This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Laman

Showing posts with label Religy. Show all posts
Showing posts with label Religy. Show all posts

Thursday, April 13, 2023

Belajar Memaafkan

Belajar Memaafkan dari Kisah Abu Bakar ash-Shiddiq

Mengapa kita langsung marah dengan seseorang yang mengkhianati kita, padahal semua manusia pada hakikatnya setiap hari berkhianat kepada Allah, yang bukan hanya memberi kita makan, namun juga memberi penghidupan?


Suatu hari, Abu Bakar geram sekaligus sedih karena ada sebuah fitnah terhadap Aisyah, anak kandungnya. Aisyah difitnah telah berzina dengan salah seorang sahabat Nabi. Tentu ini merupakan fitnah yang keji. Abu Bakar mencari-cari siapa yang menyebarkan rumor ini. Akhirnya, ketahuan bahwa salah satu yang ikut menyebarkan gosip itu adalah Misthah bin Utsasah, yang merupakan sepupunya sendiri. Selain sepupunya sendiri, Misthah adalah seorang fakir yang kehidupannya dibiayai oleh Abu Bakar.

Ketika mengetahuinya, Abu Bakar bak petir di siang bolong. Jika dikonversi menjadi sinema, Misthah bisa menjadi tokoh antagonis paling menyebalkan karena “pengkhianatannya” itu. Bayangkan saja, yang menyebarkan fitnah terhadap anak Abu Bakar adalah sepupunya sendiri yang tiap hari ia penuhi segala hajat hidupnya. Abu Bakar telah berbuat baik kepadanya, namun ia dikhianati oleh keluarganya sendiri.

Memang, Misthah bukanlah pihak yang membuat fitnah itu. Ia adalah orang baik. Ia merupakan bagian dari kalangan Muhajirin yang berpindah dari Makkah ke Madinah. Ia juga pejuang Perang Badar Bersama Rasulullah. Hanya saja, ia termakan isu yang menyebar, dan sayangnya, bukannya mengkonfirmasi kebenarannya, Misthah justru ikut “membantu” menyebarkan fitnah itu.

Oleh karena fitnah itu, kebaikan-kebaikan Misthah menjadi tidak ada artinya. Namanya tercoreng luar biasa. Bagaimana tidak? Menyebarkan fitnah tentang istrinya Nabi Muhammad. Hal ini otomatis memancing amarah di kalangan umat Islam, terutama para sahabat. Mereka secara serempak memberikan sentiment buruk kepada Misthah. Ia dicela, diboikot, dijauhi, bahkan dalam sebuah riwayat, ibu kandungnya sendiri turut mengutuk Misthah. Sejak itulah, Misthah menjadi sangat terpuruk.

Lalu, bagaimana dengan Abu Bakar? Tentu saja ia kecewa luar biasa. Ia marah, geram, dan merasa dikhianati. Sampai-sampai, Abu Bakar bersumpah, seperti yang tertulis dalam hadis riwayat Ahmad:

“Demi Allah selamanya aku tidak akan menafkahi Misthah sedikitpun.”

Abu Bakar bukan sembarang sahabat. Ia adalah orang terdekat Nabi. Orang yang dikenal jujurnya luar biasa. Orang yang santun dan juga sangat pemaaf. Jika seorang dengan kepribadian semegah itu saja sampai menyumpahi Misthah, maka memang tidak main-main kekecewaan Abu Bakar dan sebegitu parahnya kesalahan Misthah. Namun, reaksi Abu Bakar ini rupanya tetap tidak dibenarkan oleh Islam. Allah langsung merespon sumpah serapah Abu Bakar lewat QS. an-Nur : 22,

وَلَا يَأْتَلِ أُو۟لُوا۟ ٱلْفَضْلِ مِنكُمْ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤْتُوٓا۟ أُو۟لِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينَ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا۟ وَلْيَصْفَحُوٓا۟ ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampuni kamu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Ayat tersebut secara eksplisit menyatakan bahwa Allah tidak ingin hambanya tidak memaafkan sesamanya sekalipun ia kecewa. Allah menyindir hambanya yang “sok” mempunyai harta, kemudian memperlakukan orang lain dengan sewenang-wenang hanya karena ia dikecewakan.

Kisah Abu Abu Bakar layak dijadikan sebagai refleksi apakah bulan mulia ini membantu mentransformasi kita menjadi Muslim yang lebih baik. Meskipun kita kecewa, meskipun kita merasa sudah dikhianati oleh orang yang kita “baik” kepadanya, mengapa kita tidak bisa memberi maaf? Allah mengingatkan kita soal “lupa diri” yang seringkali menjangkiti manusia. Padahal, semua manusia pada hakikatnya setiap hari berkhianat kepada Allah, yang bukan hanya memberi kita makan saja, bukan hanya sekadar baik sama kita saja, tetapi memberi kita nyawa, memberi rezeki, memberi kehidupan, dan lain sebagainya.

Dengan itu semua, umat manusia masih sering berkhianat. Umat manusia setiap hari melanggar perintah Sang Maha Pemberi. Meskipun begitu, Allah selalu saja memaafkan kita. Meskipun Allah juga tahu, bahwa besoknya kita bakal berbuat dosa lagi. Kesadaran ini yang setidaknya membuat Abu Bakar langsung menarik sumpahnya, dan kembali memperlakukan Misthah seperti dulu lagi.


Sumber: Artikel dari pegiat Moderasi Beragama di Islami Institute.

Friday, June 12, 2020

Agar Anak-anak Terhindar dari Menghapal Alquran tanpa Makna


Sudah pernah menjumpai anak-anak usia dini yang hapal Alquran 30 juz? Saya yakin pernah, setidaknya di tayangan televisi. Kalau anak usia dini yang hapal sekaligus paham Al-Quran? Sepertinya ini yang masih jarang.

Baru-baru ini saya mendapat sudut pandang baru soal fenomena anak-anak yang hapal Alquran (karena saya juga ingin anak saya menghapal Alquran). Bahwa sejatinya anak-anak juga mesti paham ayat Alquran yang sedang dihapalkannya. Sehingga pembelajaran Alquran jadi bermakna dalam kehidupannya.

Mungkin sebagian kita berpikir bahwa anak-anak tidak akan mampu memahami isi Alquran di usia dini. Padahal itu hanyalah pikiran orang dewasa saja yang selalu memandang anak-anak sebagai makhluk lemah, baik dari segi fisik, kemampuan atau pun intelektualitasnya.

Ada yang masih ingat Husein al-Tabhathabai,  atau yang lebih dikenal dengan doktor cilik hapal dan paham Alquran dari Iran? Dulu, di tahun 2000-an ia pernah booming sehingga diberi julukan "the amazing child".

Husein mendapatkan gelar doktor honoris causa ketika ia berusia 7 tahun. Sebelumnya ia sudah hapal dan  paham Alquran ketika ia masih berusia 5 tahun. Gelar doktor itu bukan diberikan secara sembarangan. Ia melewati banyak ujian.

Ada 5 bidang yang harus dilewatinya; menghapal Alquran dan menerjemahkannya ke bahasa ibu, menerangkan topik ayat Alquran, menafsirkan dan menerangkan ayat  Alquran dengan menggunakan ayat lainnya dari Alquran, bercakap-cakap dengan menggunakan  ayat Alquran, dan metode menerangkan makna  Alquran dengan metode isyarat tangan.

Dari hasil ujian itu, Husein mendapatkan nilai 93. Nilai itu, menurut standar Hijaz College Islamic University, Inggris -- tempat Husein melakukan ujian -- adalah nilai untuk gelar doktor. Maka di tanggal 19 Februari 1998, lelaki cilik itu menerima ijazah doktor honoris causa.

Husein membuktikan bahwa meskipun masih anak-anak, intelektualitasnya tidak bisa diremehkan. Begitupun anak-anak lain. Semuanya punya kesempatan yang sama untuk mengembangkan intelektualitasnya, termasuk memahami Alquran. Bila caranya tepat, anak-anak akan mampu mencapai pemahaman yang baik terhadap Alquran. 

Apa yang dilakukan orangtua Husein mungkin terlalu sulit untuk ditiru -- setidaknya untuk saya -- karena memang banyak yang harus disiapkan dan dijaga; pengetahuan, kesucian diri dan hati.  Tapi untuk membuat anak-anak mampu memahami Alquran di usia dini bukanlah hal mustahil. 

Nah, hal-hal berikut ini  bisa dilakukan agar anak usia dini tidak terjebak hanya pada proses menghapal tanpa makna. Saya juga sedang mencoba menerapkan hal ini pada anak saya yang baru berusia 3 tahun. 

1. Motivasi yang ditanamkan. 

Motivasi ini penting sekali karena ia akan menggerakkan anak-anak untuk menghapal. Motivasi yang paling sering kita dengar ketika anak-anak diminta menghapal Alquran adalah supaya bisa memberikan mahkota di surga untuk orangtua. Ya, boleh-boleh saja sih tapi motivasi ini tidak substantif. Tidak menyentuh sama sekali arti pentingnya Alquran bagi diri anak.

"Menghapal Alquran bukanlah proses menghapal cangkem (menghapal bunyi-bunyian tanpa paham makna). Tapi menghapal Alquran adalah membaca ayat-ayat dengan tajwid yang benar, memahami makna kata demi kata, lalu berusaha menyimpannya di dalam dada. Menghapal Alquran adalah menyimpan kata demi kata dari surat cinta sang Kekasih di dalam benak dan hati kita," kata ayah Husein dalam suatu wawancara dengan Dina Sulaeman.

Motivasi seperti inilah yang harus dibangun dalam diri anak sehingga anak-anak benar-benar terdorong untuk mengetahui makna ayat-ayat yang dihapal.

2. Memulai dari ayat-ayat yang mudah dipahami anak-anak. 

Alquran berisi panduan, tidak hanya untuk orangtua tapi juga anak-anak. Dalam pengajaran menghapal Alquran pertama pada anak-anak, mestinya dimulai dengan ayat-ayat yang relevan dengan anak-anak, ayat-ayat yang bersinggungan langsung dengan kehidupan anak-anak. Misalnya ayat-ayat tentang mengucapkan salam, berbakti kepada orangtua, kebersihan, jangan mubazir, dll. Sehingga anak-anak bisa merasakan bahwa Alquran ini juga bisa jadi panduan dalam hidupnya.

Dengan menggunakan ayat-ayat ini, anak akan merasa terhubung dengan ayat tersebut sehingga tertarik untuk menghapalkannya. Jadi proses menghapalnya benar-benar dimulai dari pemahaman dulu. 

3. Metode yang menyenangkan.

Menghadapi anak-anak memang tidak mudah. Kita perlu mencari metode agar mereka tertarik menghapal Alquran serta memahami isinya. Ada tiga metode menarik yang diajarkan di Jamiatul Quran yang didirikan oleh Sayyid Muhammad Mahdi Thabathabai di Iran. Jamiatul Quran ini sudah menghasilkan ratusan alumnus yang hapal dan paham seluruh atau sebagian Alquran.

Pertama, metode isyarat tangan. Dalam metode ini, ayat yang dipilih adalah ayat-ayat yang bisa dipakai dengan menggunakan isyarat tangan. Ayat-ayat yang dipilih tentu hanya ayat yang pendek-pendek untuk memudahkan anak-anak.

Contoh QS: al-A'raaf; 21. "Kuluu wasyrabuu walaa tusrifuu" (Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan).

Dalam metode isyarat  tangan, "kuluu" diperagakan dengan menyiapkan sesuatu ke dalam mulut (bermakna makanlah). "Wasyrabuu" dipraktekkan dengan kedua tangan seolah-olah menuangkan air ke dalam mulut (bermakna minumlah). "Walaa tusrifuu" diperagakan dengan tangan dan kepala bergoyang-goyang (bermakna jangan berlebih-lebihan). 

Selanjutnya ayat ini diulang-ulang sambil diselang-selingi terjemahan ayat ke dalam bahasa masing-masing. Hingga akhirnya anak-anak dapat menghapal ayat-ayat ini dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Metode ini sangat menarik bagi anak-anak. Terbukti anak-anak di Jamiatul Quran memperagakan sambil tertawa-tawa. Anak-anak juga memahami maknanya hingga bisa mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali anak-anak lah yang memperingatkan orangtuanya agar tidak berlaku mubazir di rumah.

Kedua, metode bercerita lewat gambar. Anak-anak suka gambar dan cerita. Gabungan keduanya akan membuat anak-anak betah bersama Alquran. Setelah guru bercerita, anak-anak diminta untuk mengulang-ulang ayat dan menghapalnya.

Ketiga, metode permainan. Bermain adalah dunianya anak-anak. Bermain bagi anak-anak itu ya belajar. Anak-anak tidak pernah main-main saat bermain, mereka sangat serius saat bermain. Maka metode permainan seharusnya menjadi metode wajib dalam pembelajaran Alquran. 

Salah satu contoh permainan yang dilakukan oleh anak-anak di Jamiatul Quran adalah bermain isi kursi. Cara bermainnya seperti ini: Jika ada 10 anak, maka letakkan 9 kursi berderet. Minta anak-anak untuk berlomba duduk di kursi tersebut.

Nah, pasti akan ada satu anak yang tidak kebagian kursi. Anak ini akan diminta membacakan ayat dan artinya dengan menggunakan isyarat tangan. Setelah dapat, anak ini akan disuruh duduk terpisah. Lalu kursi dikurangi satu. Maka tertinggal 8 kursi. Kesembilan anak yang tersisa kembali harus berlomba menduduki kursi seperti permainan di awal, demikian seterusnya. 

Saya menambahkan satu metode lagi di rumah. Karena kami punya lumayan banyak buku anak di rumah, maka buku juga dijadikan media  menghapal Alquran. Jadi, ketika selesai membacakan buku, saya sering mengaitkannya dengan ayat-ayat yang ada dalam Alquran. 

Misalnya ketika baca buku tentang kebersihan pakaian, maka dikaitkanlah dengan QS: al-mudatsir; 4. "watsiyaabaka fathahhir." Ayat ini diulang-ulang beserta terjemahannya sampai anak hapal.

Proses menghapal seperti ini akan membuat anak-anak terhindar dari menghapal tanpa makna. Metode ini mungkin terlihat tidak sistematis karena tidak berurut per-surat atau per-juz tapi efek jangka panjangnya sangat bagus. 

Anak-anak memupuk kecintaannya pada Alquran lewat metode-metode yang menyenangkan ini, anak-anak juga dengan mudah memahami ayat yang sedang dihapal serta mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Cara ini mungkin juga terasa ribet dan harus melewati proses panjang. Tapi kalau kita kembali pada tujuan awal, yaitu mendidik anak-anak Qurani sejati (benar-benar paham Alquran, bukan hanya sekedar hapal), maka harus mau melewati proses ini. 

Cara di atas hanyalah beberapa hal yang bisa dicontoh, orangtua atau guru masih bisa menemukan metode lain agar anak-anak betah menghapal Alquran.

Pada akhirnya, entah mau menghapal dulu atau memahami dulu atau sambil jalan dua-duanya, yang harus dipahami adalah bahwa menghapal Alquran hanyalah pintu gerbang untuk memahami dan mengamalkan Alquran. Jangan pernah berpuas diri pada hapalan semata.

Semoga bermanfaat!

Sunday, December 30, 2018

SEBAIKNYA ANDA TAHU TENTANG AL QUR’AN


1. Surat terpanjang di dalam al-Qur`an: surat al-Baqarah.
2. Surat terpendek di dalam al-Qur`an: surat al-Kautsar.
3. Ayat terpanjang di dalam al-Qur`an: Ayat 282 surat al-Baqarah.
4. Ayat terpendek di dalam al-Qur`an: Ayat 64 surat ar-Rahman, مُدْهَامَّتَانِ (MudHaammataan), yang bermakna: "kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya"
5. Ayat di dalam al-Qur'an yg di dalamnya terkandung seluruh huruf hijaiyah (dari Alif sampai dengan Yaa), yaitu: Surat al-Fath/48 ayat 29 dan surat Ali 'Imran/3 ayat 154.
6. Surat yg paling utama di dalam al-Qur`an: surat al-Fatihah.
7. Juz yg paling banyak berisi surat: Juz ke-30 (Juz 'Amma)
8. Surat yg berisi banyak sumpah Allah: Surat as-Syams (surat ke-91)
9. Huruf yg paling banyak digunakan di dalam al-Qur`an: حرف الألف Huruf Alif.
10. Huruf yg paling sedikit digunakan di dalam al-Qur`an: حرف الظاء Huruf "Zho`"
11. Kata terpanjang di dalam al-Qur`an: "Fa-Asqoynaakumuuhu" فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ : surat al-Hijr ayat 22.
12. Nama nabi yg banyak disebut di dalam al-Qur`an: Nabi Musa as.
13. Malam yg paling utama yg disebut di dalam al-Qur`an: Malam Qadr.
14. Bulan yg paling utama yg disebut di dalam al-Qur`an: Bulan Ramadhan.
15. Minuman terbaik yg disebut di dalam al-Qur`an: Susu.
16. Makanan terbaik yg disebut di dalam al-Qur`an: Madu.
17. Angka terbesar yg disebut al-Qur`an: 100.000 (seratus ribu).
18. Hewan terbesar yg disebut di dalam al-Qur`an: Ikan Paus yg menelan nabi Yunus as.
19. Hewan terkecil yg disebut di dalam al-Qur`an: Nyamuk.
20. Nama buah yg paling banyak disebut di dalam al-Qur`an: Anggur.


Subhanallah...

Tuesday, November 21, 2017

Cerita ketika Nabi Muhammad SAW dalam kandungan

Sayidah Aminah berkata, “Ketika aku mengandung “Kekasihku” Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, di awal masa kehamilanku, yaitu bulan Rajab.

Suatu malam, ketika aku dalam kenikmatan tidur, tiba tiba masuk seorang laki-laki yang sangat elok parasnya, wangi aromanya, dan tampak sekali pancaran cahayanya.

Dia berkata, “Marhaban bika Ya Muhammad (Selamat datang untukmu Wahai Muhammad)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab “Aku Adam, ayah sekalian manusia”
“Apa yang engkau inginkan?”
“Aku ingin membawa kabar gembira. Bahagialah engkau wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Sayidil Basyar” (Pemimpin Manusia)”

Pada bulan kedua datang seorang laki-laki, seraya berkata, “Assalamu’alaika Ya Rasulallah (Salam untukmu wahai utusan Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Tsits”
“Apa yang engkau inginkan”
“Aku ingin menggembirakanmu, bergembiralah wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibut Ta’wil wal Hadits” (Pemilik Ta’wil dan Hadits)”

Pada bulan ketiga datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Nabiyallah (Salam untukmu wahai Nabi Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Idris”
“Apa yang engkau inginkan”
“Gembiralah engkau Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyir Ro-iis” (Nabi Pemimpin)”.

Pada bulan keempat datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Habiballah (Salam untukmu wahai Kekasih Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Nuh”
“Apa yang engkau inginkan”
“Bahagialah wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibun Nashri wal Futuh” (Pemilik Pertolongan dan Kemenangan)”.

Pada bulan kelima datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya shafwatallah (Salam untukmu wahai Sahabat Karib Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Hud”
“Apa yang engkau inginkan”
“Bergembiralah wahai ibu Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibusy Syafa’ah fil yawmil Masyhud” (Pemilik Syafaat di Hari persaksian/ Hari kiamat)”.

Pada bulan keenam datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Rohmatallah (Salam untukmu wahai kasih sayang Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Ibrohim AlKholil”
“Apa yang engkau inginkan”
“Bahagialah engkau Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Jalil” (Nabi yang Agung)”.

Pada bulan ketujuh datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya manikhtaarohullah” (Salam untukmu wahai orang yang telah dipilih Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Isma’il Adz-Dzabih (Yang disembelih)”
“Apa yang engkau inginkan”
“Gembiralah Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Malih” (Nabi yang Elok)”.

Pada bulan kedelapan datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Khirotallah” (Salam untukmu wahai pilihan Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Musa putra Imran”
“Apa yang engkau inginkan”
“Kabar gembira Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Man Yunzalu ‘alaihil Qur’an” (Orang yang akan diuturunkan padanya Al-Qur’an)”.

Pada bulan kesembilan, yakni bulan Robi’ul Awwal, datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Rosulallah” (Salam untukmu wahai utusan Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Isa putra Maryam”
“Apa yang engkau inginkan”
“Gembiralah engkau Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Mukarrom wa rosulil mu’adhom” (Nabi yang dimuliakan dan Rasul yang diagungkan)”.

Syaikh Nawawi Banten, Maulid Ibriz, hlm 17-19

Thursday, October 5, 2017

DOA KHOTMIL QUR'AN


دعاء ختم القرآن

بسم الله الرحمن الرحيم

صَدَقَ اللهُ صَدَقَ اللهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ, وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ, وَنَحْنُ عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ, وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. اللَّهُمَّ انْفَعْنَا وَارْفَعْنَا بِالْقُرْآنِ الْعَظِيْمُ, وَاهْدِنَا وَبَارِكْ لَنَا بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنَّا قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ وَخَتْمَ الْقُرْآنِ وَدُعَاءَنَا, يَارَبِّ مَوْلاَنَا, إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا بِكُلِّ حَرْفٍ مِنَ الْقُرْآنِ حَلاَوَةً, وَ بِكُلِّ كَلِمَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ كَرَامَةً, وَبِكُلِّ آيَةٍ من القرآن أُلْفَةً, وَبِكُلِّ سُوْرَةٍ من القرآن سُرُوْرًا, وَبِكُلِّ جُزْءٍ من القرآن جَزَاءً, وَبِكُلِّ رُبُعٍ من القرآن رَاحَةً, وَبِكُلِّ نِصْفٍ من القرآن نِعْمَةً, وَبِكُلِّ ثُلُثٍ من القرآن ثَبَاتًا, وَبِكُلِّ رَفْعٍ من القرآن رِفْعَةً, وَبِكُلِّ فَتْحٍ من القرآن فَرْحَةً وَ فُتُوْحًا, وَبِكُلِّ كَسْرٍ من القرآن كِسْوَةً, وَبِكُلِّ وَقْفٍ من القرآن وِقَايَةً. اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا بِاْلأَلِفِ أَمْنًا وَإِيْمَانًا, وَبِالْبَاءِ بَهَاءً وَبَرَكَةً, وَبِالتَّاءِ تَوْبَةً وَتَوْفِيْقًا, وَبِالثَّاءِ ثَرْوَةً وَثَوَابًا, وِبِالْجِيْمِ جَاهًا وَجَلاَلاً, وَبِالْحَاءِ حِلْمًا وَحَيَاءً, وَبِالْخَاءِ خُشُوْعًا وَخَشْيَةً, وَبِالدَّالِ دَوْلَةً وَدَلِيْلاً, وَبِالذَّالِ ذِهْنًا وَذُكَاءً, وَبِالرَّاءِ رَحْمَةً وَرَجَاءً, وَبِالزَّاءِ زُهْدًا وَزُكَاءً, وَبِالسِّيْنِ سَعَادَةً وَسَلاَمَةً, وَبِالشِّيْنِ شُكْرًا وَشَرَافَةً, وَبِالصَّادِ صَبْرًا وَصَدَاقَةً, وَبِالضَّادِ ضَوْءً وَضَلاَعَةً, وَبِالطَّاءِ طَاعَةً وَطَهَارَةً, وَبِالظَّاءِ ظَفَرًا وَظَرَافَةً, وَبِالْعَيْنِ عَفْوًا وَعَافِيَةً, وَبِالْغَيْنِ غِنًى وَغَنِيْمَةً, وَبِالْفَاءِ فَوْزًا وَفَلاَحًا, وَبِالْقَافِ قُرْبًا وَقَنَاعَةً, وَبِالْكَافِ كَمَالاً وَكَرَامَةً, وَبِاللاَّمِ لُطْفًا وَلِقَاءً, وَبِالْمِيْمِ مَغْفِرَةً وَمَتَاعًا, وَبِالنُّوْنِ نُوْرًا وَنَجَاةً, وَبِالْوَاوِ وُسْعَةً وَوِلاَيَةً, وَبِالْهَاءِ هِمَّةً وَهِدَايَةً, وَبِالْيَاءِ يُسْرًا وَيَقِيْنًا. اللَّهُمَّ اهْدِنَا وَبَارِكْ لَنَا, بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا قِرَاءَتَنَا, وَتَجَاوَزْ عَنَّا مَا كَانَ مِنَّا, فِي تِلاَوَةِ الْقُرْآنِ مِنْ خَطَإٍ أَوْ نِسْيَانٍ, أَوْ تَحْرِيْفِ كَلِمَةٍ عَنْ مَوَاضِعِهَا, أَوْ تَقْدِيْمٍ أَوْ تَأْخِيْرٍ, أَوْ زِيَادَةٍ أَوْ نُقْصَانٍ, أَوْ تَأْوِيْلٍ عَلَى غَيْرِ مَا أَنْزَلْتَهُ, أَوْ رَيْبٍ أَوْ شَكٍّ أَوْ سَهْوٍ أَوْ سُوْءِ إِلْحَانٍ, أَوْ تَعْجِيْلٍ عِنْدَ تِلاَوَةِ الْقُرْآنِ, أَوْ كَسَلٍ أَوْ سُرْعَةٍ أَوْ زَيْغِ لِسَانٍ, أَوْ وَقْفٍ بِغَيْرِ وُقُوْفٍ, أَوْ إِدْغَامٍ بِغَيْرِ مُدْغَمٍ, أَوْ إِظْهَارٍ بِغَيْرِ  بَيَانٍ, أَوْ مَدٍّ أَوْ تَشْدِيْدٍ أَوْ هَمْزَةٍ, أَوْ جَزْمٍ أَوْ إِعْرَابٍ بِغَيْرِ مَا كَتَبَهُ, أَوْ قِلَّةِ رَغْبَةٍ وَرَهْبَةٍ, عِنْدَ آيَاتِ الرَّحْمَةِ, أَوْ آيَاتِ الْعَذَابِ, فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا,  رَبَّنَا وَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِيْنَ. اللَّهُمَّ نَوِّرْ قُلُوْبَنَا بِتِلاَوَةِ الْْقُرْآنِ, وَزَيِّنْ أَخْلاَقَنَا بِجَاهِ الْقُرْآنِ, وَحَسِّنْ أَعْمَالَنَا بِذِكْرِ الْقُرْآنِ, وَبَيِّضْ وُجُوْهَنَا بِبَرَكَةِ الْقُرْآنِ, وَنَوِّرْ أَبْدَانَنَا بِنُوْرِ الْقُرْآنِ, وَنَجِّنَا مِنَ النَّارِ بِكَرَامَةِ الْقُرْآنِ, وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ بِشَفَاعَةِ الْقُرْآنِ .اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ لَنَا فِي الدُّنْيَا قَرِيْنَا, وَفِي الْقَبْرِ مُؤْنِسًا, وَفِي الْقِيَامَةِ شَافِعًا, وَعَلَى  الصِّرَاطِ نُوْرًا, وَفِي الْجَنَّةِ رَفِيْقًا, وَمِنَ النَّارِ سِتْرًا وَحِجَابًا. اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِالْقُرْآنِ, وَاجْعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُوْرًا وَهُدًى وَرَحْمَةً. اللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِيْنَا, وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا, وَارْزُقْنَا تِلاَوَتَهُ آنَآءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ, وَاجْعَلْهُ لَنَا حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ اهْدِنَا بِهِدَايَةِ الْقُرْآنِ, وَنَجِّنَا مِنَ النَّارِ بِحُرْمَةِ الْقُرْآنِ, وَيَسِّرْ لَنَا أُمُوْرَنَا أُمُوْرَ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِِ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ, وَحَصِّلْ مَقَاصِدِنَا, وَاقْضِ جَمِيْعِ حَاجَاتِنَا بِالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَاشْفِ جَمِيْعِ اَسْقَامِنَا بِحُرْمَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ, وَتَمِّمْ آمَالَنَابِبَرَكَةِ كَلاَمِكَ الْقَدِيْمِ, وَهَوِّنْ عَلَيْنَا سَكَرَاتِ الْمَوْتِ, بِجَاهِ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ, يَارَحْمَنُ يَا رَحِيْمُ. اللهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا, وَقَرِّ عُيُوْنَنَا, وَاسْتُرْ عَوْرَاتِنَا, وَاشْفِ مَرْضَانَا, وَاقْضِ عَنَّا دُيُوْنَنَا, وَبَيِّضْ وُجُوْهَنَا, وَارْفَعْ دَرَجَاتِنَا, وَأَصْلِحْ حَاجَاتِنَا, وَاغْفِرْ آبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا, وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا, وَتَجَاوَزْ عَنْ سَيِّآتِنَا, وَمْحُ ذُنُوْبَنَا, وَأَصْلِحْ دِيْنَنَا وَدُنْيَانَا, وَرَطِّبْ لِسَانَنَا بِذِكْرِكَ, وَقَوِّ أَجْسَادَنَا بِلُطْفِكَ , وَفَرِّحْ أَحْبَابَنَا, وَخَرِّبْ أَحْسَادَنَا, وَشَتِّتْ شُمُوْلَ أَعْدَائِنَا, وَاحْفَظْ أَهْلَنَا وَأَمْوَالَنَا وَإِخْوَانَنَا, وَانْظُرْ أَوْلاَدَنَا وَتَلاَمِيْذَنَا وَدِيَارَنَا, وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا عَلَى دِيْنِ اْلإِسْلاَمِ, وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ, بِحُرْمَةِ هَذَا الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا أَدَآءً بِالْقَلْبِ, وَحُبَّ الْخَيْرِ وَالسَّعَادَةِ وَالْبَشَارَةِ مِنَ اْلإِيْمَانِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ,  بِعَدَدِ مَا فِي جَمِيْعِ الْقُرْآنِ حَرْفًا حَرْفًا  
وَبِعَدَدِكُلِّ حَرْفٍ أَلْفًا أَلْفًا 
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنا عَذَابَ النَّارِ
والحمد لله رب العالمين
......الفاتحه

Artinya : “Maha benar Alloh yang Maha Tinggi dan Maha Agung, Dan benar  pula Utusan-Nya yaitu para nabi yang mulia serta kami terhadap hal tersebut adalah termasuk orang-orang yang selalu bersaksi dan bersyukur ; dan segala puji bagi Alloh Tuhan semesta alam. Ya Alloh wahai Tuhan kami, terimalah ibadah dari kami sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Alloh  berilah kemanfaatan kepada kami dan angkatlah derajat untuk kami perantara A-Qur’an yang Agung. Dan berikanlah hidayah dan keberkahan kepada kami sebab perantara ayat-ayat dan Al-Qur’an yang penuh dengan dzikir dan hikmah. Dan terimalah bacaan Al-Qur’an dan khotaman Al-Qur’an kami, serta do’a kami, wahai tuhan dan junjungan kami sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 
Ya Alloh berikanlah kepada kami kemanisan (Iman) pada setiap (hitungan) huruf  Al-Qur’an. Dan berikanlah kepada kami kemuliaan pada setiap (hitungan) kalimat Al-Qur’an. Dan berikanlah kecintaan kepada kami pada setiap (hitungan) ayat Al-Qur’an. Dan berikanlah kegembiraan kepada kami pada setiap (hitungan) surat Al-Qur’an. Dan berikanlah pahala kepada kami pada setiap (hitungan) juz Al-Qur’an. Dan berikanlah kesenangan kepada kami pada setiap (hitungan) seperempat Al-Qur’an. Dan berikanlah kenikmatan kepada kami pada setiap (hitungan) separuh Al-Qur’an. Dan berikanlah kemantapan (Iman dan hati) kepada kami pada setiap (hitungan) sepertiga Al-Qur’an. Dan berikanlah peningkatan derajat kepada kami pada setiap (hitungan) harokat dlommah dalam Al-Qur’an.  Dan berikanlah kesenangan dan kesuksesan kepada kami pada setiap (hitungan) harokat fathah dalam Al-Qur’an.. Dan berikanlah pakaian (pelindungan / penjagaan / perhiasan) kepada kami pada setiap (hitungan) harokat kasroh dalam Al-Qur’an.. Dan berikanlah penjagaan kepada kami pada setiap (hitungan) waqof  dalam Al-Qur’an. 
Ya Alloh anugrahkanlah keamanan dan keimanan kepada kami sebab perantara huruf  Alif.  Ya Alloh anugrahkanlah kepandaian dan keberkahan kepada kami sebab perantara huruf  Ba’. Ya Alloh anugrahkanlah Taubat dan pertolongan kepada kami sebab perantara huruf  Ta’. Ya Alloh anugrahkanlah kenyamanan dan pahala kepada kami sebab perantara huruf  Tsa’. Ya Alloh anugrahkanlah kewibawaan dan kehormatan kepada kami sebab perantara huruf  Jim. Ya Alloh anugrahkanlah kecermatan dalam bersikap dan sifat malu kepada kami sebab perantara huruf  _Ha’. Ya Alloh anugrahkanlah khusyu’ dan khosy-yah (takut)  kepada kami sebab perantara huruf  Kho’.  Ya Alloh anugrahkanlah kekuasaan (pangkat) dan penasehat/bukti kepada kami sebab perantara huruf  Dal. Ya Alloh anugrahkanlah kecermatan hati dan kecerdasan fikiran kepada kami sebab perantara huruf  Dzal. Ya Alloh anugrahkanlah rohmat (kasih sayang) dan harapan baik kepada kami sebab perantara huruf  Ro’. Ya Alloh anugrahkanlah zuhud dan kebersihan hati dan diri kepada kami sebab perantara huruf  Za’. Ya Alloh anugrahkanlah kebahagiaan dan keselamatan kepada kami sebab perantara huruf  Sin. Ya Alloh anugrahkanlah syukur dan kemuliaan kepada kami sebab perantara huruf  Syin. Ya Alloh anugrahkanlah sabar dan jujur kepada kami sebab perantara huruf  Shod. Ya Alloh anugrahkanlah kilau iman dan kekuatan badan kepada kami sebab perantara huruf  dlood. Ya Alloh anugrahkanlah keta’atan dan kesucian kepada kami sebab perantara huruf  Tho’. Ya Alloh anugrahkanlah kemenangan dan kepandaian kepada kami sebab perantara huruf  dho’. Ya Alloh anugrahkanlah ampunan dan kesehatan kepada kami sebab perantara huruf ‘Ain. Ya Alloh anugrahkanlah kekayaan dan hasil yang banyak kepada kami sebab perantara huruf  Ghoin. Ya Alloh anugrahkanlah kesenangan dan kesuksesan kepada kami sebab perantara huruf  Fa’. Ya Alloh anugrahkanlah kedekatan (denganMu) dan Qona’ah (Menerima apa adanya anugrah Alloh) kepada kami sebab perantara huruf  Qoof. Ya Alloh anugrahkanlah kesempurnaan dan kemuliaan kepada kami sebab perantara huruf  Kaaf. Ya Alloh anugrahkanlah kelembutan (kasih-sayangMu) dan perjumpaan(denganMu) kepada kami sebab perantara huruf  Lam. Ya Alloh anugrahkanlah ampunan dan harta benda kepada kami sebab perantara huruf  Miim. Ya Alloh anugrahkanlah cahaya dan keselamatan kepada kami sebab perantara huruf  Nun. Ya Alloh anugrahkanlah keluasan (ilmu dan rizqi) dan kewalian / kekuasaan kepada kami sebab perantara huruf  Wawu. Ya Alloh anugrahkanlah semangat yang kuat dan hidayah kepada kami sebab perantara huruf  Ha’. Ya Alloh anugrahkanlah kemudahan dan keyaqinan kepada kami sebab perantara huruf  Yaa’.

Friday, September 29, 2017

RAHASIA BESAR DIBALIK 10 MUHARRAM


Tahun baru Islam (1 Muharram) telah kita lewati bersama pada hari Kamis, 21 September 2017 dan hari ini kita jumpai hari paling bersejarah bagi SELURUH MAKHLUK (yaitu 10 Muharram).

Tanggal 10 Muharram tahun ini bertepatan dengan hari Sabtu, tanggal 30 September 2017.

Dari Ibnu Abbas ra. berkata Rasulullah saw. bersabda: "Siapa yang berpuasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) maka Allah SWT akan memberi kepadanya pahala 10.000 malaikat dan sesiapa yang berpuasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) maka akan diberi pahala 10.000 orang berhaji dan berumrah, dan 10.000 pahala orang mati syahid, dan barang siapa yang mengusap kepala anak-anak yatim pada hari tersebut maka Allah SWT akan menaikkan dengan setiap rambut satu derajat. Dan sesiapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada orang mukmin pada hari ‘Asyura, maka seolah-olah dia memberi makan pada seluruh umat Rasulullah saw. yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka."

Lalu para sahabat bertanya Rasulullah saw.: "Ya Rasulullah saw, adakah Allah telah melebihkan hari ‘Asyura daripada hari-hari lain?" Maka berkata Rasulullah saw: " Ya, memang benar, Allah Ta’ala menjadikan langit dan bumi pada hari ‘Asyura, menjadikan laut pada hari ‘Asyura, menjadikan bukit-bukit pada hari ‘Asyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari ‘Asyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari ‘Asyura, dan Allah SWT menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari ‘Asyura, Allah SWT menenggelamkan Fir'aun pada hari ‘Asyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari ‘Asyura, Allah SWT menerima taubat Nabi Adam pada hari ‘Asyura, Allah SWT mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari ‘Asyura, Allah SWT mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari ‘Asyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Asyura!".

Dari hadits tersebut terdapat setidaknya 12 kejadian besar dibalik 10 Muharram.

Hadits lainnya:

Artinya: “Ia adalah hari mendaratnya kapal Nuh di atas gunung “Judi” lalu Nuh berpuasa pada hari itu sebagai wujud rasa syukur.” (Hadits Riwayat Ahmad)

Dari berbagai referensi, maka keistimewaan/keutamaan 10 Muharam berlaku:

1. Nabi Adam bertaubat kepada Allah dan dipertemukan dengan Siti Hawa.
2. Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit.
3. Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama enam bulan.
4. Nabi Ibrahim diselamatkan Allah dari pembakaran Raja Namrud.
5. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa.
6. Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara.
7. Penglihatan Nabi Ya’kub yang kabur dipulihkkan Allah.
8. Nabi Ayub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritanya.
9. Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam.
10. Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari tentera Firaun.
11. Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah.
12. Nabi Sulaiman dikaruniakan Allah kerajaan yang besar.
13. Nabi Isa diangkat ke langit.
14. Nabi Muhammad saw. terbebas dari racun orang-orang Yahudi.
15. Hari pertama Allah menciptakan alam.
16. Hari Pertama Allah menurunkan rahmat.
17. Hari pertama Allah menurunkan hujan.
18. Allah menjadikan 'Arsy.
19. Allah menjadikan Luh Mahfuz.
20. Allah menjadikan alam.
21. Allah menjadikan Malaikat Jibril.

Di dalam Kitab Hadits Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan beberapa hadits berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari ‘ASYURA (10 Muharram) dan TASU’A (9 Muharram), yaitu:

1. Dari Ibnu Abbas, “Bahwa Rasulullah saw. berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya.” (HR.Imam Al-Bukhâri dan Imam Muslim).

2. Dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah saw. ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) menghapuskan dosa (dosa-dosa kecil) satu tahun yang lalu.” (HR. Muslim)

3. Dari Ibnu Abbas beliau berkata: “Rasulullah saw. bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan.” (HR. Muslim).

Dalam hadits yang ma'ruf di riwayatkan :
"Dan puasa pada hari Arafah –aku mengharap dari Allah- menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang. Dan puasa pada hari ‘ASYURA (tanggal 10 Muharram) –aku mengharap dari Allah menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu.” [HR Abu Dawud]

Wallahu A'laam Bis Shawab 😇


Wednesday, September 27, 2017

REZEKI


Yang kerja keras belum tentu mendapat banyak. Yang kerja sedikit belum tentu mendapat sedikit. Karena sesungguhnya sifat Rezeki adalah mengejar, bukan dikejar. Rezeki akan mendatangi, bahkan akan mengejar, hanya kepada orang yang pantas didatangi. Maka, pantaskan dan patutkan diri untuk pantas di datangi, atau bahkan dikejar rezeki.

Inilah hakikat ikhtiar...
Setiap dari kita telah ditetapkan rezekinya sendiri-sendiri. Karena ikhtiar adalah kuasa manusia, namun rezeki adalah kuasa Allah Azza Wajalla. Dan manusia tidak akan dimatikan, hingga ketetapan rezekinya telah ia terima, seluruhnya.

Ada yang diluaskan rezekinya dalam bentuk harta. Ada yang diluaskan dalam bentuk kesehatan. Ada yang diluaskan dalam bentuk ketenangan dan keamanan. Ada yang diluaskan dalam kemudahan menerima ilmu. Ada yang diluaskan dalam bentuk keluarga dan anak keturunan yang shalih. Ada yang dimudahkan dalam amalan dan ibadahnya. Dan yang paling indah, adalah diteguhkan dalam hidayah Islam. Hakikat Rezeki bukanlah hanya harta, Rezeki adalah seluruh rahmat Alloh SWT.

8 JENIS REZEKI DARI ALLOH SWT

1. Rezeki Yang Telah Dijamin.

‎وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ 
مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ 

"Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin ALLAH rezekinya."
(Surah Hud : 6).

2. Rezeki Karena Usaha.

‎وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

"Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya."
(Surah An-Najm : 39).

3. Rezeki Karena Bersyukur.

‎لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu."
(Surah Ibrahim : 7).

4. Rezeki Tak Terduga.

‎وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا( ) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

"Barangsiapa yang bertakwa kepada ALLAH nescaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."
(Surah At-Thalaq : 2-3).

5. Rezeki Karena Istighfar.

‎فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ( ) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا

"Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta.”
(Surah Nuh : 10-11).

6. Rezeki Karena Menikah.

‎وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ

"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka ALLAH akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan kurnia-Nya."
(Surah An-Nur : 32).

7. Rezeki Karena Anak.

‎وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.”
(Surah Al-Israa' : 31).

8. Rezeki Karena Sedekah

‎مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً

"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada ALLAH, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka ALLAH akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.”
(Surah Al-Baqarah : 245).


Semoga Bermanfaat :v

Sunday, April 30, 2017

MASIH PUNYA HUTANG PUASA?

Hukum Hutang Puasa Ramadhan Beberapa Tahun Belum Di Qadha!

Apa hukum untuk orang yang memiliki hutang Ramadhan beberapa tahun, dan belum diqadha hingga sekarang..?

Jawab:
Bismillah, Allah membolehkan, bagi orang yang tidak mampu menjalankan puasa, baik karena sakit yang ada harapan sembuh atau safar atau sebab lainnya, untuk tidak berpuasa, dan diganti dengan qadha di luar ramadhan.

📝Allah berfirman,

ﻓَﻤَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻣَﺮِﻳﻀًﺎ ﺃَﻭْ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻔَﺮٍ ﻓَﻌِﺪَّﺓٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﺃُﺧَﺮَ

"Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain"
(QS. Al-Baqarah : 184)

🍃Kemudian, para ulama mewajibkan, bagi orang yang memiliki hutang puasa ramadhan, sementara dia masih mampu melaksanakan puasa, agar melunasinya sebelum datang ramadhan berikutnya.

🍃Berdasarkan keterangan Ummul Mukminin A’isyah radhiyallahu ‘anha,

ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻋَﻠَﻲَّ ﺍﻟﺼَّﻮْﻡُ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﻓَﻤَﺎ ﺃَﺳْﺘَﻄِﻴﻊُ ﺃَﻥْ ﺃَﻗْﻀِﻲَ ﺇِﻟَّﺎ ﻓِﻲ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ

"Dulu saya pernah memiliki utang puasa ramadhan. Namun saya tidak mampu melunasinya kecuali di bulan sya’ban.
(HR. Bukhari : 1950 dan Muslim : 1146)

🍃Dalam riwayat muslim terdapat tambahan,

ﺍﻟﺸُّﻐْﻞُ ﺑِﺮَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ

‘Karena beliau sibuk melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’
A’isyah, istri tercinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu siap sedia untuk melayani suaminya, kapanpun suami datang. Sehingga A’isyah tidak ingin hajat suaminya tertunda gara-gara beliau sedang qadha puasa ramadhan. Hingga beliau akhirkan qadhanya, sampai bulan sya’ban, dan itu kesempatan terakhir untuk qadha.

🍃Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

ﻭَﻳﺆْﺧَﺬ ﻣِﻦْ ﺣِﺮْﺻﻬَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥ : ﺃَﻧَّﻪُ ﻻ ﻳﺠُﻮﺯ ﺗَﺄْﺧِﻴﺮ ﺍﻟْﻘَﻀَﺎﺀ ﺣَﺘَّﻰ ﻳﺪْﺧُﻞَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥ ﺁﺧﺮ

Disimpulkan dari semangatnya A’isyah untuk mengqadha puasa di bulan sya’ban, menunjukkan bahwa tidak boleh mengakhirkan qadha puasa ramadhan, hingga masuk ramadhan berikutnya.
(Fathul Bari, 4/191).

Bagaimana jika belum diqadha hingga datang ramadhan berikutnya?

➡Sebagian ulama memberikan rincian berikut:
Pertama,
Menunda qadha karena udzur.
Misalnya: kelupaan, sakit, hamil, atau udzur lainnya.
Dalam kondisi ini, dia hanya berkewajiban qadha tanpa harus membayar kaffarah.
Karena dia menunda di luar kemampuannya.

Imam Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang sakit selama dua tahun. Sehingga utang ramadhan sebelumnya tidak bisa diqadha hingga masuk ramadhan berikutnya.

➡Jawaban yang beliau sampaikan,

ﻟﻴﺲ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺇﻃﻌﺎﻡ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺗﺄﺧﻴﺮﻫﺎ ﻟﻠﻘﻀﺎﺀ ﺑﺴﺒﺐ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﺣﺘﻰ ﺟﺎﺀ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺁﺧﺮ ، ﺃﻣﺎ ﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺃﺧﺮﺕ ﺫﻟﻚ ﻋﻦ ﺗﺴﺎﻫﻞ ، ﻓﻌﻠﻴﻬﺎ ﻣﻊ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﺇﻃﻌﺎﻡ ﻣﺴﻜﻴﻦ ﻋﻦ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ

Dia tidak wajib membayar kaffarah, jika dia mengakhirkan qadha disebabkan sakitnya hingga datang ramadhan berikutnya. Namun jika dia mengakhirkan qadha karena menganggap remeh, maka dia wajib qadha dan bayar kaffarah dengan memberi makan orang miskin sejumlah hari utang puasanya.
(Sumber : http://www.binbaz.org.sa/mat/572/)

Kedua,
Sengaja menunda qadha hingga masuk ramadhan berikutnya, tanpa udzur atau karena meremehkan.

Ada 3 hukum untuk kasus ini:
1. Hukum qadha tidak hilang.
Artinya tetap wajib qadha, sekalipun sudah melewati ramadhan berikutnya. Ulama sepakat akan hal ini.
2. Kewajiban bertaubat.
Karena orang yang secara sengaja menunda qadha tanpa udzur hingga masuk ramadhan berikutnya, termasuk bentuk menunda kewajiban, dan itu terlarang. Sehingga dia melakukan pelanggaran. Karena itu, dia harus bertaubat.
3. Apakah dia harus membayar kaffarah atas keterlambatan ini?
Bagian ini yang diperselisihkan ulama.

➡Pendapat Pertama :
Dia wajib membayar kaffarah, ini adalah pendapat mayoritas ulama.

As-Syaukani menjelaskan,

ﻭﻗﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : “ ﻭﻳﻄﻌﻢ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻣﺴﻜﻴﻨًﺎ :” ﺍﺳﺘﺪﻝ ﺑﻪ ﻭﺑﻤﺎ ﻭﺭﺩ ﻓﻲ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﻣَﻦ ﻗﺎﻝ : ﺑﺄﻧﻬﺎ ﺗﻠﺰﻡ ﺍﻟﻔﺪﻳﺔ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺼﻢ ﻣﺎ ﻓﺎﺕ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺣﺘﻰ ﺣﺎﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺁﺧﺮ، ﻭﻫﻢ ﺍﻟﺠﻤﻬﻮﺭ، ﻭﺭُﻭﻱ ﻋﻦ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ؛ ﻣﻨﻬﻢ : ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ، ﻭﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ، ﻭﺃﺑﻮ ﻫﺮﻳﺮﺓ . ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻄﺤﺎﻭﻱ ﻋﻦ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﺃﻛﺜﻢ ﻗﺎﻝ : ﻭﺟﺪﺗﻪ ﻋﻦ ﺳﺘﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ، ﻻ ﺃﻋﻠﻢ ﻟﻬﻢ ﻣﺨﺎﻟﻔًﺎ

📝Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dia harus membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin”, hadits ini dan hadits semisalnya, dijadikan dalil ulama yang berpendapat bahwa wajib membayar fidyah bagi orang yang belum mengqadha ramadhan, hingga masuk ramadhan berikutnya. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama, dan pendapat yang diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Abu Hurairah.

🍃At-Thahawi menyebutkan riwayat dari Yahya bin Akhtsam, yang mengatakan,

ﻭﺟﺪﺗﻪ ﻋﻦ ﺳﺘﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ، ﻻ ﺃﻋﻠﻢ ﻟﻬﻢ ﻣﺨﺎﻟﻔًﺎ

Aku jumpai pendapat ini dari 6 sahabat, dan aku tidak mengetahui adanya sahabat lain yang mengingkarinya.
(Nailul Authar, 4/278)

Pendapat Kedua:
Dia hanya wajib qadha dan tidak wajib kaffarah. Ini pendapat an-Nakhai, Abu Hanifah, dan para ulama hanafiyah.

📝Dalilnya adalah firman Allah,

ﻓَﻤَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻣَﺮِﻳﻀًﺎ ﺃَﻭْ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻔَﺮٍ ﻓَﻌِﺪَّﺓٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﺃُﺧَﺮَ

"Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain" 
(QS. Al-Baqarah : 184)

🍃Dalam ayat ini, Allah tidak menyebutkan fidyah sama sekali, dan hanya menyebutkan qadha.
Imam al-Albani pernah ditanya tentang kewajiban kaffarah bagi orang yang menunda qadha hingga datang ramadhan berikutnya.

➡Jawaban beliau,

ﻫﻨﺎﻙ ﻗﻮﻝ، ﻭﻟﻜﻦ ﻟﻴﺲ ﻫﻨﺎﻙ ﺣﺪﻳﺚ ﻣﺮﻓﻮﻉ

Ada yang berpendapat demikian, namun tidak ada hadits marfu’ (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) di sana. 
(al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Muyassarah, 3/327).

Demikian Semoga Manfaat...
WAllahu a’lam.

Saturday, April 1, 2017

Haul ke-38 Almaghfurlah KH. M. Bisri Syansuri

Intisari Tausiyah Rais Am PBNU KH. Ma'ruf Amin dalam Haul ke-38 Almaghfurlah KH. M. Bisri Syansuri dan keluarga besar Ponpes Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang. Pada hari Selasa (28/3.1017) malam
Di Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang

1. Almaghfurlah Kiai Bisri Syansuri ini Rais Am (PBNU) betulan, yang memang shahibul maqam. Sebab beliau memenuhi kriteria faqih, munadzimun, muharrik, wal wara'. Kalau saya ini Rais Am _Dlaruri_ artinya terpaksa karena saya tidak merasa sebagai shahibul maqam bahkan aqrab (mendekati) pun tidak. Jadi saya ini Rais Am Dlaruri yang min haisu la yahtasib.

2. Saya sangat terkesan dengan al-alim al-allamah Kiai Bisri Syansuri. Pada Muktamar NU di Bandung beliau terpilih sebagai Rais Am dan Kiai Wahab Hasbullah sebagai Wakil Rais Am. Tapi Kiai Bisri tidak mau selama masih ada Kiai Wahab. Tawadlu'nya beliau itu memang luar biasa. Beliau jadi Rais Am setelah Kiai Wahab telah tiada. Inilah teladan yang harus kita wariskan untuk generasi setelahnya.

3. Beliau (Kiai Bisri) juga ulama yang istiqamah untuk i'daadul mutafaqqihina fid din wa rijaalal islah (mempersiapkan generasi-generasi ahli agama dan tokoh-tokoh gerakan perbaikan) melalui Pondok Pesantren Denanyar.

4. Selain itu, beliau juga konsisten melaksanakan tugas keumatan & kebangsaan melalui Nahdlatul Ulama. Sebab ulama memang punya tugas keumatan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW menjelang wafat, beliau tdk memperhatikan sesuatu yang terkait dengan keluarganya. Beliau tidak meneriakkan auladi atau azwaji (anakku/istriku), tetapi beliau mengatakan ummati (umatku). Maka keumatan ini menjadi tanggung jawab ulama secara jama'i atau mas'uliyah wathaniyah selain melakukan i'dadu mutafaqqihina fid din sebagai tanggung jawab fardiyah atau mas'uliyah wathaniyah. 

5. Sekarang ini tantangan mas'uliyah wathaniyah makin besar. Sekarang ini banyak orang yang sesat dan menyesatkan, maka kita harus menjaga umat dari akidah-akidah yang sesat. Kita harus melakukan himayatul umah dari pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Pertama, pemikiran yang tekstualis atau aljumud alal ma'qulat sebagaimana kata Imam Qarafi. Mereka berpendapat kalau tidak ada teksnya dikatakan bi'dah,  dlalalah, fin nar. Padahal menurut Imam Qarafi, justru tekstualis itulah kesesatan yang sesungguhnya. Imam Haramain juga pernah menyatakan bahwa syariat itu ada kakanya manshusah atau tersurat dalam nash dan ada kalanya ijtihadiyah. Sedangkan sebagian besar syariat itu adalah masalah ijtihadiyah karena nash itu terbatas sementara peristiwa-peristiwa aktual tidak pernah terbatas. Apakah itu masalah sosial, ekonomi, hukum, kesehatan dan sebagainya.
Kedua, pemikiran liberal yang memberikan penafsiran berlebihan sampai-sampai berpendapat bahwa nash bisa kalah dengan maslahat. Misalnya, poligami itu bisa diharamkan karena tidak maslahat, padahal nash Al-Qur'an jelas-jelas membolehkan.

6. Nah bagaimana dengan NU? Pemikiran NU itu laa tekstualian wa laa liberaliyan wa lakin tawasshutiyan, tathowuriyan wa manhajiyan. Pemikiran NU itu tdk tekstualis juga tidak liberal. Tapi pemikiran yang moderat, dinamis dan bermanhaj.
Pemikiran ini juga terlaksana dalam gerakan NU yang mempunyai ciri atau khashaish yaitu:
1. Layyinan atau santun sebagaimana sabda Rasululullah SAW:
 فبما رحمة الله فلنت لهم
2. Tathowu'iyan atau mengajak orang dengan suka rela. Tidak pernah NU mengajak orang dengan memaksa, mengintimidasi apalagi meneror
3. Tasamuh atau toleran. Sebab secara teologis Islam itu toleran tidak egois. Secara tekstual sudah jelas: لكم دينكم ولي دين, kemudian dikembangkan oleh para ulama menjadi lakum madzhabukum wa lana madzhabuna dan kalau dikembangkan lagi menjadi lakum partai-kum wa lana partai-una
4. Tawaddudiyan wa tarohumiyan atau saling mencintai & mengasihi,  tidak saling membenci dan memusuhi. Makanya kita mengenal tiga konsep ukhuwah, yaitu ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah & ukuwah insaniyah. Mestinya ada satu lagi ukhuwah yang harus dilaksanakan, yaitu ukhuwah nahdliyah.

Terakhir, Kiai Bisri ini adalah orang yang baik, alim dan shaleh. Beliau tidak hanya dicintai dan ditaati saat beliau masih hidup. Tapi sampai bertahun-tahun setelah wafat pun beliau masih dicintai, ditaati dan diteladani.

Jadi salah satu pesan yang bisa kita pelajari dari keteladanan beliau adalah: Ketika lahir, engkau menangis sementara orang-orang di sekitarmu tertawa, maka berjuanglah ketika engkau wafat nanti orang-orang di sekitarmu menangis tapi dirimu sendiri tertawa bahagia.

Sunday, February 26, 2017

Amalan Wanita Haidh (Menstruasi)


حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود

وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد

وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا

وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:

Imam Abdurrahman Bin Abdus Salam as-Shafuriy as-Syafii (wafat tahun 894 Hijriyah / 1489 Masehi) rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya Nuzhatul Majalis Wa Muntakhabun Nafais: Apabila wanita haidh selesai haidhnya, maka hendaknya ia mandi dan mengerjakan shalat dua rakaat. Setiap rakaatnya membaca al-Fatihah dan lanjut membaca Qul Huwallahu Ahad (surat al-Ikhlash) 3 kali, maka Allah Ta'ala akan memberikan ampunan bagi dosa-dosa yang ia pernah lakukan baik dosa kecil maupun besar dan Allah Ta'ala perintahkan malaikat untuk tidak mencatat dosa-dosanya sampai haidh yang akan datang, diberikan pahala 60 orang yang syahid, dibangunkan kota di dalam surga, setiap rambut yang ada di kepalanya bercahaya, bila ia meninggal dalam keadaan haidh berikutnya dicatat seperti orang yang mati syahid. Masa-masa haidh yang dialami seorang perempuan menjadi penggugur dosa-dosanya yang lalu.

Doa saat wanita mengalami haidh:

الحمد لله على كل حال وأستغفر الله من كل ذنب

Alhamdulillahi ala kulli hal, wa astaghfirullaha min kulli dzamb

Artinya: Segala puji bagi Allah atas segala kondisi dan keadaan, aku mohon ampun kepada Allah dari segala dosa.

Siapa saja dari wanita di hari pertama mengalami haidh ia membaca dzikir tersebut, maka Allah Ta'ala memberikan pembebasan dari api neraka dan kemudahan untuk melewati Shirat (titian hari kiamat) serta aman dari azab neraka.

Saat wanita haidh diharamkan melakukan shalat tetapi masih ada amalan berfadhilah besar yang ia dapatkan dengan membaca istighfar 70 kali di setiap datang waktu shalat. Siapa saja wanita yang sedang haidh membaca istighfar 70 kali pada setiap datang  waktu shalat fardhu, maka Allah Ta'ala akan memberikan kepadanya pahala orang yang melakukan shalat sunnah 1000 rakaat, mendapat ampunan 70 macam dosa dan Allah bangunkan kota megah di surga sebanyak jumlah bulu dan rambut yang ada pada jasadnya.

Adapun sanad muttashil kepada Imam Abdurrahman Bin Abdus Salam as-Shafuriy as-Syafii (wafat tahun 894 Hijriyah / 1489 Masehi) rahimahullah pengarang kitab Nuzhatul Majalis Wa Muntakhabun Nafais, sebagai berikut:

الحاج رزقي ذو القرنين اصمت البتاوي عن السيد عبد الرحمن الكتاني عن والده الحافظ السيد محمد عبد الحي الكتاني عن شيخه السكري عن الكزبري عن الرحمتي عن النابلسي عن النجم محمد الغزي عن محمد بن عبد الرحمن الصفوري عن والده عبد الرحمن بن عبد السلام الصفوري رحمه الله 

Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya Abu Mun'yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 29.

Referensi:
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy

Tuesday, November 22, 2016

ULAMA-KU DAN ULAMA-MU


Perspektifmu tentang sosok ulama itu apakah sama denganku?

Kau menganggap ulama itu orang yang hanya bermodal hafalan sepotong-sepotong ayat al-Quran dan Hadits, lalu disampaikannya ke publik dengan berbagai macam asesoris pakaiannya yang menyamai orang Arab, dan mudah mengumbar kata-kata kasar hingga seluruh binatang yang tak bersalah apa-apa dibawa-bawa namanya. Atau kalau bukan yang seperti itu, kau mengira ulama itu adalah orang yang bicaranya santun, lembut, banyak sedekahnya, akan tetapi dalam kesantunannya, dalam kelembutannya terdapat banyak duri yang kerap melukai perasaan orang lain yang tak bersalah tanpa dapat kau mengerti karena begitu lihainya ia menyembunyikan duri di balik kelembutan dan kesantunannya. Dalam sedekahnya terdapat banyak kas negara yang telah diambilnya dari para pencoleng yang ingin berlindung di bawah nama besarnya.

Ulama dalam pikiranku dan yang selalu ku puja dari dalam hatiku yang sepi itu, bukanlah ulama yang seperti itu. Ulama yang aku cintai, sayangi dan kagumi adalah ulama-ulama yang sederhana. Ia hafal berbagai ayat al-Quran, Hadits dan memahami arti sunnah Nabi tetapi tak pernah membubuhkan Kyai Haji di depan namanya. Ulama yang karena keprihatinannya pada keadaan perekonomian umat yang banyak mengalami kesusahan, ia tak pernah memamerkan kekayaannya. Ulama yang meski luas wawasan keilmuannya ia tak pernah mudah menyesatkan orang lain yang tak sehaluan dengan pandangannya. Ulama yang meski tampan wajahnya tak pernah menggandakan istrinya. Ulama yang meski sudah sepuh dan mengerti benar persoalan berbagai zaman tapi tak pernah merasa mengerti dan memahami semua persoalan yang dihadapinya. Ulama yang diam tanpa bicara sepatah kata meski kaum pandir berbicara di depan lautan massa dan mengklaim sebagai ulama seperti dirinya dan para ulama lain pendahulunya.

Ulamamu bukanlah ulamaku. Ulamamu mengendarai mobil Pajero Sport atau Alphard keluaran terbaru lengkap dengan para pengawalnya, tetapi ulamaku masih tetap hidup sederhana, berjalan kaki memakai tongkat tanpa pengawalan, atau hanya bersepeda meski para pengikutnya terdiri dari orang-orang yang menguasai negara hingga para tukang tambal ban di tepi jalan raya. Ulama yang tertunduk sambil membaca doa untuk para pencemoohnya. Ulama yang meredam amarah kaum beriman yang dibutakan oleh kesalah pahaman syakwasangkanya. Ulama yang tetap setia hormat pada sang saka merah putih, yang menerima dengan ikhlas, lapang dada pada Pancasila dan Konstitusi Negara meski seluruh ayat al-Quran dan ribuan Hadits dihafalnya.

Ulama yang menghormati Umara (Pejabat Pemerintahan) meski mungkin ia dahulu tak memilihnya. Ulama yang tidak memanggilmu dengan Antum, Akhie, atau menyebut dirinya sendiri dengan Ana, tetapi memanggilmu dengan Sampeyan, Panjenengan, Anjeun, Kau dan menyebut dirinya sendiri dengan Saya, Aku, Kulo, Abdi dll.nya meski Bahasa Arab telah dikuasainya. Ulama yang bangga dengan Tanah Airnya dan mencintai bangsanya beserta budaya, adat, suku, bahasa dan keaneka ragaman lainnya hingga ia tak pernah sudi mengemis ke Saudi Arabiah, untuk menerima bantuan dengan alasan menyelamatkan aqidah dengan cara menyesatkan, bahkan tega membakar rumah dan sarana ibadah saudara seagamanya sendiri yang telah dianggapnya Syiah. Ulama yang tetap rendah hati tak mau mencalonkan diri sebagai Presiden saat menjelang Pilpres, atau mencalonkan diri sebagai Gubernur, Bupati atau Walikota saat menjelang Pilkada meski para pengikutnya berjuta-juta. Itulah ulamaku yang ku kagumi dan ku puji dalam keheningan hari-hariku.

Wallahu a'lamu bissawab..

Friday, November 11, 2016

NAMA-NAMA NABI

TABARRUK DENGAN ASMA PARA NABI

Dalam tauhid Aswaja (berarti bukan wahabi) nama-nama Rasul yang wajib dihapal dan diketahui ada 25. Padahal, sudah masyhur diketahui bahwa jumlah keseluruhan para Rosul itu ada 313. Mungkin banyak yang tidak mengetahui satu-per satu nama-nama Rasul sejumlah 313 tersebut.

Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani (kelahiran Tanara, Serang, Banten tahun 1813 M dan wafat di Mekkah tahun 1897 M) dalam karyanya Ats-Tsamaru Al-Yani’ah fi Riyadh Al-Badi’ah menulis tentang keutamaan bertawassul atau tabarruk dengan 313 nama Rasul itu.

ﻓﻤﻦ ﻛﺘﺐ ﺍﺳﻤﺎﺋﻬﻢ ﻭﻭﺿﻌﻬﻢ ﻓﻰ ﺑﻴﺘﻪ ﺍﻭ ﻗﺮﺍﻫﺎ ﺍﻭﺣﻤﻠﻬﺎ ﺗﻌﻈﻴﻤﺎ ﻟﻬﻢ ﻭﺗﻜﺮﻳﻤﺎ ﻟﺬﻭﺍﺗﻬﻢ ﻭﺍﺣﺘﺮﺍﻣﺎ ﻟﻨﺒﻮﺗﻬﻢ ﻭﺍﺳﺘﻤﺪﺍﺩﺍ ﻣﻦ ﻫﻤﻤﻬﻢ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ ﻭﺍﺳﺘﻐﺎﺛﺔ ﺑﺎﺭﻭﺍﺣﻬﻢ ﺍﻟﻤﻘﺪﺳﺔ ﺳﻬﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻣﻮﺭﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺍﻻﺧﺮﺓ ﻭﻓﺘﺢ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺨﻴﺮﺍﺕ ﻭﻧﺰﻭﻝ ﺍﻟﺮﺣﻤﺔ ﻭﺍﻟﺒﺮﻛﺎﺕ ﻭﺩﻓﻊ ﻋﻨﻪ ﺍﻟﺸﺮﻭﺭ , ﻭﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺣﻴﺎﺗﻬﻢ ﻭﻣﻤﺎﺗﻬﻢ ﺳﻮﺍﺀ ﻓﻬﻢ ﻣﺘﺼﺮﻓﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻻﺭﺽ ﻭﺍﻟﺴﻤﺎﺀ .

"Barangsiapa yang menulis nama-nama rasul dan meletakkannya di rumah atau membacanya atau membawanya dengan mengagungkan mereka, memuliakan keberadaan mereka, menghormati kenabian mereka, berharap dari keinginan mereka yang tinggi dan beristighatsah dengan ruh-ruh mereka yang suci, maka akan dimudahkan oleh Allah Swt. segala urusan di dunia dan akhirat. Dan akan dibukakan pintu-pintu kebaikan dan diturunkan rahmat, keberkahan serta menolak segala kejelekan."

Rasulullah Saw. bersabda: “Hidup dan matinya mereka (para rasul) itu sama saja, tetap beraktivitas (hidup) di bumi dan di langit.

ﻭﺍﻟﻤﺸﻬﻮﺭ ﺍﻥ ﺍﻟﻤﺮﺳﻠﻴﻦ ﺛﻼﺛﻤﺎﺋﺔ ﻭﺛﻼﺛﺎ ﻋﺸﺮ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻲ ﺫﺭ ﻭﻫﺎﻫﻲ ﺍﺳﻤﺎﺅﻫﻢ ﻋﻠﻰ ﻣﺎﺭﻭﻯ ﻋﻦ ﺍﻧﺲ : ﺍﺩﻡ , ﺷﻴﺚ , ﺍﻧﻮﺵ , ﻗﻴﻨﺎﻕ , ﻣﻬﻴﺎﺋﻴﻞ , ﺍﺧﺘﻮﺥ , ﺍﺩﺭﻳﺲ , ﻣﺘﻮﺷﻠﺦ , ﻧﻮﺡ , ﻫﻮﺩ , ﻋﺒﻬﻒ , ﻣﺮﺩﺍﺭﻳﻢ , ﺷﺎﺭﻉ , ﺻﺎﻟﺢ , ﺍﺭﻓﺨﺸﺬ , ﺻﻔﻮﺍﻥ , ﺣﻨﻈﻠﺔ , ﻟﻮﻁ , ﻋﺼﺎﻥ , ﺍﺑﺮﺍﻫﻴﻢ , ﺍﺳﻤﻌﻴﻞ , ﺍﺳﺤﻖ , ﻳﻌﻘﻮﺏ , ﻳﻮﺳﻒ , ﺷﻤﺎﺋﻴﻞ , ﺷﻌﻴﺐ , ﻣﻮﺳﻰ , ﻟﻮﻃﺎﻥ , ﻳﻌﻮﺍ , ﻫﺮﻭﻥ , ﻛﻠﻴﻞ , ﻳﻮﺷﻊ , ﺩﺍﻧﻴﺎﻝ , ﺑﻮﻧﺶ , ﺑﻠﻴﺎ , ﺍﺭﻣﻴﺎ , ﻳﻮﻧﺲ , ﺍﻟﻴﺎﺱ , ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ , ﺩﺍﻭﺩ , ﺍﻟﻴﺴﻊ , ﺍﻳﻮﺏ , ﺍﻭﺱ , ﺫﺍﻧﻴﻦ , ﺍﻟﻬﻤﻴﻊ , ﺛﺎﺑﺖ , ﻏﺎﺑﺮ , ﻫﻤﻴﻼﻥ , ﺫﻭﺍﻟﻜﻔﻞ , ﻋﺰﻳﺮ , ﻋﺰﻗﻼﻥ , ﻋﺰﺍﻥ , ﺍﻟﻮﻭﻥ , ﺯﺍﻳﻦ , ﻋﺎﺯﻡ , ﻫﺮﻳﺪ , ﺷﺎﺫﻥ , ﺳﻌﺪ , ﻏﺎﻟﺐ , ﺷﻤﺎﺱ , ﺷﻤﻌﻮﻥ , ﻓﻴﺎﺽ , ﻗﻀﺎ , ﺳﺎﺭﻡ , ﻋﻴﻨﺎﺽ , ﺳﺎﻳﻢ , ﻋﻮﺿﻮﻥ , ﺑﻴﻮﺯﺭ , ﻛﺰﻭﻝ , ﺑﺎﺳﻞ , ﺑﺎﺳﺎﻥ , ﻻﺧﻴﻦ , ﻏﻠﻀﺎﺕ , ﺭﺳﻮﻍ , ﺭﺷﻌﻴﻦ , ﺍﻟﻤﻮﻥ , ﻟﻮﻍ , ﺑﺮﺳﻮﺍ , ﺍﻻﻇﻴﻢ , ﺭﺷﺎﺩ , ﺷﺮﻳﺐ , ﻫﻴﺒﻞ , ﻣﻴﻼﻥ , ﻋﻤﺮﺍﻥ , ﻫﺮﻳﻴﺐ , ﺟﺮﻳﺖ , ﺷﻤﺎﻉ , ﺻﺮﻳﺦ , ﺳﻔﺎﻥ , ﻗﺒﻴﻞ , ﺿﻌﻀﻊ , ﻋﻴﺼﻮﻥ , ﻋﻴﺼﻒ , ﺻﺪﻳﻒ , ﺑﺮﻭﺍﺀ , ﺣﺎﺻﻴﻢ , ﻫﻴﺎﻥ , ﻋﺎﺻﻢ , ﻭﺟﺎﻥ , ﻣﺼﺪﺍﻉ , ﻋﺎﺭﻳﺲ , ﺷﺮﺣﺒﻴﻞ , ﺧﺮﺑﻴﻞ , ﺣﺰﻗﻴﻞ , ﺍﺷﻤﻮﺋﻴﻞ , ﻏﻤﺼﺎﻥ , ﻛﺒﺒﺮ , ﺳﺒﺎﻁ , ﻋﺒﺎﺩ ﺑﺜﻠﺦ , ﺭﻳﻬﺎﻥ , ﻋﻤﺪﺍﻥ , ﻣﺮﻗﺎﻥ , ﺣﻨﺎﻥ , ﻟﻮﺣﻨﺎ , ﻭﻻﻡ , ﺑﻌﻴﻮﻝ , ﺑﺼﺎﺹ , ﻫﺒﺎﻥ , ﺍﻓﻠﻴﻖ , ﻗﺎﺯﻳﻢ , ﻧﺼﻴﺮ , ﺍﻭﺭﻳﺲ , ﻣﻀﻌﺲ , ﺟﺬﻳﻤﺔ , ﺷﺮﻭﺣﻴﻞ , ﻣﻌﻨﺎﺋﻴﻞ , ﻣﺪﺭﻙ , ﺣﺎﺭﻡ , ﺑﺎﺭﻍ ﻫﺮﻣﻴﻞ , ﺟﺎﺑﺪ , ﺯﺭﻗﺎﻥ , ﺍﺻﻔﻮﻥ , ﺑﺮﺟﺎﺝ , ﻧﺎﻭﻯ , ﻫﺰﺭﺍﺑﻦ ﺍﺷﺒﻴﻞ , ﻋﻄﺎﻑ , ﻣﻬﻴﻞ , ﺯﻧﺠﻴﻞ , ﺷﻤﻄﺎﻥ , ﺍﻟﻘﻮﻡ , ﺣﻮﺑﻠﺪ , ﺻﺎﻟﺢ , ﺳﺎﻧﻮﺥ , ﺭﺍﻣﻴﻞ , ﺯﺍﻣﻴﻞ , ﻗﺎﺳﻢ , ﺑﺎﻳﻴﻞ , ﺑﺎﺯﻝ , ﻛﺒﻼﻥ , ﺑﺎﺗﺮ , ﺣﺎﺟﻢ , ﺟﺎﻭﺡ , ﺟﺎﻣﺮ , ﺣﺎﺟﻦ , ﺭﺍﺳﻞ , ﻭﺍﺳﻢ , ﺭﺍﺩﻥ , ﺳﺎﺩﻡ , ﺷﻮﺷﺎ , ﺟﺎﺯﺍﻥ , ﺻﺎﺣﺪ , ﺻﺤﺒﺎﻥ , ﻛﻠﻮﺍﻥ , ﺻﺎﻋﺪ , ﻏﻔﺮﺍﻥ , ﻏﺎﻳﺮ , ﻻﺣﻮﻥ , ﺑﻠﺪﺥ , ﻫﻴﺪﺍﻥ , ﻻﻭﻯ , ﻫﻴﺮﺍﺀ , ﻧﺎﺻﻰ , ﺣﺎﻧﻚ , ﺣﺎﻓﻴﺦ , ﻛﺎﺷﻴﺦ , ﻻﻓﺚ , ﻧﺎﻳﻢ , ﺣﺎﺷﻢ , ﻫﺠﺎﻡ , ﻣﻴﺰﺍﺩ , ﺍﺳﻴﻤﺎﻥ , ﺭﺣﻴﻼ , ﻻﻃﻒ , ﺑﺮﻃﻔﻮﻥ , ﺍﺑﺎﻥ , ﻋﻮﺭﺍﺋﺾ , ﻣﻬﻤﺘﺼﺮ , ﻋﺎﻧﻴﻦ , ﻧﻤﺎﺥ , ﻫﻨﺪﻭﻳﻞ , ﻣﺒﺼﻞ , ﻣﻀﻌﺘﺎﻡ , ﻃﻤﻴﻞ , ﻃﺎﺑﻴﺢ , ﻣﻬﻤﻢ ﺣﺠﺮﻡ , ﻋﺪﻭﻥ , ﻣﻨﺒﺪ , ﺑﺎﺭﻭﻥ , ﺭﻭﺍﻥ , ﻣﻌﺒﻦ , ﻣﺰﺍﺣﻢ , ﻳﺎﻧﻴﺪ , ﻻﻣﻰ , ﻓﺮﺩﺍﻥ , ﺟﺎﺑﺮ , ﺳﺎﻟﻮﻡ , ﻋﻴﺺ , ﻫﺮﺑﺎﻥ , ﺟﺎﺑﻮﻙ , ﻋﺎﺑﻮﺝ , ﻣﻴﻨﺎﺕ , ﻗﺎﻧﻮﺡ , ﺩﺭﺑﺎﻥ , ﺻﺎﺧﻢ , ﺣﺎﺭﺽ , ﺣﺮﺍﺽ , ﺣﺮﻗﻴﺎ , ﻧﻌﻤﺎﻥ , ﺍﺯﻣﻴﻞ , ﻣﺰﺣﻢ , ﻣﻴﺪﺍﺱ , ﻳﺎﻧﻮﺡ , ﻳﻮﻧﺲ , ﺳﺎﺳﺎﻥ , ﻓﺮﻳﻢ , ﻓﺮﻳﻮﺵ , ﺻﺤﻴﺐ , ﺭﻛﻦ , ﻋﺎﻣﺮ , ﺳﺤﻨﻖ , ﺯﺍﺧﻮﻥ , ﺣﻴﻨﻴﻢ , ﻋﻴﺎﺏ , ﺻﺒﺎﺡ , ﻋﺮﻓﻮﻥ , ﻣﺨﻼﺩ , ﻣﺮﺣﻢ , ﺻﺎﻧﻴﺪ , ﻏﺎﻟﺐ , ﻋﺒﺪﺍﻟﻠﻪ , ﺍﺩﺭﺯﻳﻦ , ﻋﺪﺳﺎﺭ , ﺯﻫﺮﺍﻥ , ﺑﺎﻳﻊ , ﻧﻈﻴﺮ , ﻫﻮﺭﻳﻦ , ﻛﺎﻳﻮﺍﺷﻴﻢ , ﻓﺘﻮﺍﻥ , ﻋﺎﺑﻮﻥ , ﺭﺑﺎﺥ , ﺻﺎﺑﺢ , ﻣﺴﻠﻮﻥ , ﺣﺠﺎﻥ , ﺭﻭﺑﺎﻝ , ﺭﺍﺑﻮﻥ , ﻣﻌﻴﻼ , ﺳﺎﻳﻌﺎﻥ , ﺍﺭﺟﻴﻞ , ﺑﻴﻐﻴﻦ , ﻣﺘﻀﺢ , ﺭﺣﻴﻦ , ﻣﺤﺮﺍﺱ , ﺳﺎﺧﻴﻦ , ﺣﺮﻓﺎﻥ , ﻣﻬﻤﻮﻥ , ﺣﻮﺿﺎﻥ , ﺍﻟﺒﺆﻥ , ﻭﻋﺪ , ﺭﺧﻴﻮﻝ , ﺑﻴﻐﺎﻥ , ﺑﺘﻴﺤﻮﺭ , ﺣﻮﻇﺒﺎﻥ , ﻋﺎﻣﻞ , ﺯﺣﺮﺍﻡ , ﻋﻴﺲ , ﺻﺒﻴﺢ , ﻳﻄﺒﻊ , ﺟﺎﺭﺡ , ﺻﻬﻴﺐ , ﺻﺒﺤﺎﻥ , ﻛﻠﻤﺎﻥ , ﻳﻮﺧﻰ , ﺳﻤﻴﻮﻥ , ﻋﺮﺿﻮﻥ , ﺣﻮﺣﺮ , ﻳﻠﺒﻖ , ﺑﺎﺭﻉ , ﻋﺎﺋﻴﻞ , ﻛﻨﻌﺎﻥ , ﺣﻔﺪﻭﻥ , ﺣﺴﻤﺎﻥ , ﻳﺴﻤﻊ , ﻋﺮﻓﻮﺭ , ﻋﺮﻣﻴﻦ , ﻓﻀﺤﺎﻥ , ﺻﻔﺎ , ﺷﻤﻌﻮﻥ , ﺭﺻﺎﺹ , ﺍﻗﻠﺒﻮﻥ , ﺷﺎﺧﻢ , ﺧﺎﺋﻴﻞ , ﺍﺣﻴﺎﻝ , ﻫﻴﺎﺝ , ﺯﻛﺮﻳﺎ , ﻳﺤﻴﻰ , ﺟﺮﺟﻴﺲ , ﻋﻴﺴﻰ ﺑﻦ ﻣﺮﻳﻢ , ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﺟﻤﻌﻴﻦ .

Dan menurut pendapat yang masyhur, sesungguhnya para rasul itu berjumlah 313, seperti yang disebutkan dalam hadits riwayat Abu Dzar Ra. Dan inilah nama-nama Rasul itu seperti yang diriwayatkan dari shohabat Anas Ra.:
1. Adam As.
2. Tsits As.
3. Anuwsy As.
4. Qiynaaq As.
5. Mahyaa’iyl As.
6. Akhnuwkh As.
7. Idris As.
8. Mutawatsilakh As.
9. Nuh As.
10. Hud As.
11. Abhaf As.
12. Murdaaziyman As.
13. Tsari’ As.
14. Sholeh As.
15. Arfakhtsyad As.
16. Shofwaan As.
17. Handholah As.
18. Luth As.
19. Ishoon As.
20. Ibrahim As.
21. Isma’il As.
22. Ishaq As.
23. Ya’qub As.
24. Yusuf As.
25. Tsama’il As.
26. Su’aib As.
27. Musa As.
28. Luthoon As.
29. Ya’wa As.
30. Harun As.
31. Kaylun As.
32. Yusya’ As.
33. Daaniyaal As.
34. Bunasy As.
35. Balyaa As.
36. Armiyaa As.
37. Yunus As.
38. Ilyas As.
39. Sulaiman As.
40. Daud As.
41. Ilyasa’ As.
42. Ayub As.
43. Aus As.
44. Dzanin As.
45. Alhami’ As.
46. Tsabits As.
47. Ghobir As.
48. Hamilan As.
49. Dzulkifli As.
50. Uzair As.
51. Azkolan As.
52. Izan As.
53. Alwun As.
54. Zayin As.
55. Aazim As.
56. Harbad As.
57. Syadzun As.
58. Sa’ad As.
59. Gholib As.
60. Syamaas As.
61. Syam’un As.
62. Fiyaadh As.
63. Qidhon As.
64. Saarom As.
65. Ghinadh As.
66. Saanim As.
67. Ardhun As.
68. Babuzir As.
69. Kazkol As.
70. Baasil As.
71. Baasan As.
72. Lakhin As.
73. Ilshots As.
74. Rasugh As.
75. Rusy’in As.
76. Alamun As.
77. Lawqhun As.
78. Barsuwa As.
79. Al-‘Adzim As.
80. Ratsaad As.
81. Syarib As.
82. Habil As.
83. Mublan As.
84. Imron As.
85. Harib As.
86. Jurits As.
87. Tsima’ As.
88. Dhorikh As.
89. Sifaan As.
90. Qubayl As.
91. Dhofdho As.
92. Ishoon As.
93. Ishof As.
94. Shodif As.
95. Barwa’ As.
96. Haashiim As.
97. Hiyaan As.
98. Aashim As.
99. Wijaan As.
100. Mishda’ As.
101. Aaris As.
102. Syarhabil As.
103. Harbiil As.
104. Hazqiil As.
105. Asymu’il As.
106. Imshon As.
107. Kabiir As.
108. Saabath As.
109. Ibaad As.
110. Basylakh As.
111. Rihaan As.
112. Imdan As.
113. Mirqoon As.
114. Hanaan As.
115. Lawhaan As.
116. Walum As.
117. Ba’yul As.
118. Bishosh As.
119. Hibaan As.
120. Afliq As.
121. Qoozim As.
122. Ludhoyr As.
123. Wariisa As.
124. Midh’as As.
125. Hudzamah As.
126. Syarwahil As.
127. Ma’n’il As.
128. Mudrik As.
129. Hariim As.
130. Baarigh As.
131. Harmiil As.
132. Jaabadz As.
133. Dzarqon As.
134. Ushfun As.
135. Barjaaj As.
136. Naawi As.
137. Hazruyiin As.
138. Isybiil As.
139. Ithoof As.
140. Mahiil As.
141. Zanjiil As.
142. Tsamithon As.
143. Alqowm As.
144. Hawbalad As.
145. Solih As.
146. Saanukh As.
147. Raamiil As.
148. Zaamiil As.
149. Qoosim As.
150. Baayil As.
151. Yaazil As.
152. Kablaan As.
153. Baatir As.
154. Haajim As.
155. Jaawih As.
156. Jaamir As.
157. Haajin As.
158. Raasil As.
159. Waasim As.
160. Raadan As.
161. Saadim As.
162. Syu’tsan As.
163. Jaazaan As.
164. Shoohid As.
165. Shohban As.
166. Kalwan As.
167. Shoo’id As.
168. Ghifron As.
169. Ghooyir As.
170. Lahuun As.
171. Baldakh As.
172. Haydaan As.
173. Lawii As.
174. Habro’a As.
175. Naashii As.
176. Haafik As.
177. Khoofikh As.
178. Kaashikh As.
179. Laafats As.
180. Naayim As.
181. Haasyim As.
182. Hajaam As.
183. Miyzad As.
184. Isyamaan As.
185. Rahiilan As.
186. Lathif As.
187. Barthofun As.
188. A’ban As.
189. Awroidh As.
190. Muhmuthshir As.
191. Aaniin As.
192. Namakh As.
193. Hunudwal As.
194. Mibshol As.
195. Mudh’ataam As.
196. Thomil As.
197. Thoobikh As.
198. Muhmam As.
199. Hajrom As.
200. Adawan As.
201. Munbidz As.
202. Baarun As.
203. Raawan As.
204. Mu’biin As.
205. Muzaahiim As.
206. Yaniidz As.
207. Lamii As.
208. Firdaan As.
209. Jaabir As.
210. Saalum As.
211. Asyh As.
212. Harooban As.
213. Jaabuk As.
214. Aabuj As.
215. Miynats As.
216. Qoonukh As.
217. Dirbaan As.
218. Shokhim As.
219. Haaridh As.
220. Haarodh As.
221. Harqiil As.
222. Nu’man As.
223. Azmiil As.
224. Murohhim As.
225. Midaas As.
226. Yanuuh As.
227. Yunus As.
228. Saasaan As.
229. Furyum As.
230. Farbusy As.
231. Shohib As.
232. Ruknu As.
233. Aamir As.
234. Sahnaq As.
235. Zakhun As.
236. Hiinyam As.
237. Iyaab As.
238. Shibah As.
239. Arofun As.
240. Mikhlad As.
241. Marhum As.
242. Shonid As.
243. Gholib As.
244. Abdullah As.
245. Adruzin As.
246. Idasaan As.
247. Zahron As.
248. Bayi’ As.
249. Nudzoyr As.
250. Hawziban As.
251. Kaayiwuasyim As.
252. Fatwan As.
253. Aabun As.
254. Rabakh As.
255. Shoobih As.
256. Musalun As.
257. Hijaan As.
258. Rawbal As.
259. Rabuun As.
260. Mu’iilan As.
261. Saabi’an As.
262. Arjiil As.
263. Bayaghiin As.
264. Mutadhih As.
265. Rahiin As.
266. Mihros As.
267. Saahin As.
268. Hirfaan As.
269. Mahmuun As.
270. Hawdhoon As.
271. Alba’uts As.
272. Wa’id As.
273. Rahbul As.
274. Biyghon As.
275. Batiihun As.
276. Hathobaan As.
277. Aamil As.
278. Zahirom As.
279. Iysaa As.
280. Shobiyh As.
281. Yathbu’ As.
282. Jaarih As.
283. Shohiyb As.
284. Shihats As.
285. Kalamaan As.
286. Bawumii As.
287. Syumyawun As.
288. Arodhun As.
289. Hawkhor As.
290. Yaliyq As.
291. Bari’ As.
292. Aa’iil As.
293. Kan’aan As.
294. Hifdun As.
295. Hismaan As.
296. Yasma’ As.
297. Arifur As.
298. Aromin As.
299. Fadh’an As.
300. Fadhhan As.
301. Shoqhoon As.
302. Syam’un As.
303. Rishosh As.
304. Aqlibuun As.
305. Saakhim As.
306. Khoo’iil As.
307. Ikhyaal As.
308. Hiyaaj As.
309. Zakariya As.
310. Yahya As.
311. Jurhas As.
312. Isa As.
313. Muhammad Saw.

Sesuai dengan konteks kekinian, kalau kita posting ataupun share status 313 nama-nama rasul ini insya Allah juga akan mendapatkan keutamaan sebagaimana mereka yang meletakkannya di rumah atau membacanya atau membawanya dengan mengagungkan mereka, memuliakan keberadaan mereka, menghormati kenabian mereka, berharap dari keinginan mereka yang tinggi dan beristighatsah dengan ruh-ruh mereka yang suci, sebagaimana disebutkan di atas. Aamiin.

Wednesday, November 27, 2013

I S T I G H O S A H


Allah telah berjanji
Janji Allah itu pasti
jadi janganlah sangsi
"Ud'unii astajiblakum"

Kalau doamu belum dikabulkan

pada Allah kamu jangan bersu'udzon
karena Allah lah pemilik kebijaksanaan
kesabaran itu harus diutamakan

Kalau doa-doamu tidak dan atau belum Allah ijabahi

kamu harus berusaha mawas diri
misalnya dalam dirimu ada hasil mencuri
mungkin ada hasil manipulasi atau korupsi
jelas doamu akan Allah ingkari

"Ud'unii astajiblakum" itu pasti
kadang dikabulkan sesuai permintaan
kadang ijabah-NYA terhindar dari musibah
kadang doamu untuk menghapus dosamu
Allah lah yang Maha Tahu, bukan kamu

jadi jangan ragu dengan doa-doamu
lalu kamu kumpulkan ribuan temanmu
untuk doa bersama-sama di jalan raya
busananya kamu minta putih-putih semua
kamu undang satu-dua tokoh berkharisma
istighosah kubro kamu beri nama
itu sama saja dengan demonstrasi doa
sama saja dengan tidak percaya akan janji-NYA
apa itu ada contoh dari Rasulullah..???

mau lulusan sekolah,
kamu adakan acara istighosah
mau nyaleg lagi,
acara istighosahnya ngundang kyai
mau mbangun pesantren,
istighosah ngundang banyak dermawan
kadang istighosah pun kamu politisasi
hingga istighosah jadi sebuah tradisi

"Ud'unii astajiblakum"

Saturday, November 16, 2013

9 Nilai Dasar Gus Dur




1.       Ketauhidan
Ketauhidan bersumber dari keimanan kepada Allah sebagai yang Maha Ada, satu-satunya Dzat hakiki yang Maha Cinta Kasih, yang disebut dengan berbagai nama. Ketauhidan didapatkan lebih dari sekadar diucapkan dan dihafalkan, tetapi juga disaksikan dan disingkapkan. Ketauhidan menghujamkan kesadaran terdalam bahwa Dia adalah sumber dari segala sumber dan rahmat kehidupan di jagad raya. Pandangan ketauhidan menjadi poros nilai-nilai ideal yang diperjuangkan Gus Dur melampaui kelembagaan dan birokrasi agama. Ketauhidan yang bersifat ilahi itu diwujudkan dalam perilaku dan perjuangan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.

2.       Kemanusiaan
Kemanusiaan bersumber dari pandangan ketauhidan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan paling mulia yang dipercaya untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Kemanusiaan merupakan cerminan sifat-sifat ketuhanan. Kemuliaan yang ada dalam diri manusia mengharuskan sikap untuk saling menghargai dan menghormati. Memuliakan manusia berarti memuliakan Penciptanya, demikian juga merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan Tuhan Sang Pencipta. Dengan pandangan inilah, Gus Dur membela kemanusiaan tanpa syarat.

3.       Keadilan
Keadilan bersumber dari pandangan bahwa martabat kemanusiaan hanya bisa dipenuhi dengan adanya keseimbangan, kelayakan, dan kepantasan dalam kehidupan masyarakat. Keadilan tidak sendirinya hadir di dalam realitas kemanusiaan dan karenanya harus diperjuangkan. Perlindungan dan pembelaan pada kelompok masyarakat yang diperlakukan tidak adil, merupakan tanggungjawab moral kemanusiaan. Sepanjang hidupnya, Gus Dur rela dan mengambil tanggungjawab itu, ia berpikir dan berjuang untuk menciptakan keadilan di tengah-tengah masyarakat.

4.       Kesetaraan
Kesetaraan bersumber dari pandangan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan. Kesetaraan meniscayakan adanya perlakuan yang adil, hubungan yang sederajat, ketiadaan diskriminasi dan subordinasi, serta marjinalisasi dalam masyarakat. Nilai kesetaraan ini, sepanjang kehidupan Gus Dur, tampak jelas ketika melakukan pembelaan dan pemihakan terhadap kaum tertindas dan dilemahkan, termasuk di dalamnya adalah kelompok minoritas dan kaum marjinal.

5.       Pembebasan
Pembebasan bersumber dari pandangan bahwa setiap manusia memiliki tanggungjawab untuk menegakkan kesetaraan dan keadilan, untuk melepaskan diri dari berbagai bentuk belenggu. Semangat pembebasan hanya dimiliki oleh jiwa yang merdeka, bebas dari rasa takut, dan otentik. Dengan nilai pembebasan ini, Gus Dur selalu mendorong dan memfasilitasi tumbuhnya jiwa-jiwa merdeka yang mampu membebaskan dirinya dan manusia lain.

6.       Kesederhanaan
Kesederhanaan bersumber dari jalan pikiran substansial, sikap dan perilaku hidup yang wajar dan patut. Kesederhanaan menjadi konsep kehidupan yang dihayati dan dilakoni sehingga menjadi jati diri. Kesederhanaan menjadi budaya perlawanan atas sikap berlebihan, materialistis, dan koruptif. Kesederhanaan Gus Dur dalam segala aspek kehidupannya menjadi pembelajaran dan keteladanan.

7.       Persaudaraan
Persaudaraan bersumber dari prinsip-prinsip penghargaan atas kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan semangat menggerakkan kebaikan. Persaudaraan menjadi dasar untuk memajukan peradaban. Sepanjang hidupnya, Gus Dur memberi teladan dan menekankan pentingnya menjunjung tinggi persaudaraan dalam masyarakat, bahkan terhadap yang berbeda keyakinan dan pemikiran.

8.       Keksatriaan
Keksatriaan bersumber dari keberanian untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai yang diyakini dalam mencapai keutuhan tujuan yang ingin diraih. Proses perjuangan dilakukan dengan mencerminkan integritas pribadi: penuh rasa tanggung jawab atas proses yang harus dijalani dan konsekuensi yang dihadapi, komitmen yang tinggi serta istiqomah. Keksatriaan yang dimiliki Gus Dur mengedepankan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani proses, seberat apapun, serta dalam menyikapi hasil yang dicapainya.


9.       Kearifan Lokal
Kearifan lokal bersumber dari nilai-nilai sosial-budaya yang berpijak pada tradisi dan praktik terbaik kehidupan masyarakat setempat. Kearifan lokal Indonesia di antaranya berwujud dasar negara Pancasila, Konstitusi UUD 1945, prinsip Bhineka Tunggal Ika, dan seluruh tata nilai kebudayaan Nusantara yang beradab. Gus Dur menggerakkan kearifan lokal dan menjadikannya sebagai sumber gagasan dan pijakan sosial-budaya-politik dalam membumikan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan, tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap perkembangan peradaban.

http://gusdurian.net/9-nilai-dasar-gus-dur/