Laman

Tuesday, November 7, 2017

Model-Model Pembelajaran Bruce Joyce dan Marsha Weil

Bruce Joyce dan Marsha Weil (1996) mengetengahkan 4 (empat) kelompok besaran model pembelajaran, yaitu:

1.   Model Interaksi Sosial (The Social Interaction Family)
Tujuan penggunaan model ini antara lain untuk membangun hubungan kerjasama, interaktif, dan produktif diantara peserta didik. Model ini dapat dilakukan melalui kerjasama berpasangan, kerjasama dalam kelompok, bermain peran, atau belajar di dunia nyata, misalnya kondisi sosial tertentu.

2.   Model Pengolahan Informasi (The Imformation Processing Family).
Model ini dirancang agar peserta didik dapat menggunakan olah fikirnya untuk menggali berbagai informasi, melakukan analisis data, dan mengolahnya. Melalui model pengolahan informasi, peserta didik  dapat memperoleh suatu pengetahuan atau pemahaman tentang konsep tertentu (learning to think by thinking).

3.   Model Personal (The Personal Family).
Model ini dimulai dengan pengarahan guru terhadap peserta didiknya tentang pemahaman kemampuannya masing-masing. Pengarahan dapat dilakukan melalui pertanyaan atau permasalahan yang harus diselesaikan  sesuai dengan kemampuan peserta didik, misalnya permasalahan tentang tantangan atau keinginan yang harus dicapai.
  
4.   Model Modifikasi Tingkah Laku (The Behavioral System Family).
Model ini memberikan pembelajaran melalui suatu tugas atau perbuatan yang harus dilakukan peserta didik untuk memperoleh suatu pengalaman dalam menentukan atau memilih solusi pemecahan masalah yang dihadapi, sehingga peserta didik memiliki kompetensi tertentu.

Berdasarkan ke-empat model Joyce dan Weil tersebut, kita dapat diterapkan ke dalam kegiatan pembelajaran menjadi model-model lain yang khusus, sesuai dengan karakteristik materi pembelajaran dan aktivitas yang dikembangkan oleh guru dengan tujuan tertentu. Miisalnya model yang dikembangkan adalah model Investigasi Kelompok (Group Investigation) dan model Bermain Peran (Role Playing) sebagai penjabaran dari Model Interaksi Sosial, sedangkan model Berfikir Induktif  (The Induktif Thinking) sebagai penjabaran dari model Pengolahan Informasi.  Berikut penjelasan dari model-model tersebut.

1.   Model Investigasi Kelompok (Group Investigation).
John Dewey mengatakan bahwa model investigasi kelompok dapat memberikan pengalaman kepada peserta didik dalam memecahkan suatu permasalahan dengan caranya sendiri dan dibicarakan dalam group secara demokratis. Pembagian langkah pelaksanaan model investigasi kelompok terdiri menjadi 6 (enam) fase, yaitu 1) memilih topik; 2) perencanaan kooperatif; 3) implementasi; 4) analisis dan sintesis; 5) presentasi hasil final, dan 6) evaluasi.
Langkah-langkah model pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut;
a.         Peserta didik dibagi kedalam kelompok (4 – 6 orang)
b.   Guru memberikan pengarahan tentang apa yang harus dilakukan oleh peserta didik di masing-masing kelompok.
c.   Peserta didik dihadapkan pada suatu situasi yang memerlukan pemecahan atau suatu keputusan yang harus ditentukan.
d.         Peserta didik mengeksplorasi situasi tersebut
e.    Peserta didik merumuskan tugas-tugas yang harus dilakukan dalam menghadapi situasi tersebut, antara lain merumuskan masalah, menentukan peran anggota kelompok, dan merumuskan alternatif cara yang akan digunakan.
Dalam melaksanakan tiga langkah (a), (b), dan (c) di atas, peserta didik dapat dibimbing oleh guru, sehingga guru bertindak sebagai mentor.
f.          Kerja mandiri
g.     Peserta didik melakukan pengecekan terhadap kemajuan dalam menyelesaikan tugasnya. Kemudian hasil tugas kelompoknya dipresentasikan di depan kelas agar peserta didik yang lain saling terlibat dalam pekerjaan mereka dan memperoleh perspektif luas pada topik itu.
h.      Peserta didik saling memberikan umpan balik mengenai topik yang telah mereka kerjakan berdasarkan tugas masing-masing kelompok, dan peserta didik bersama dengan guru berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran.
Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan secara berulang, sampai ditemukan suatu solusi atau keputusan yang tepat.

2.   Model Bermain Peran (Role Playing)
Model ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk lebih menggali dan memahami orang lain dengan tugasnya masing-masing, melalui pemecahan permasalahan sosial nyata yang dihadapi oleh kelompoknya. Model ini juga akan berdampak pada pemahaman nilai-nilai sosial maupun pribadi, sehingga dapat melatih rasa saling menghargai, kerja keras, dan sifat demokratis. 

Langkah model pembelajaran tersebut sebagai berikut;
a.    Pemanasan; dalam kegiatan ini guru menyampaikan permasalahan yang berkaitan dengan pengalaman peserta didik, sehingga peserta didik dapat merasakan dan mengeksplorasi permasalahan tersebut secara akurat berdasarkan pengalaman atau imaginasinya. Permasalahan dapat disajikan melalui bacaan, cerita lisan, pertanyaan, atau film.
b.       Menentukan peran masing-masing anggota kelompok; 
dalam kegiatan ini, peserta didik dan guru berdiskusi untuk menjelaskan berbagai karakter dengan apa yang disukainya atau tidak disukainya, perasaannya, dan sebagainya. Selanjutnya menentukan sukarelawan untuk berperan dalam masing-masing karakter tersebut.
c.       Menentukan langkah pemecahan masalah;
1)  Masing-masing peserta didik menentukan langkah kegiatan yang akan dilaksanakannya, dapat dibantu oleh guru melalui pertanyaan misalnya; tentang apa yang diobservasi, dimana, dan bagaimana caranya. 
2) Mempersiapkan peran yang akan dilaksanakan melibatkan antara lain karakter, kesukaan atau kebiasaan, cara berfikir, dan cara kerja yang diperankannya. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting, karena akan menentukan keberhasilan keseluruhan pembelajaran. 
d.  Pelaksanaan masing-masing tugas anggota sesuai dengan tugas atau peran yang sudah direncanakan. Perlu ditegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekedar bermain drama, tapi lebih memberikan pengalaman dan pemahaman kepada peserta didik bagaimana seseorang memiliki peran dan tanggungjawabnya. Selain itu peserta didik diharapkan memiliki ide-ide baru yang dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya sebagai hasil perwujudan pencapaian kompetensinya.
e.     Diskusi dan evaluasi hasil observasi dan tugas yang berkaitan dengan ketepatan tugas yang diberikan, waktu, atau tempat obervasi yang bersifat umum yang melibatkan pemain maupun observer.  kegiatan ini bukan mendiskusikan perannya tepat atau tidak, tapi menekankan pada hal-hal yang sangat penting berkaitan dengan kompetensi yang harus dicapai, misalnya; sikap terbuka, materi pelajaran sesuai, dan cara kerja yang tepat.
f.       Langkah berikutnya adalah sharing pendapat antar peserta didik, peserta didik dengan guru yang mendiskusikan hasil dari langkah sebelumnya, sehingga memungkinkan ada penggantian peran. Hasil dari langkah ini adalah fokus perbaikan dalam pelaksanaan, sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang lebih baik.
g.       Diskusi dan evaluasi seperti bagian f.
h.   Sharing pengalaman dan generalisasi. Peran guru dalam kegiatan iniadalah membimbing peserta didik untuk menemukan berbagai alternatif solusi pemecahan masalah dari permasalahan yang serupa, sehingga peserta didik memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupannya.

3.   Model Pembelajaran Berfikir Induktif (Thingking induktively)
Model ini bertujuan untuk melatih peserta didik dalam memahami, mengidentifikasi, dan menentukan keterhubungan antar konsep-konsep yang dipelajarinya untuk dikembangkan atau diaplikasikan dalam situasi atau permasalahan tertentu. Langkah model ini terdiri atas;
a.       Formasi konsep (consept formation). Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini antara lain: 1) identifikasi dan numerasi data yang relevan dengan topik atau permasalahan; 2) mengelompokan data yang memiliki karakteristik yang serupa atau sama; dan 3) melakukan kategorisasi data.
b.  Interpretasi data (Interpretation of data). Pada langkah ini dilakukan; 1) identifikasi keterkaitan atau perbedaan antar data; 2) eksplorasi sebab-akibat dalam suatu keterkaitan; dan 3) menemukan implikasi dan ekstrapolasi antar data.

Aplikasi prinsip (application of principles). Pada langkah ini peserta didik dilatih untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip yang dipelajari untuk menjelaskan fenomena baru atau memprediksi fenomena yang akan muncul.



#Materi Diklat Penyusunan RPP K13 Revisi dan Literasi di MTs Negeri 5 (MTsN Bakalan Rayung) Jombang bekerja sama dengan BDK (Balai Diklat Keagamaan) Surabaya.
Rabu, 8 November 2017.