justru sangat mendukung ucapan para Ahli Makrifat cuma sayangnya matahati anda dibutakan oleh hawa nafsu, dalam Al-Qur’an disebuat Khatamallahu ‘ala Qulubihim (Tertutup mata hati mereka) itulah hijab yang menghalangi anda menuju Tuhan.

-Salam Ta’dzim-

Friday, November 11, 2016

RASULULLAH JAMINANKU

Kisah ini dari penggalan pidato Syeikh Husna Syarif, salah seorang ulama besar di Mesir.

Sebuah kisah tentang seseorang yang terbelit hutang piutang, yang hidup dalam tumpukan hutang ditengah kubangan kemiskinan.

Seorang lelaki yang dulunya kaya raya lalu jatuh bangkrut, sehingga mempunyai hutang yang besar.
setiap harinya, rumahnya penuh orang yang menagih hutang, Hingga pada suatu hari ia pergi ketempat salah seorang saudagar kaya.

Sudah bukan cerita baru, kedatangannya untuk meminjam uang pula. Ia meminjam uang sebanyak 500 dinar. Saking terkenalnya orang ini banyak hutang sampai-sampai saudagar ini bertanya, "kira-kira kapan anda akan melunasi pinjaman ini?"
"Minggu depan tuan..." jawabnya singkat.
Pada akhirnya ia pulang dengan 500 dinar digenggamannya. Jumlah segitu ia bayarkan kepada orang-orang yang setiap hari datang menagih hutang dan dari 500 dinar yang ia peroleh itu tidak tersisa sama sekali.

Hari demi hari ia bertambah sulit dan terpuruk kondisi ekonominya hingga tempo pembayaran hutangnya pun telah tiba. Saudagar itupun mendatangi rumah si miskin itu dan mengatakan " Tempo hutang anda telah tiba ".
si miskin dengan suara lirih menjawab : "Demi Allah saya sedang tak punya apa-apa."

Saudagar merasa geram kepada si miskin dan mengadukannya ke pengadilan, dan membawanya ke hakim. Setibanya di pengadilan, si hakim bertanya : "mengapa anda tidak membayar hutang anda ?"
Lagi-lagi si miskin menjawab : "Demi Allah saya tak punya apa-apa tuan."

Karena merasa ini adalah kesalahan si miskin maka hakim memvonisnya dengan hukuman penjara sampai ia melunasi hutangnya. Kemudian si miskin bangkit dan berkata : "Wahai tuan hakim, berilah saya waktu untuk hari ini saja. Saya hendak pulang ke rumah untuk berjumpa keluarga dan mengabarkan hukuman ini sekalian berpamitan dengan mereka, baru kemudian saya akan kembali untuk dipenjara."

Hakim menyahuti si miskin dengan mengatakan : "Bagaimana mungkin, apa jaminanmu bakal kembali besok, sementara aku telah memvonismu hukuman penjara ?"

Lelaki itu terdiam, tapi seolah mendapat ilham di benaknya. 
"Rasulullah jaminanku, wahai tuan hakim, bersaksilah untukku jika besok aku tidak datang maka aku bukanlah termasuk umat Rasulullah."
Si hakim tersentak diam dan tersentuh hatinya, ia sadar betapa agungnya Rasulullah....
Kemudian si hakim menunda hukuman penjara untuknya hingga esok.

Sesampainya di rumah, si miskin menghabarkan kondisinya kepada istrinya bahwa esok akan dipenjara. Lalu istrinya bertanya : "Wahai suamiku lantas apa mengapa sekarang engkau bebas ?"
"Aku menaruh nama Rasulullah sebagai jaminanku", begitu jawab suaminya.
Mata istrinyapun berkaca-kaca dan air matanya menetes sembari berkata pada suaminya : "Selama Rasulullah masih menjadi jaminan bagimu maka mari kita bershalawat."
Dan merekapun bershalawat kepada Rasulullah...

Sampai akhirnya mereka tertidur, Dalam tidurnya mereka mimpi melihat Rasulullah SAW,
Rasulullah memanggil si miskin itu : "Hai fulan jika besok telah terbit fajar maka pergilah ke tempat ulama fulan dan sampaikan kepadanya bahwa aku menitipkan salam untuknya dan suruh ia menyelesaikan hutang piutangmu. Jika ulama itu tidak percaya sampaikan 2 bukti ini."

Kemudian si miskin itu bertanya : "Apa 2 bukti itu wahai Rasulullah ?"
Rasul menjawab : "Katakan padanya bahwa dimalam pertama ia sudah membaca shalawat untukku 1000 x dan dimalam terakhir dia telah ragu dalam jumlah bilangan shalawat yang dibacanya.
Sampaikan padanya bahwa ia telah menyempurnakan shalawatnya."

Seketika si miskin terbangun dan pada pagi harinya ia pergi menuju si ulama fulan dan berjumpa dengannya. Tanpa buang waktu si miskin menyampaikan apa yang ia lihat dalam mimpinya. 
"Wahai tuan ulama, Rasulullah telah menitipkan salam untuk anda dan meminta anda agar menyelesaikan hutang piutangku."

Sang ulama bertanya : "Apa bukti dari kebenaran mimpimu itu tentang yang anda sampaikan ?"
Si miskin itu memyampaikan kedua bukti sebagaimana yang dikatakan Rasulullah SAW dalam mimpinya. "Dimalam pertama anda telah bershalawat kepada Rasulullah sebanyak 1000 x dan dimalam terakhir anda telah ragu dengan jumlah bilangan shalawat yang telah anda baca. Rasulullah mengatakan bahwa hitungan shalawat anda telah sempurna, dan shalawat anda telah diterima oleh Rasulallah".

Mendengar hal itu spontan ulama itu menangis karena berita gembira shalawatnya diterima Rasulallah SAW. Ulama tersebut memberi uang 500 dinar dari baitul mal (untuk melunasi hutang si miskin) dan 2500 dari harta pribadinya untuk si miskin sebagai tanda terima kasih atas berita gembira yang disampaikan.

Tidak berapa lama kemudian si miskin bergegas pergi ke hakim untuk menyelesaikan perkaranya. Sesampainya ditempat hakim, tiba-tiba si hakim bergerak kearah si miskin seolah ia rindu ingin melihatnya dan memanggilnya seraya berucap :
"Kemarilah, berkat anda aku mimpi berjumpa Rasulullah SAW. Rasulullah telah berpesan kepadaku bahwa jika aku menyelesaikan hutangmu maka kelak Rasulullah akan menyelesaikan perkaraku di akhirat. Ini uang 500 dinar untuk lunasi hutang2 anda".

Belum sampai selesai dia bicara, tiba-tiba pintu ada yang mengetuk. Ketika dibuka, ternyata saudagar penagih hutang yang datang. Dia langsung memeluk si miskin dan menciumnya sembari berucap :
"Berkat anda saya mimpi berjumpa Rasulullah. Beliau berkata padaku jika aku merelakan hutangmu maka kelak di hari kiamat Rasulullah akan merelakan segala tanggunganku dan ini uang 500 dinar hadiah untuk anda dan hutang anda lunas".

Subhanallah...

Kisah ini adalah sekelumit bukti betapa Rasulullah SAW selalu memperhatikan urusan umatnya.
Shalawat menghilangkan kegundahan dan keresahan bahkan bencana, semata mata karena beliaulah yang sumber rahmat bagi umatnya.

"Allahumma shalli alaa sayyidinaa Muhammad wa'alaa ali sayyidinaa Muhammad"