This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Laman

Showing posts with label Education. Show all posts
Showing posts with label Education. Show all posts

Wednesday, April 12, 2023

Teaching Comprehension and Word Identification Strategies

Good morning all,

In this opportunity, I would like to focus on “READING” theories, approaches, strategies, ideas, etc.



Why Teach Strategies?

Effective teachers have an understanding of how reading occurs and are able to plan learning experiences and instruction that support students to become more successful readers. Teachers play an important role in ensuring that all students build up a bank of knowledge that can be accessed during the reading process.

Media Pembelajaran Kreatif


Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim kepada penerima sehingga bisa merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat pembelajaran.

Sedangkan kreatif artinya menciptakan sesuatu yang berbeda dari yang lain atau menghubungkan hal-hal yang tadinya tidak berhubungan. Kreatif artinya adalah sebuah gagasan terhadap konsep dan rencana untuk kemajuan dalam memecahkan masalah-masalah sosial yang sedang berkembang.

Sementara dalam proses belajar, media pembelajaran kreatif merupakan hal penting agar murid atau pelajar bisa lebih mudah memahami materi yang dijelaskan.

Saturday, April 11, 2020

BELAJAR DI RUMAH SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PENYEBARAN VIRUS COVID-19

Oleh: Ni’matuz Zahroh, M.Pd
MTsN 5 Jombang
Email: anik.zahroh@gmail.com

PENDAHULUAN

Dunia pendidikan di Indonesia sedang diuji dengan tantangan untuk tetap eksis dan memberikan pelayanan terbaiknya kepada peserta didik di tengah intaian virus Covid- 19 saat ini. Penyebaran virus Covid- 19 yang semakin merajalela di indonesia, menyebabkan pemerintah harus melakukan langkah antisipatif, agar penyebaran virus ini bisa dikendalikan dan tidak semakin banyak yang tertular. Langkah antisipatif yang harus ditempuh diantaranya adalah mengurangi aktivitas penduduk indonesia diluar rumah, termasuk para pelajar.

Dalam rangka menindaklanjuti keputusan Presiden RI Nomor 07 tahun 2020 dan instruksi Gubernur Jawa Timur terkait peningkatan kewaspadaan terhadap virus covid-19, maka Bupati Jombang mengeluarkan instruksi Bupati Jombang Nomor 420 tahun 2020 terkait hal yang sama. Dalam instruksi tersebut, Bupati Jombang meminta kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa mulai tanggal 17 Maret sampai dengan tanggal 30 Maret 2020 semua peserta didik belajar di rumah melalui metode jaringan online/ pemberian penugasan kecuali bagi siswa yang sedang ujian nasional/ujian Sekolah/Madrasah tetap berlangsung sesuai jadwal.

Kebijakan tersebut tentu saja tidak mudah untuk diimplementasikan. Disamping karena waktunya yang mendadak, tidak ada persiapan dan pembelakalan sebelumnya, juga karena melaksanakan pembelajaran jarak jauh itu juga tidak mudah. Harus ada persiapan fasilitas dan kompetensi guru, serta kemampuan siswa untuk mengaksesnya. Disamping itu, orangtua juga harus memahami bagaimana metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru serta bisa menerapkannya dalam mendampingi anak- anak mereka di rumah.

Kebijakan belajar di rumah yang sementara dilakukan dalam waktu dua minggu ini, bisa terjadi kemungkinan akan diperpanjang, menyesuaikan kondisi yang ada. Di sisi lain, para peserta didik juga harus segera mempersiapkan diri menghadapi ujian kenaikan kelas maupun kelulusan bagi siswa kelas akhir. Oleh karena itu, sistem pembelajaran di rumah ini harus dilakukan se efektif mungkin, tidak menyimpang dari kurikulum yang sudah diterapkan. Untuk bisa dilaksanakan secara efektif,  maka kerjasama  dan peran serta stakeholders pendidikan harus dimaksimalkan, meski tidak harus melalui tatap muka dengan guru dan siswa.

METODE BELAJAR DI RUMAH

Terkait dihentikannya proses belajar tatap muka di sekolah demi mencegah penyebaran virus corona selama dua pekan, guru dituntut untuk aktif dan kreatif dalam menjalankan metode mengajar jarak jauh agar peserta didik tidak ketinggalan pelajaran. Hal itu dikarenakan dalam waktu dekat ujian tengah menanti peserta didik kita, baik ujian kenaikan kelas maupun ujian kelulusan untuk siswa kelas akhir.

Belajar di rumah bisa dengan berbagai metode. Guru atau sekolah bisa memilih metode yang sesuai dengan kemampuan guru, kondisi siswa maupun ketersediaaan sarana yang dimiliki oleh guru maupun  siswa di rumah. Metode tersebut antara lain;

Sistem Pembelajaran Daring (SPADA)
Sistem pembelajaran daring (SPADA) adalah implementasi pembelajaran jarak jauh untuk meningkatkan pemerataan akses terhadap pembelajaran yang bermutu. Semula Daring diperuntukkan untuk mahasiswa di perguruan tinggi. Namun seiring dengan kasus Covid-19 yang terus berkembang, maka Daring juga bisa digunakan untuk siswa pada sekolah dalam berbagai jenjang. Pemerintah mendapatkan bantuan gratis pengajaran secara daring ini dari berbagai aplikasi pendidikan. Bantuan pengajaran gratis tersebut didapatkan dari Ruang Guru, Zenius, Google, Microsoft, Quipper, Sekolahmu dan Kelas Pintar.

Namun sistem pembelajaran daring yang diinstruksikan secara mendadak ini tidak semua guru dan siswa bisa mengikutinya. Sistem Daring juga menimbulkan banyak kendala, terutama di kalangan pengajar dan siswa sekolah dasar yang belum terbiasa dengan metode ini. Apalagi belum ada panduan dan arahan khusus untuk melaksanakan metode pembelajaran jarak jauh dengan sistem daring ini.

Pemberian Tugas dan Lembar Kerja
Selain dengan sistem daring diatas, belajar di rumah juga bisa dengan metode penugasan dan mengerjakan lembar kerja. metode ini bisa dilakukan apabila guru atau siswa tidak memiliki kemampuan yang memadai dalam melaksanakan metode daring. atau bisa jadi, guru atau siswa memiliki kemampuan untuk melakukannya, akan tetapi fasilitas tidak mendukung. fasilitas yang dimaksud misalnya jaringan internet, hp yang bisa digunakan untuk daring, atau lainnya.

Metode ini dilakukan dengan  memberikan tugas kepada siswa dalam bentuk perintah secara lisan maupun tulisan kepada siswa. lalu siswa melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru dan mengumpulkannya, baik secara langsung maupun melalui surat elektronik (email).

SUKA DUKA SELAMA BELAJAR DI RUMAH

Saat diberlakukan Learning From Home (LFH) dan Work From Home (WFH), saya sangat antusias dan semangat mempersiapkannya. Pasalnya saya bisa menerapkan skill TIK dan beberapa aplikasi pembelajaran online yang saya terima ketika mengikuti pelatihan online gratis. Namun dibalik keantusiasan itu, saya juga gelisah dengan kondisi murid-murid saya. Mereka memiliki kemampuan menengah kebawah (IQ yang rendah) dan kondisi perekonomian orangtua yang rata-rata menengah kebawah. Tentu saja hal itu akan mempengaruhi berjalan tidaknya pembelajaran jarak jauh (PJJ). Dalam mengefektifkan belajar di rumah, tidak hanya membutuhkan peran saya sebagai gurunya saja. Seluruh stakehorders pendidikan harus ikut serta terlibat dalam mengefektifkan instruksi belajar di rumah ini, dan salah satu yang paling berperan adalah orangtua.

Pada minggu pertama belajar di rumah, madrasah belum menyiapkan jadwal pembelajaran jarak jauh (PJJ). Penugasan kepada siswa hanya satu dan sama untuk semua jenjang, kelas VII, VIII, dan IX. Karena sekolah belum mempersiapkan daring yang akan diterapkan untuk para siswa. Tugasnya adalah menulis 2 Cerpen dan 3 Puisi. Tugas harus dikumpulkan di wali kelas masing-masing dalam bentuk photo grid atau kolase dan mereka harus mengumpulkannya melalui WhatsApp. Tugas minggu pertama 95% tuntas, karena hampir semua siswa mempunyai WhatsApp.

Minggu kedua masa belajar di rumah, madrasah membuat jadwal khusus PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Guru mata pelajaran menyampaikan tugasnya melalui wali kelas masing-masing. Betapa sibuknya seorang guru yang sekaligus sebagai wali kelas, harus menyiapkan tugas untuk mapel yang diampu sekaligus ribet dengan penyampaian tugas-tugas mapel lain. Ketika saya menyampaikan tugas kepada siswa, pasti ada siswa yang belum paham dengan tugas-tugasnya. Saya sampai pusing dengan banyaknya siswa yang japri satu-satu, padahal sudah dibuatkan WhatsApp Group (WAG) sebagai sarana komunikasi. Ingin mengadakan video conference (VC) untuk bisa menjelaskan secara langsung, namun para siswa tidak mengerti dan memahami aplikasinya. Tugas-tugas yang diberikan tidak bisa 100% tuntas. Dalam satu kelas, selalu saja ada siswa yang tidak mengerjakan tugasnya dengan berbagai alasan dan kendala; tidak punya HP, tidak punya paketan data, sinyal yang lemot, bahkan sampai anak-anak yang gagal mendapatkan Wifi yang mereka beri julukan Pejuang Sinyal dan Wifi.

Kondisi perkembangan virus Covid-19 di Jombang semakin parah. Hal itu membuat pemerintah daerah menetapkan Jombang termasuk zona merah. Dalam masa darurat Covid-19, dinas pendidikan mengeluarkan edaran perpanjangan masa belajar di rumah sampai 22 April 2020. Ketika saya menyampaikan edaran ini kepada pasa siswa, respon mereka sungguh diluar dugaan. Mereka mengeluh sudah capek mengerjakan tugas-tugas secara online. Mereka merasa jenuh berlama-lama di rumah dan tidak bisa kemana-mana. Mereka sudah rindu akan semua hal tentang sekolah; kangen jajan rame-rame di kantin sekolah, kangen bikin mading kelas, kangen mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dan masih banyak hal lain yang mereka rindukan.

Saat ini, saya merasakan bahwa pembelajaran jarak jauh (belajar daring) kurang efektif diterapkan untuk murid-murid saya. Awalnya mereka sangat senang dan antusias menyambut masa belajar di rumah karena “sekolah libur”, namun belakangan mereka mengeluh karena merasa bahwa belajar di sekolah lebih menyenangkan dari apa yang mereka alami saat ini. Namun begitu, ada beberapa hikmah dan manfaat untuk siswa. Mereka bisa bertanggungjawab akan tugas-tugasnya, bisa bereksplorasi di dunia maya, dan lebih kreatif. Mereka lebih bijak dalam menggunakan gadget, dimana fungsi HP tidak hanya untuk main games dan WA-an saja, tetapi bisa memanfaatkan beberapa aplikasi belajar. Disamping itu, kuota paket data sangat dibutuhkan dan mempengaruhi lancar tidaknya pembelajaran jarak jauh, baik untuk guru dan siswa.

PENUTUP

Instruksi belajar di rumah akan efektif apabila didukung oleh seluruh stakeholders pendidikan, baik guru, orangtua siswa, maupun kepala sekolah. Efektif artinya berjalan sesuai dengan program, relevan dengan kompetensi, serta mengacu pada keberlanjutan kurikulum di sekolah. Untuk tercapai efektivitas tersebut, maka masing- masing pihak harus melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Semoga bencana virus corona segera berakhir dan proses belajar mengajar di sekolah/madrasah bisa berjalan normal seperti sedia kala.

DAFTAR PUSTAKA

Iskandar Agung, dkk. 2011. Pendidikan Membangun Karakter Bangsa. Jakarta: Bestari Buana Murni.

Instruksi Bupati Jombang Nomor 420 tahun 2020 terkait peningkatan kewaspadaan terhadap virus covid-19.

Keputusan Presiden RI Nomor 07 tahun 2020 dan instruksi Gubernur Jawa Timur terkait peningkatan kewaspadaan terhadap virus covid-19.

Lampiran Tugas-tugas siswa:


Sunday, March 29, 2020

Panduan Pembelajaran Jarak Jauh Bagi Guru di Situasi Wabah Virus Corona

Memanusiakan Hubungan

Anjuran:
1. Lakukan pengumpulan informasi terlebih dahulu mengenai kesiapan orang tua dalam mendampingi murid melakukan pembelajaran jarak jauh
2. Membangun kesepakatan dengan orangtua terkait cara pengerjaan tugas murid, jadwal dan durasi konferensi guru - orangtua dan refleksi proses belajar
3. Menyiapkan aktivitas dan tugas belajar yang memadukan tujuan kurikulum, minat murid dan isu yang sedang hangat dibicarakan.
4. Memperkirakan durasi pengerjaan tugas yang akan diberikan. Pastikan durasinya maksimal 80% dari jam belajar normal. 
5. Sediakan waktu berbincang bebas dengan orang tua dan murid untuk mendapatkan gambaran kondisi yang mereka alami.

Larangan:
1. Membuat aturan dan tugas yang tidak memahami kondisi murid dan orang tua
2. Memaksakan tugas harus dikerjakan dengan kriteria dan durasi kecepatan yang sama untuk semua murid.

Memahami Konsep

Anjuran:
1. Jelaskan terlebih dahulu kepada orang tua khususnya pada kelas kecil tentang tujuan dan proses belajar jarak jauh dan penggunaan aplikasi atau situs melalui video tutorial.
2. Sediakan pertanyaan terbuka pada instruksi penugasan yang memfasilitasi murid untuk mengekspresikan pendapatnya.
3. Berilah tugas yang terkait dengan lingkungan rumah pada kelas kecil dan terkait dengan persoalan yang sedang hangat dibicarakan.

Larangan:
1. Hindari memberikan tugas sekedar untuk latihan soal atau pengerjaan LKS, tanpa disertai diskusi dan refleksi.
2. Hindari memberi tugas yang meminta murid hanya memindahkan materi dari buku teks ke lembar tugas.

Membangun Keberlanjutan

Anjuran:
1. Membuat panduan tugas yang rinci namun tidak mendikte agar orang tua /murid memahami instruksi namun tidak terkekang.
2. Pastikan melakukan refleksi berkala sebagai titik periksa kemajuan pengerjaan tugas. Sepakati waktunya dengan orang tua pada kelas kecil dan dengan murid pada kelas besar.
3. Pastikan memberi umpan balik pada setiap penugasan yang diberikan kepada murid. Pada kelas kecil, umpan balik bisa berupa kalimat penyemangat. Pada kelas besar, umpan balik perlu spesifik pada bagian tugas yang perlu diperbaiki.
4. Pastikan ada kriteria keberhasilan yang digunakan dalam penilaian dari setiap tugas yang diberikan. Pada kelas kecil, pastikan orang tua memahami kriteria keberhasilan itu. Pada kelas besar, diskusikan kriteria keberhasilan dengan murid.
5. Perbanyak asesmen formatif untuk membantu murid memahami kemampuan awalnya dan kebutuhan belajar berikutnya. Pada kelas kecil, asesmen formatif bisa berupa pertanyaan yang dapat dijawab dengan gambar atau ekspresi murid. Pada kelas besar, asesmen formatif yang sederhana (pilihan ganda), singkat (3 - 5 butir soal) dan hasilnya bisa langsung diketahui.

Larangan:
1. Dilarang memberi tugas tanpa memberi umpan balik kepada orang tua pada kelas kecil dan murid pada kelas besar
2. Memberikan ganjaran (reward) untuk keberhasilan murid mengerjakan tugas.

Memilih Tantangan

Anjuran:
1. Sediakan pilihan jam belajar. Pada kelas kecil, jam belajar perlu luwes menyesuaikan jam aktivitas orang tua. Pada kelas besar, sediakan pilihan jam belajar sesuai jam sekolah atau jam mengerjakan tugas.
2. Sediakan pilihan tugas. Beri kesempatan murid memilih tugas yang bisa dilakukannya, kemudian sepakati bersama orang tua. Anjuran ini semakin penting untuk murid berkebutuhan khusus.
3. Perlihatkan beberapa aktivitas dari sumber berbeda. Ajak murid memilih. Pastikan alat bahannya tersedia di rumah.
4. Kombinasikan aktivitas dengan diskusi atau bergerak, tidak hanya duduk dan menulis saja atau aktivitas bergerak saja.

Larangan:
1. Dilarang memberikan tugas yang terlalu mudah atau terlalu sulit bagi murid
2. Hanya memberikan tugas sesuai kurikulum, tanpa mengaitkan dengan lingkungan atau kehidupan sekitar

Memberdayakan Konteks

Anjuran:
1. Menyediakan tugas yang membuat murid dan orang tua merasa berkontribusi terhadap persoalan yang sedang hangat dibicarakan
2. Menyediakan tugas yang membuat murid bisa menerapkan kemampuannya pada         konteks sehari-hari atau lingkungan sekitar.
3. Gunakan sumber belajar yang dapat diakses oleh murid dan orangtua seperti sumber internet atau wawancara telepon/teks ke saudara/tetangga.

Larangan:
1. Memberi tugas yang mendorong murid berinteraksi dengan banyak orang di tengah situasi wabah Corona.
2. Memberi tugas hanya dari satu sumber atau buku teks semata.



Semoga bermanfaat!

Ketika Corona Merajalela, Orang Tua sebagai Guru di Rumah, dan Chemistry Keluarga Tercipta

Betapa dahsyat dan menakutkan, Corona. Perkasa di Wuhan, tempat kelahirannya, sampai ke daerah lain. Telah menciptakan “the power of panic.” Buktinya, mereka sangat resah. Tercipta rasa tidak nyaman, takut. Kemana-mana selalu waspada. Entah apa dan siapa yang harus diwaspadai. Semuanya ibaratkan berperang melawan yang ghaib. Satu sama lainnya saling waspada.
Corona telah menciptakan konsumtif. Hobi membeli dengan intensitas sering. Bahkan, bukan hanya sering, tetapi dalam jumlah besar. Yang dibeli berupa barang biasa. Sungguh konsumtif yang aneh. Biasanya konsumtif dalam bentuk materi fashion dan barang lux. Ini masker dan makanan instan. Konsumtif yang dipaksa. Jika tidak, rasa takut tidak terobati. Corona menghantui.
Di Indonesia, telah tercipta konsumtif terhadap masker. Faktanya, mereka beramai-ramai memborongnya. Laksana “bakul” meracang yang sedang “kulakan”. Sungguh kepanikan luar biasa. Panik takut terjangkit Corona. Maka, mulailah pencegahan dengan memakai masker. Supaya aman ketika kontak langsung dengan pengidapnya.
Pembelian besar-besaran masker membuat penjual kreatif. Mereka berusaha meraup keuntungan besar. Kapan lagi kalau tidak saat itu. Hukum ekonomi mereka terapkan. Permintaan banyak, maka harga naik berlipat ganda. Fenomena ini membuat pemerintah angkat bicara. Barangsiapa yang menjual masker di atas harga pasar, maka akan berurusan dengan hukum.
Setelah dua warga Indonesia asal depok positif Corona, pemerintah langsung bereaksi. Hal ini karena masyarakat panik. Tak disangka, ternyata Corona sampai juga di Indonesia. Yang awalnya reaksi biasa saja, akhirnya luar biasa. Bayang-bayang terjangkit Corona selalu menghantui. Sehingga permintaan masker melambung. Mereka beranggapan dengan memakai masker akan dapat mencegah terjangkit Corona. Cara termudah yang bisa diterapkan.
Terkini, Corona semakin meluas. Penanganannya semakin aktif. Pemerintah mencoba supaya masyarakat Indonesia tidak kontak langsung dengan penderitanya. Mereka lebih baik tinggal di rumah. Pemerintah menganjurkan itu. Seperti dikutip dari laman Kumparan.com bahwa Menpan RB mengijinkan PNS bekerja di rumah dalam beberapa hari ke depan. Keputusan ini sebagai antisipasi atas meluasnya virus Corona.
Tidak hanya PNS, anak sekolah juga belajar di rumah. Seperti dilansir dari laman liputan 6.com bahwa pemerintah kota dan kabupaten Bogor meliburkan sekolah mulai 16-28 Maret 2020. Siswa belajar di rumah. Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan virus Corona.  UNBK juga ditunda sampai waktu tak terhingga. Tidak hanya di Bogor, sejumlah daerah lain juga meliburkan sekolah. Misalnya, Pemerintah kota Bekasi juga meliburkan siswa. Untuk guru tetap masuk seperti biasa
Belajar di rumah meningatkan kepada home schooling. Dimana anak tidak belajar di sekolah, tetapi di rumah. Pengajar datang ke rumah. Namun, belajar di rumah karena efek Corona ini, orang tua bertindak sebagai guru. Mereka menggantikan guru di sekolah. Orang tua akan merasakan apa yang dirasakan guru. Sehingga yang selama ini tidak terima perlakuan guru kepada anaknya, entah itu karena teralu nakal melebihi batas kewajaran, atau hobi melanggar aturan yang tidak bisa ditolelir, maka sejak belajar di rumah masing-masing, akan merasakan betapa berat mendidik anak. Semoga efek Corona ini menjadi hikmah untuk orang tua masing-masing.
Pemerintah mengijinkan PNS bekerja di rumah selama beberapa hari ke depan. Sebuah momentum bergharga bagi orang tua. Terutama yang berada di kota-kota besar. Yang selama ini sibuk bekerja. Pagi-pagi berangkat, anak masih tidur. Larut malam pulang, anak sudah tidur. Jadi, manfaatkan waktu bekerja di rumah, untuk membuat Chemistry dengan keluarga. Apalagi anak juga belajar di rumah. Kasih sayang dan perhatian luapkan. Kalau tidak ada momen ini, kapan lagi. Ini momen langka. Orang tua dan anak sama-sama berada di rumah dalam beberapa hari ke depan. Semoga Chemistry keluarga bisa tercipta dengan baik.
Terkahir, ingat gaess! Selain kita berusaha mencegah terjangkitnya Virus Corona, kuatkan ibadah kepada Allah SWT. Karena Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa setiap penyakit ada obatnya. Jangan menjauh darinya. Allah SWT maha kuasa atas segala sesuatu yang terjadi di muka bumi. Virus Corona bisa teratasi hanya dengan berusaha, berdo’a, dan bertawakkal kepada Allah SWT. Tidak usah terlalu takut (panik) dan terlalu berani terhadap virus Corona.
Itu saja gaess!

Monday, January 20, 2020

Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru di Era Revolusi Industri 4.0

Kata "pedagogi" berasal dari Bahasa Yunani kuno (paidagōgeō) país: anak dan ági: membimbing; secara literal berarti "membimbing anak”). Ilmu pedagogi membahas masalah atau persoalan-persoalan dalam pendidikan dan kegiatan-kegiatan mendidik, antara lain seperti tujuan pendidikan, alat pendidikan, cara melaksanakan pendidikan, anak didik, pendidik dan sebagainya. Pedagogi  secara literal adalah seni dan ilmu pengetahuan tentang mendidik anak-anak dan sering digunakan sebagai sebuah sinonim untuk suatu pengajaran. Secara lebih tepatnya, pedagogi mewujudkan pendidikan yang berfokuskan guru.

Guru sebagai aktor utama proses pedagogik senantiasa perlu meningkatkan kompetensinya guna melaksanakan proses pembelajaran yang menarik yang dapat melibatkan siswa aktif selama proses pembelajaran. Terlebih lagi dalam era revolusi 4.0 saat ini, guru harus selalu update terhadap informasi yang demikian cepat terbagi melalui media online. Guru harus mampu memahami kebutuhan belajar siswa dan memanfaatkan alat dan sumber belajar yang tepat sehingga bisa menarik minat belajar siswa.

Secara fitrah, manusia belajar dengan cara dan gaya yang bervariasi. Diantara gaya belajar yang sudah populer dikenal dalam dunia pendidikan meliputi: (1) visual, (2) auditory, dan (3) kinestetik. Dalam pelaksanaan tugas-tugasnya, guru perlu memahami kondisi perkembangan anak didik. Peserta didik yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan sosial dan ekonomi yang berbeda cenderung memiliki cara dan gaya belajar yang bervariasi. Adanya gaya belajar yang berbeda-beda ini juga menyebabkan sikap siswa terhadap pembelajaran cukup bervariasi. Lebih lanjut, kasus-kasus atau permasalahan pembelajaran di kelas mengalami perkembangan yang semakin kompleks.

Oleh karena itu, guru harus meningkatkan kompetensi pedagogik agar dapat membantu siswa belajar dalam suasana nyaman dan tertib, menciptakan ruang kelas yang kondusif, serta menerapkan teknik/metode pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal.

Tugas makin berat kini disandang guru. Tidak hanya sebagai pendidik ilmu pengetahuan dan membentuk karakter luhur siswa. Guru kini juga menjadi fasilitator bagi peserta didik. Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat menuntut perubahan pola pikir guru. Bagi siswa, guru tidak cukup lagi hanya berdiri di depan kelas dan menjadi sumber utama ilmu pengetahuan selain buku.

Sejak revolusi industri generasi ketiga yang ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet, sumber ilmu pengetahuan sangat melimpah. Murid bisa mencari ilmu pengetahuan apapun dari beragam sumber. Di era revolusi industri generasi keempat atau Revolusi Industri 4.0 kini, informasi dan sumber pengetahuan lebih melimpah lagi. Sehingga, kondisinya tidak lagi mencari informasi tetapi memilih dan memilah informasi yang sangat berlimpah di tengah masyarakat.

Di sinilah, posisi guru sangat berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa agar siswa bisa memilih pengetahuan yang bermanfaat. Untuk menjadi fasilitator, tentu saja guru juga harus mengetahui perkembangan informasi yang berkembang di masyarakat.

Selama ini, hasil penilaian menunjukkan bahwa peserta didik Indonesia masih lemah dalam higher order thinking skill/HOTS; seperti menalar, menganalisis, dan mengevaluasi. Fakta tersebut mendorong upaya penguatan kemampuan penalaran peserta didik dalam pembelajaran. Peserta didik perlu dilatih dan dibiasakan mengerjakan soal-soal yang mendorong kemampuan berpikir kritis dan menghasilkan solusi, sebagai salah satu kecakapan untuk bersaing di abad ke-21.
Oleh karena itu perlu ada transformasi mendasar pada sistem pendidikan di negeri ini. Sistem yang dimaksud berupa pendidikan yang benar-benar memberikan ruang kreativitas bagi anak dengan para guru yang bisa menjadi motivator dalam meningkatkan kompetensi anak. Lembaga pendidikan seharusnya menggunakan metode belajar yang tidak hanya abstraksi membaca buku lalu ujian. Namun lebih memandang kepada persoalan nyata atau tematik dan itu membutuhkan paradigma yang berkembang di masa mendatang.
Kalau mau jujur, era revolusi industri 4.0 juga mengubah cara pandang tentang pendidikan. Perubahan yang dilakukan tidak hanya sekadar cara mengajar, tetapi jauh yang lebih esensial, yakni perubahan cara pandang terhadap konsep pendidikan setidaknya harus mampu menyiapkan anak didiknya menghadapi tiga hal. Pertama, menyiapkan anak untuk bisa bekerja yang pekerjaannya saat ini belum ada; Kedua, menyiapkan anak untuk bisa menyelesaikan masalah yang masalahnya saat ini belum muncul, dan Ketiga, menyiapkan anak untuk bisa menggunakan teknologi yang sekarang teknologinya belum ditemukan. Sungguh sebuah pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi dunia pendidikan. Untuk bisa menghadapi semua tantangan tersebut, syarat penting yang harus dipenuhi adalah bagaimana menyiapkan kualifikasi dan kompetensi guru yang berkualitas. Pasalnya, di era revolusi industri 4.0 profesi guru makin kompetitif.
Setidaknya terdapat lima kualifikasi dan kompetensi guru yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan era revolusi industri 4.0. Kelimanya meliputi: Pertama, Educational competence, kompetensi mendidik/ pembelajaran berbasis internet of thing sebagai basic skill di era ini; Kedua, Competence for technological commercialization, punya kompetensi membawa siswa memiliki sikap entrepreneurship (kewirausahaan) dengan teknologi atas hasil karya inovasi siswa; Ketiga, Competence in globalization, dunia tanpa sekat, tidak gagap terhadap berbagai budaya, kompetensi hybrid, yaitu global competence dan keunggulan memecahkan problem nasional; Keempat, Competence in future strategies, dunia mudah berubah dan berjalan cepat, sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan dan strateginya, dengan cara joint-lecture, joint-research, joint-resources, staff mobility dan rotasi, paham arah SDG’s, dan lain sebagainya. Kelima, Conselor competence, mengingat ke depan masalah anak bukan pada kesulitan memahami materi ajar, tapi lebih terkait masalah psikologis, stres akibat tekanan keadaan yang makin komplek dan berat.
Selain itu, pengembangan system cyber dalam dunia pendidikan akan memungkinkan guru dapat memberikan materi ajar yang mutakhir sesuai perkem­bangan zaman, karena langsung dapat menayangkan materi itu dalam ruang kelas secara online.  Dengan kata lain, pemba­ngunan atau penyediaan fasilitas jaringan cyber sebagai bagian integrasi dengan jaringan teknologi informatika di lembaga pendidikan akan mencip­takan berbagai kemudahan, baik dalam adminsitrasi akademik, non akademik, dan proses belajar me­ngajar, yang bermuara kepada pe­ningkatan kua­litas SDM output dari sebuah lembaga pendidikan.  Bila hal ini dapat terwujud secara me­rata di seluruh penjuru tanah air maka pendidik di Indonesia mampu memasuki pendidikan era revolusi Industri 4.0. Semoga!!!

Sunday, January 19, 2020

SPIRITUAL DI ATAS PENGETAHUAN

Mencuatnya protes terhadap pelaksanaan UN sebenarnya bukan hal yang baru. Setiap tahun, setiap pergantian Menteri isu UN tolak terima tetap menjadi hangat saat menjelang pelaksanaannya. Pemerintah memaksa UN meski dengan berbagai alasan semisal ukuran apa yang dapat dipakai untuk pemetaan sekolah?. Dominan guru menolak UN karena apa hanya 4 bidang studi saja yang paling penting untuk pemetaan? Untuk menentukan kualitas sekolah? Sementara ada 10 bidang studi lainnya yang juga diajarkan lebih dari 2 tahun? Apa sisa bidang studi UN tidak dianggap bidang studi penting?.

Sorotan terhadap nilai UN semakin mencuat negatif karena pendidikan Indonesia lebih mengutamakan pada pemenuhan sisi kognitif ketimbang sisi afektif siswa. Ukuran UN seolah menjadi pembeda mana sekolah yang memiliki kualitas, mana sekolah yang perlu dibenahi kualitasnya. Padahal guru selalu diwanti-wanti tidak sekedar mengajar, guru punya tanggungjawab moril memberikan penguatan sisi karakter siswa termasuk sisi spiritualitas.

Aspek Kompetensi Inti sepertinya hanya menjadi pelengkap di dokumen RPP saja, tanpa ada ukuran menilainya. Fokus kualitas dan evaluasi sepertinya hanya milik kompetensi dasar kognitif dan afektif. Sejatinya hasil belajar siswa merupakan sesuatu yang komprehensif, baik secara pengetahuan terlebih spiritual. Harus ada ukuran seseorang anak disebut memiliki sikap spiritual yang baik, karena dalam ajaran agama pun sisi spiritual derajatnya lebih tinggi dari sisi pengetahuan.

Guru jangan hanya mengeluhkan sikap anak yang nakal sementara ukuran penilaiannya tidak ada, tidak pernah diuji apalagi dianalisis sisi spiritual seorang anak sehingga layak dilabeli nakal atau tidak bermoral. Bisa jadi guru punya andil membuat sikap spiritual siswa semakin buruk karena sering melabeli siswa dan mencoba memberi tindakan istimewa bagi siswa yang baik.

Persepsi yang kurang tepat dalam keluarga maupun lembaga pendidikan bahwa proses pembelajaran hanya mengedepankan kecerdasan intelektual, tanpa mementingkan kecerdasan spiritual. Padahal pada saat ini sangat minim siswa yang menerapkan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari baik ketika ia masih di sekolah maupun setelah lulus dari lembaga pendidikan. Untuk itu, nilai-nilai spiritual seperti kesopanan, kejujuran, kedisiplinan dan sebagainya harus di terapkan kembali. Karena kecerdasan intelektual tidak akan sempurna jika tidak didampingi dengan kecerdasan spiritual.

Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa penilaian spiritual itu sangatlah penting untuk dilakukan dalam setiap pembelajaran dan tidak semata-mata dalam pembelajaran agama saja. Sehingga, jika setiap pembelajaran dapat menanamkan sikap spiritual yang baik, maka sangatlah mungkin kehidupan berbangsa dan bernegara kita akan lebih baik serta hal-hal yang jauh dari sikap spititual seperti kenakalan remaja, narkoba, bahkan korupsi akan hilang dari bumi negara tercinta kita Indonesia.

Amin....

Friday, October 19, 2018

WASIAT BERHARGA UNTUK GURU/USTADZ

Seri: Hari Santri Nasional

Disarikan dari buku: Gus Dur Sang Guru Bangsa


Semoga kita bisa melaksanakan Wasiat Gus Dur:

1. Hendaknya tidak mengambil cuti sakit ketika engkau tidak sakit sehingga tidak menggabungkan dua maksiat : kebohongan dan makan harta haram. Sesungguhnya pemotongan gaji dilandasi taqwa dan takut kepada Allah itu lebih baik dan lebih kekal.

2. Terimalah santri-santrimu dengan segala kesalahan mereka karena mereka bukan malaikat, bukan pula syaitan. Tidak ada alasan untuk lari dari meluruskan kesalahan-kesalahan itu karena kita adalah murabbi (pendidik) dan ini yang diharapkan dari kita.

3. Tunjukkan rasa hormat kita kepada santri (murid) yang ada di hadapan kita dengan cara menerangkan keutamaan mereka sebagai penuntut ilmu. Hal ini akan mendekatkan jarak kita dalam menuju hati mereka.

4. Ingatlah bahwa banyak di antara orang-orang besar menjadi besar lantaran satu kata dari seorang guru yang melejitkan mereka dan memantik cita mereka hingga menggapai puncak.

5. Perbagus cara interaksi kita dengan para santri (murid). Berapa banyak guru/ustadz yang mendapat doa dari santri setelah bertahun-tahun terlewati, atau setelah berada di liang kubur.

6. Semua mata pelajaran dapat dikaitkan dengan ajaran-ajaran Islam. Tinggal bagaimana kita mencari media yang tepat.

7. Setiap menit keterlambatan kita dalam memulai pelajaran atau keluar sebelum waktu selesai adalah hak santri/murid, ia akan mengambilnya pada hari penghitungan amal.

8. Berapa banyak guru yang menjadi sebab lurusnya arah berpikir kaum muda sehingga ia mendapatkan doa-doa tulus dan kebaikan yang mengalir. Ya Allah, tambahkan dan berkahi setiap guru yang kuat, bertanggung jawab, dan senantiasa berbuat baik.

9. Di depan kita ada generasi. Bangkitkan jiwa mereka, ajarkan cinta kepada ilmu, dan bangunkan semangat. Barangkali satu kata dari kita dapat membakar spirit dalam hatinya dan menjadi kebaikan untuk ummat.

10. Rasa takut santri/murid kita terhadap kita bukanlah pertanda keberhasilan dan keterampilan kita dalam menegakkan kedisiplinan. Itu hanya pertanda bahwa kita gagal dalam memerankan pendidikan. Pendidikan itu membawa ketegasan dan kasih sayang bukan dengan menakut-nakuti.

11. Syekh Utsaimin rahimahulloh membedakan antara pulpen inventaris kantor dan pulpen pribadi karena takut makan barang haram. Lantas bagaimana dengan orang yang menghalalkan sesuatu yang lebih berharga daripada tinta? Yaitu waktu!

12. Ikhlaskan niat utk Allah. Karena sesungguhnya kita sedang melakukan tugas para Nabi. Dan jika anda mengharap pahala dalam pekerjaan kita, maka setiap jam pada siang hari kita dalam timbangan kebaikan kita.

Semoga menjadi nasehat buat kita para pejuang Pendidikan.


Tuesday, November 7, 2017

Pendekatan-Pendekatan Pembelajaran dalam K13 Revisi

Pada pendekatan pembelajaran selain pendekatan saintifik, ada beberapa pendekatan lain yang dapat digunakan guru dalam proses pembelajaran, yaitu: pendekatan berbasis genre/teks (Genre Based Approach), pendekatan CLIL, dan pendekatan pendidikan matematika realistik (Realistic Mathematic Education/RME). Berikut uraian dari pendekatan-pendekatan tersebut.

1.         Pendekatan berbasis genre (Genre Based Approach)
Pendekatan ini merupakan pendekatan pembelajaran yang membantu peserta didik lebih kompeten berbahasa, mampu berkomunikasi melalui penguasaan keterampilan berbahasa diantaranya dengan kegiatan menyimak,  berbicara, membaca dan menulis.  Berikut uraian kegiatan pembelajaran berbasis Genre/Teks (Roses dan Martin, 2012).
a.       Membangun Konteks. Tahap ini merupakan langkah-langkah awal yang dilakukan guru bersama peserta didik untuk mengarahkan pemikiran ke dalam pokok persoalan yang akan dibahas pada setiap pelajaran.
Contoh pembelajaran pada tahap membangun konteks untuk matapelajaran Bahasa Inggris, yaitu:
Pendidik menyiapakan contoh-contoh teks report terkait teknologi yang akan dibahas, misalnya Electric Torch, Fan Ceiling, USB Flash Drive atau yang lainnya. Contoh teks dapat berupa teks autentik, teks modifikasi, teks adaptasi, teks buatan pendidik sendiri, atau teks yang diberikan oleh para ahli pendekatan genre-based yang relevan
b.  Menelaah Model/ Dekonstruksi teks. Tahap ini berisis tentang pembahasan teks yang diberikan sebagai model pembelajaran. Pembahasan diarahkan pada semua aspek kebahasaan yang membentuk teks itu secara keseluruhan. Pada tahap ini dikembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik melalui kegiatan membahas serta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya tidak tertera dalam teks, seperti siapa penulisnya, kepada siapa pesan dalam teks ditujukan, dimana teks tersebut dapat ditemukan, dalam konteks apa teks itu dipakai, apakah setiap teks atau setiap pernyataan yang ada dalam teks relevan dengan kehidupan peserta didik, mengapa, apakah setiap pernyataan yang ada dalam teks akan diterima oleh semua pembaca, apakah yang dikatakan dalam teks relevan dengan pengalaman peserta didik atau relevan dengan teks yang pernah dibaca sebelumnya oleh peserta didik terkait topik yang sama.
c.  Joint construction (latihan terbimbing). Pada tahapan ini, peserta didik berlatih menggunakan semua hal yang telah dipahaminya pada tahap sebelumnya. Peserta didik melewati tahap brainstorming, drafting, revising, editing, proofreading, dan publishing.
d.     Independent construction (unjuk kerja mandiri). Pada tahapan ini, peserta didik diberi kesempatan untuk menulis secara mandiri, dengan bimbingan guru yang minimal, hanya kalau diperlukan.

Setelah menulis teks secara mandiri, peserta didik juga dapat melakukan refleksi terkait apa yang telah ditulis atau yang dilakukan, atau apa yang telah dipelajari selama siklus pembelajaran, dan saat membandingkan teks yang mereka tulis dengan teks yang ditulis oleh temannya. Peserta didik juga dapat menceritakan kembali apa yang telah ditulisnya di depan kelas.

2.     Pendekatan CLIL (Content and Language Integrated Learning).
 Pendekatan ini merupakan pendekatan yang digunakan untuk memperkaya pembelajaran dengan prinsip: a) isi [konten] teks—berupa model atau tugas--bermuatan karakter dan pengembangan wawasan serta kepedulian sebagai warganegara dan sebagai warga dunia; b) unsur kebahasaan [komunikasi] menjadi unsur penting untuk menyatakan berbagai tujuan berbahasa dalam kehidupan; c) setiap jenis teks memiliki struktur berpikir [kognisi] yang berbeda-beda yang harus disadari agar komunikasi lebih efektif; dan d) budaya[kultur], berbahasa, berkomunikasi yang berhasil harus melibatkan etika, kesantunan berbahasa, budaya (antarbangsa, nasional, dan lokal).

3.     Pendekatan Contekstual Teaching and Learning (CTL)
CTL merupakan suatu proses pengajaran yang bertujuan untuk membantu peserta didik memahami materi pelajaran yang sedang mereka pelajari dengan menghubungkan pokok materi pelajaran dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Johnson, 2002: 24).


Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik (Realistic Mathematic Education/RME), merupakan merupakan teori pembelajaran matematika yang dikembangkan di negeri Belanda oleh Freudhenthal pada tahun 1973, dengan dua pandangan pentingnya yaitu mathematics must be connected to reality and mathematics as human activity. Karakteristik RME adalah menggunakan konteks “dunia nyata”, model-model, produksi, dan kontruksi peserta didik, interaktif dan keterkaitan (Treffers, 1991). 




#Materi disampaikan dalam Diklat Penyusunan RPP K13 Revisi dan Literasi yang diselenggarakan oleh MTs Negeri 5 (MTsN Bakalan Rayung) Jombang bekerjasama dengan BDK (Balai Diklat Keagamaan) Surabaya.
Rabu, 8 November 2017.

Monday, November 6, 2017

BILINGUAL EDUCATION IN AUSTRALIA

BILINGUAL EDUCATION IN AUSTRALIA
By: Ni’matuz Zahroh


Australian Bilingual Education
            Bilingual Education refers here to education in which more than one language is used as medium to teach non-language subjects. It will be discussed as three main types - “enrichment” bilingual education, whose purpose is to add on a second language; “educative” bilingual education, which uses students’ home language as medium to help them cope with their education; and “maintenance” bilingual education, which has as its purpose the maintenance of a language that students bring to school, usually a minority language.

The History of Bilingual Education in Australia
Australia in the Twenty-first Century is a nation with immigrants from many cultures. It is estimated that one in four Australians is foreign born, and one in twenty is from Asia. Linguistically, Australia is also diverse, with about 25% of the population coming from a language background other than English. Italian, Greek, Cantonese and Mandarin are the most common languages other than English spoken in the home (Miller, 2003). In addition, it is estimated that 200-250 Aboriginal languages are still spoken in Australia (Lo Bianco & Rhydwen, 2001).
In the 1970s, multiculturalism policies finally began to address the needs of linguistically diverse students in the schools. English as a Second Language (ESL) programs were offered to students, and some schools began programs in bilingual education. However, mirroring developments in the USA, Australia began to roll back support for bilingual education by the 1980s, and funding for ESL programs was cut. A discourse of mainstreaming began to guide federal policies (Miller, 2003). Though mainstreaming was championed as a way to limit the marginalization experienced by language learners, it also resulted in the loss of needed language support (Ozolins, 1993).

The implementation
In Australia, some schools teach bilingual programs which cater to children speaking languages other than English. Baldauf explains that these programs are now beginning to benefit from more government support. Bilingual education for Indigenous students, however, has only received intermittent official backing. In the Northern Territory, for example, bilingual programs for Indigenous students were begun with Federal Government support in the early 1970s but by December 1998 the Northern Territory Government had announced its decision to shift $3 million away from the 21 bilingual programs to a Territory-wide program teaching English as a second language. Within 12 months though the government had softened its position. Most bilingual programs were allowed to continue under the guise of two-way education. Then on 24 August 2005, the Minister for Employment, Education and Training announced that the government would be "revitalizing bi-lingual education" at 15 Community Education Centres: Alekerange, Angurugu, Borroloola, Gapuwiyak, Gunbalunya, Kalkaringi, Lajamanu, Maningrida, Milingimbi, Ramingining, Ngkurr, Shepherdson College, Numbulwar, Yirrkala and Yuendumu. This revitalisation is conceived as part of an effort aimed at "providing effective education from pre-school through to senior secondary at each of the Territory’s 15 Community Education Centres". As Harris & Devlin (1986) observe, “Aboriginal bilingual education in Australia represents much more than a range of education programs. It has been a measure of non-Aboriginal commitment to either assimilation or cultural pluralism”. In 2008 it again shifted with the government attempting to force the nine remaining bilingual schools to teach the first four hours of classes in English.
The bilingual programs in Australia are ran very similarly to those in the United States. The program is used from Pre-6 grades. Hones (2005) states that overall around 13 hours a week are spoken in the child's native language from grades Pre-4. Grades 5-6 use around 7.5 hours in a child's native language(p.16). To make this program successful, the teacher checks for comprehension along the way. I believe this method benefits the child in the strongest manner. They are able to become bilingual throughout their education. A teacher is able to monitor the student's comprehension levels and either use more or less of their native language until they are confortable to move to another level. In addition to learning a foreign language, the children are also becoming cultured by this process.

Why Australian Aboriginal Communities Wish to Retain Bilingual Education Programs
The three major reasons expressed by Australian Aboriginal communities over the years for why they want to retain their bilingual education programs can be summarized as follows.
1. It makes good educational sense for initial literacy to be taught to young children in their own first language, a language they actually understand, and for second language acquisition (in this case, English) to take place on the basis of that firm foundation. This also has important implications for the children's self-esteem and even their extended families' sense of self-worth.
2. With bilingual education programs, parents and relatives were actively involved in their children's education. Their very real fear is that English-only education will once again, like the bad old days of the Assimilation Policy, exclude families from close partnership with their children's education.
3. Many of the supporters of Indigenous bilingual education programs in Australia regard the current emphasis on a monolingual curriculum in English in Indigenous primary schools in the Northern Territory schools as a denial of the human rights of significant numbers of Aboriginal children.

The Lack of Appropriately Trained and Qualified TESOL Teachers
During the 25 years in which the Northern Territory's bilingual education programs were in place, there was a major flaw in terms of service delivery. This deficiency affected the English-only schools as much as it did the bilingual schools, and can be attributed to the service provider, the Northern Territory Government.
To this day, the lack of appropriately trained TESOL teachers affects the so-called English-only schools to the same extent that it affects students enrolled in the former bilingual schools. While these so-called English-only schools may have been officially classified as nonbilingual, they were and are in a very real sense bilingual school in that they still comprise classes of children who are multilingual and non-Standard English-speaking. In either case, the language needs of the children in those schools need to be taken into account, and that involves some level of acceptance of bilingualism, or, in some instances, multilingualism. In addition, in order to maximize their ability to effectively teach these children, if they are to be effective, TESOL teachers need to be schooled in the specifics of Indigenous Australian languages.
In 1999, after the announcement of the closure of the bilingual education programs, a government-sponsored review of Aboriginal education in the Northern Territory took place, led by Australian Federal Government Labor politician, Senator Bob Collins. The ensuing report (Northern Territory Department of Education, 1999) has become known as the Collins Review. It makes many recommendations regarding Aboriginal education in the Northern Territory. The Collins Review concedes that there is a very high level of support for bilingual education at the community level, but nevertheless fails to support the programs' continuation.
The Indigenous stakeholders affected by the closure of the bilingual education programs have stated clearly that they wish to retain these programs. Hence, the Collins Review's lack of endorsement of bilingual education shows a failure of political nerve, particularly in the context of the Northern Territory Department of Education's constant flow of rhetoric about family partnerships being fundamental to the success of Indigenous education.
To summarize, the Collins Review acknowledges that many Indigenous people feel passionate about their bilingual education programs and feel ownership of them in a way that they usually do not about English-only education. The review also accepts the body of statistically relevant evidence indicating that the majority of trained Indigenous teachers have come from bilingual schools and that academic results in many bilingual schools have been very good by comparison with the results in English-only schools. Despite this, the review fails to recommend the continuation of the bilingual education programs. Why?
Finally, there remains an unmet need for the Territory's Aboriginal schools to recruit, as a matter of policy, qualified TESOL teachers, to ensure the educational effectiveness of the instruction that Aboriginal-language-speaking children receive in English. At the time of writing, June 2001, 2 1/2 years after the axing of these special bilingual education programs, there has been neither a significant increase in the numbers of TESOL teachers employed by the education authority, nor any increase in the level of specialist language training provided to the Territory's predominantly white, monolingual teachers of Aboriginal-language-speaking children.
Instead, there is a prevailing mood of despondency and frustration among those committed to bilingual education for Aboriginal students. Those involved feel that they have no choice but to seek international support on this matter.


Reference
Northern Territory Department of Education. (1999). Learning lessons, An independent review of Indigenous education in the Northern Territory. Darwin, Australia: Government Printing Office of the Northern Territory.



















Monday, May 8, 2017

Perbedaan RPP K13 Revisi 2016 dan Revisi 2017

Apa yang baru dan menjadi pembeda RPP K13 Revisi 2016 dengan RPP K13 Revisi 2017?

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat tenaga pendidik harus memunculkan dan menginsert empat macam point yaitu PPK, Literasi, 4C, dan HOTS maka perlu kreatifitas tenaga pendidik untuk meraciknya menjadi RPP yang utuh.

A. Perbaikan atau revisinya antara lain:

1. Mengintergrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) didalam pembelajaran. Karakter yang diperkuat terutama 5 karakter, yaitu: religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas atau 7 Karakter untuk mapel IPS dari 18 Karakter prioritas.

2. Mengintegrasikan literasi dan menginsert literasi dalam RPP baik sebelum, sedang dan sesudah pembelajaran.

Pengertian Literasi dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Literasi dapat dijabarkan menjadi Literasi Dasar (Basic Literacy), Literasi Perpustakaan (Library Literacy), Literasi Media (Media Literacy), Literasi Teknologi (Technology Literacy), Literasi Visual (Visual Literacy).
Intinya Literasi adalah melek.

3. Keterampilan abad 21 atau diistilahkan dengan 4C (Creative, Critical thinking, Communicative, dan Collaborative);
Inilah yang sesungguhnya ingin kita tuju dengan K-13, bukan sekadar transfer materi. Tetapi pembentukan 4C.  Beberapa pakar menjelaskan pentingnya penguasaan 4C sebagai sarana meraih kesuksesan, khususnya di Abad 21, abad di mana dunia berkembang dengan sangat cepat dan dinamis. Penguasaan keterampilan abad 21 sangat penting, 4 C adalah  jenis softskill yang pada implementasi keseharian, jauh lebih bermanfaat ketimbang sekadar pengusaan hardskill.

3.  Mengintegrasikan HOTS (Higher Order Thinking Skill) atau kemampuan berpikir tingkat tinggi Level 3/C4 s/d C6).

Higher Order of Thinking Skill (HOTS) adalah kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kurikulum 2013 juga menuntut materi pembelajarannya sampai metakognitif yang mensyaratkan peserta didik mampu untuk memprediksi, mendesain, dan memperkirakan. Sejalan dengan itu ranah dari HOTS yaitu analisis yang merupakan kemampuan berpikir dalam menspesifikasi aspek-aspek/elemen dari sebuah konteks tertentu; evaluasi merupakan kemampuan berpikir dalam mengambil keputusan berdasarkan fakta/informasi; dan mengkreasi merupakan kemampuan berpikir dalam membangun gagasan/ide-ide.

Gerakan PPK perlu mengintegrasikan, memperdalam, memperluas, dan sekaligus menyelaraskan berbagai program dan kegiatan pendidikan karakter yang sudah dilaksanakan sampai sekarang.

B. Pengintegrasian tersebut antara lain:
1. Pemaduan kegiatan kelas, luar kelas di sekolah, dan luar sekolah (masyarakat/komunitas);
2. Pemaduan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler;
3. Pelibatan secara serempak warga sekolah, keluarga, dan masyarakat;

Perdalaman dan perluasan dapat berupa:
1. Penambahan dan pengintensifan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada pengembangan karakter siswa,

2. Penambahan dan penajaman kegiatan belajar siswa, dan pengaturan ulang waktu belajar siswa di sekolah atau luar sekolah;

3. Penyelerasan dapat berupa penyesuaian tugas pokok guru, Manajemen Berbasis Sekolah, dan fungsi Komite Sekolah dengan kebutuhan Gerakan PPK.
Maka tidak mungkin lagi menggunakan model/metode/strategi/pendekatan yang berpusat kepada guru, namun kita perlu mengaktifkan siswa dalam pembelajaran (Active Learning). Khusus untuk PPK merupakan program yang rencananya akan disesuaikan dengan 5 hari belajar atau 8 jam sehari sedangkan untuk 2 hari merupakan pendidikan keluarga.


AnZahra~ mei 2017
~ dari berbagai sumber.

Wednesday, November 23, 2016

WASIAT BERHARGA UNTUK GURU


1. Hendaknya tidak mengambil cuti sakit ketika engkau tidak sakit, sehingga tidak menggabungkan dua maksiat : kebohongan dan makan harta haram.

2. Terimalah murid-murid Anda dengan segala kesalahan mereka, karena mereka bukan malaikat, bukan pula syaitan.
Tidak ada alasan untun lari dari meluruskan kesalahan-kesalahan itu karena Anda adalah murabbi (pendidik).

3. Tunjukkan rasa hormat Anda kepada murid yang ada di hadapan Anda dengan cara menerangkan keutamaan mereka sebagai penuntut ilmu, karena akan mendekatkan jarak dalam menuju hati mereka.

4. Ingatlah bahwa banyak di antara orang-orang besar menjadi besar lantaran satu kata dari seorang guru yang melejitkan mereka dan memantik cita-cita mereka hingga menggapai puncak. Jadilah Anda pencetak orang-orang besar..!

5. Perbagus cara interaksi Anda dengan para murid.
Tinggalkan kesan yang baik pada diri mereka.
Berapa banyak guru yang mendapat doa dari murid setelah bertahun-tahun terlewati, atau setelah berada di liang kubur.

6. Semua mata pelajaran dapat dikaitkan dengan ajaran-ajaran Agama. Tinggal bagaimana Anda mencari media yang tepat.

7. Setiap menit keterlambatan Anda dalam memulai pelajaran atau keluar sebelum waktu selesai, adalah hak murid, ia akan mengambilnya pada hari penghitungan amal.

8. Berapa banyak guru yang menjadi sebab lurusnya arah berpikir kaum muda sehingga ia mendapatkan doa-doa tulus dan kebaikan yg mengalir.

9. Di depan Anda ada generasi. Bangkitkan jiwa mereka, ajarkan cinta kepada ilmu, dan bangunkan semangat. Karena akan menjadi kebaikan untuk ummat.

10. Rasa takut murid Anda terhadap Anda bukanlah pertanda keberhasilan dan keterampilan Anda dlm menegakkan kedisiplinan.
Itu hanya pertanda bahwa Anda gagal dalam memerankan pendidikan.
Pendidikan itu membawa ketegasan dan kasih sayang bukan menakut-nakuti.

11. Syekh Utsaimin rahimahulloh membedakan antara pulpen inventaris kantor dan pulpen pribadi, karena takut makan barang haram. Lantas bagaimana dengan orang yang menghalalkan sesuatu yang lebih berharga daripada tinta?
Yaitu waktu!

12. Ingatlah bahwa anda mempunyai anak yang diajar oleh guru-guru seperti Anda.
Maka berbuat baiklah kepada anak orang niscaya Allah akan menyiapkan bagi anak Anda, guru-guru yang akan berbuat baik kepada mereka. "Balasan sesuai dg amal perbuatan."

13. Ikhlaskan niat utk Allah.
Karena sesungguhnya Anda sedang melakukan tugas para Nabi.
----
Semoga jd nasehat utk terutama saya pribadiiiiii juga para pejuang Pendidikan...

🌸🌸🌾☘🌾☘🌾☘🌾☘🌾☘