This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Laman

Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Friday, June 12, 2020

Agar Anak-anak Terhindar dari Menghapal Alquran tanpa Makna


Sudah pernah menjumpai anak-anak usia dini yang hapal Alquran 30 juz? Saya yakin pernah, setidaknya di tayangan televisi. Kalau anak usia dini yang hapal sekaligus paham Al-Quran? Sepertinya ini yang masih jarang.

Baru-baru ini saya mendapat sudut pandang baru soal fenomena anak-anak yang hapal Alquran (karena saya juga ingin anak saya menghapal Alquran). Bahwa sejatinya anak-anak juga mesti paham ayat Alquran yang sedang dihapalkannya. Sehingga pembelajaran Alquran jadi bermakna dalam kehidupannya.

Mungkin sebagian kita berpikir bahwa anak-anak tidak akan mampu memahami isi Alquran di usia dini. Padahal itu hanyalah pikiran orang dewasa saja yang selalu memandang anak-anak sebagai makhluk lemah, baik dari segi fisik, kemampuan atau pun intelektualitasnya.

Ada yang masih ingat Husein al-Tabhathabai,  atau yang lebih dikenal dengan doktor cilik hapal dan paham Alquran dari Iran? Dulu, di tahun 2000-an ia pernah booming sehingga diberi julukan "the amazing child".

Husein mendapatkan gelar doktor honoris causa ketika ia berusia 7 tahun. Sebelumnya ia sudah hapal dan  paham Alquran ketika ia masih berusia 5 tahun. Gelar doktor itu bukan diberikan secara sembarangan. Ia melewati banyak ujian.

Ada 5 bidang yang harus dilewatinya; menghapal Alquran dan menerjemahkannya ke bahasa ibu, menerangkan topik ayat Alquran, menafsirkan dan menerangkan ayat  Alquran dengan menggunakan ayat lainnya dari Alquran, bercakap-cakap dengan menggunakan  ayat Alquran, dan metode menerangkan makna  Alquran dengan metode isyarat tangan.

Dari hasil ujian itu, Husein mendapatkan nilai 93. Nilai itu, menurut standar Hijaz College Islamic University, Inggris -- tempat Husein melakukan ujian -- adalah nilai untuk gelar doktor. Maka di tanggal 19 Februari 1998, lelaki cilik itu menerima ijazah doktor honoris causa.

Husein membuktikan bahwa meskipun masih anak-anak, intelektualitasnya tidak bisa diremehkan. Begitupun anak-anak lain. Semuanya punya kesempatan yang sama untuk mengembangkan intelektualitasnya, termasuk memahami Alquran. Bila caranya tepat, anak-anak akan mampu mencapai pemahaman yang baik terhadap Alquran. 

Apa yang dilakukan orangtua Husein mungkin terlalu sulit untuk ditiru -- setidaknya untuk saya -- karena memang banyak yang harus disiapkan dan dijaga; pengetahuan, kesucian diri dan hati.  Tapi untuk membuat anak-anak mampu memahami Alquran di usia dini bukanlah hal mustahil. 

Nah, hal-hal berikut ini  bisa dilakukan agar anak usia dini tidak terjebak hanya pada proses menghapal tanpa makna. Saya juga sedang mencoba menerapkan hal ini pada anak saya yang baru berusia 3 tahun. 

1. Motivasi yang ditanamkan. 

Motivasi ini penting sekali karena ia akan menggerakkan anak-anak untuk menghapal. Motivasi yang paling sering kita dengar ketika anak-anak diminta menghapal Alquran adalah supaya bisa memberikan mahkota di surga untuk orangtua. Ya, boleh-boleh saja sih tapi motivasi ini tidak substantif. Tidak menyentuh sama sekali arti pentingnya Alquran bagi diri anak.

"Menghapal Alquran bukanlah proses menghapal cangkem (menghapal bunyi-bunyian tanpa paham makna). Tapi menghapal Alquran adalah membaca ayat-ayat dengan tajwid yang benar, memahami makna kata demi kata, lalu berusaha menyimpannya di dalam dada. Menghapal Alquran adalah menyimpan kata demi kata dari surat cinta sang Kekasih di dalam benak dan hati kita," kata ayah Husein dalam suatu wawancara dengan Dina Sulaeman.

Motivasi seperti inilah yang harus dibangun dalam diri anak sehingga anak-anak benar-benar terdorong untuk mengetahui makna ayat-ayat yang dihapal.

2. Memulai dari ayat-ayat yang mudah dipahami anak-anak. 

Alquran berisi panduan, tidak hanya untuk orangtua tapi juga anak-anak. Dalam pengajaran menghapal Alquran pertama pada anak-anak, mestinya dimulai dengan ayat-ayat yang relevan dengan anak-anak, ayat-ayat yang bersinggungan langsung dengan kehidupan anak-anak. Misalnya ayat-ayat tentang mengucapkan salam, berbakti kepada orangtua, kebersihan, jangan mubazir, dll. Sehingga anak-anak bisa merasakan bahwa Alquran ini juga bisa jadi panduan dalam hidupnya.

Dengan menggunakan ayat-ayat ini, anak akan merasa terhubung dengan ayat tersebut sehingga tertarik untuk menghapalkannya. Jadi proses menghapalnya benar-benar dimulai dari pemahaman dulu. 

3. Metode yang menyenangkan.

Menghadapi anak-anak memang tidak mudah. Kita perlu mencari metode agar mereka tertarik menghapal Alquran serta memahami isinya. Ada tiga metode menarik yang diajarkan di Jamiatul Quran yang didirikan oleh Sayyid Muhammad Mahdi Thabathabai di Iran. Jamiatul Quran ini sudah menghasilkan ratusan alumnus yang hapal dan paham seluruh atau sebagian Alquran.

Pertama, metode isyarat tangan. Dalam metode ini, ayat yang dipilih adalah ayat-ayat yang bisa dipakai dengan menggunakan isyarat tangan. Ayat-ayat yang dipilih tentu hanya ayat yang pendek-pendek untuk memudahkan anak-anak.

Contoh QS: al-A'raaf; 21. "Kuluu wasyrabuu walaa tusrifuu" (Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan).

Dalam metode isyarat  tangan, "kuluu" diperagakan dengan menyiapkan sesuatu ke dalam mulut (bermakna makanlah). "Wasyrabuu" dipraktekkan dengan kedua tangan seolah-olah menuangkan air ke dalam mulut (bermakna minumlah). "Walaa tusrifuu" diperagakan dengan tangan dan kepala bergoyang-goyang (bermakna jangan berlebih-lebihan). 

Selanjutnya ayat ini diulang-ulang sambil diselang-selingi terjemahan ayat ke dalam bahasa masing-masing. Hingga akhirnya anak-anak dapat menghapal ayat-ayat ini dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Metode ini sangat menarik bagi anak-anak. Terbukti anak-anak di Jamiatul Quran memperagakan sambil tertawa-tawa. Anak-anak juga memahami maknanya hingga bisa mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali anak-anak lah yang memperingatkan orangtuanya agar tidak berlaku mubazir di rumah.

Kedua, metode bercerita lewat gambar. Anak-anak suka gambar dan cerita. Gabungan keduanya akan membuat anak-anak betah bersama Alquran. Setelah guru bercerita, anak-anak diminta untuk mengulang-ulang ayat dan menghapalnya.

Ketiga, metode permainan. Bermain adalah dunianya anak-anak. Bermain bagi anak-anak itu ya belajar. Anak-anak tidak pernah main-main saat bermain, mereka sangat serius saat bermain. Maka metode permainan seharusnya menjadi metode wajib dalam pembelajaran Alquran. 

Salah satu contoh permainan yang dilakukan oleh anak-anak di Jamiatul Quran adalah bermain isi kursi. Cara bermainnya seperti ini: Jika ada 10 anak, maka letakkan 9 kursi berderet. Minta anak-anak untuk berlomba duduk di kursi tersebut.

Nah, pasti akan ada satu anak yang tidak kebagian kursi. Anak ini akan diminta membacakan ayat dan artinya dengan menggunakan isyarat tangan. Setelah dapat, anak ini akan disuruh duduk terpisah. Lalu kursi dikurangi satu. Maka tertinggal 8 kursi. Kesembilan anak yang tersisa kembali harus berlomba menduduki kursi seperti permainan di awal, demikian seterusnya. 

Saya menambahkan satu metode lagi di rumah. Karena kami punya lumayan banyak buku anak di rumah, maka buku juga dijadikan media  menghapal Alquran. Jadi, ketika selesai membacakan buku, saya sering mengaitkannya dengan ayat-ayat yang ada dalam Alquran. 

Misalnya ketika baca buku tentang kebersihan pakaian, maka dikaitkanlah dengan QS: al-mudatsir; 4. "watsiyaabaka fathahhir." Ayat ini diulang-ulang beserta terjemahannya sampai anak hapal.

Proses menghapal seperti ini akan membuat anak-anak terhindar dari menghapal tanpa makna. Metode ini mungkin terlihat tidak sistematis karena tidak berurut per-surat atau per-juz tapi efek jangka panjangnya sangat bagus. 

Anak-anak memupuk kecintaannya pada Alquran lewat metode-metode yang menyenangkan ini, anak-anak juga dengan mudah memahami ayat yang sedang dihapal serta mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Cara ini mungkin juga terasa ribet dan harus melewati proses panjang. Tapi kalau kita kembali pada tujuan awal, yaitu mendidik anak-anak Qurani sejati (benar-benar paham Alquran, bukan hanya sekedar hapal), maka harus mau melewati proses ini. 

Cara di atas hanyalah beberapa hal yang bisa dicontoh, orangtua atau guru masih bisa menemukan metode lain agar anak-anak betah menghapal Alquran.

Pada akhirnya, entah mau menghapal dulu atau memahami dulu atau sambil jalan dua-duanya, yang harus dipahami adalah bahwa menghapal Alquran hanyalah pintu gerbang untuk memahami dan mengamalkan Alquran. Jangan pernah berpuas diri pada hapalan semata.

Semoga bermanfaat!

Sunday, March 29, 2020

Ketika Corona Merajalela, Orang Tua sebagai Guru di Rumah, dan Chemistry Keluarga Tercipta

Betapa dahsyat dan menakutkan, Corona. Perkasa di Wuhan, tempat kelahirannya, sampai ke daerah lain. Telah menciptakan “the power of panic.” Buktinya, mereka sangat resah. Tercipta rasa tidak nyaman, takut. Kemana-mana selalu waspada. Entah apa dan siapa yang harus diwaspadai. Semuanya ibaratkan berperang melawan yang ghaib. Satu sama lainnya saling waspada.
Corona telah menciptakan konsumtif. Hobi membeli dengan intensitas sering. Bahkan, bukan hanya sering, tetapi dalam jumlah besar. Yang dibeli berupa barang biasa. Sungguh konsumtif yang aneh. Biasanya konsumtif dalam bentuk materi fashion dan barang lux. Ini masker dan makanan instan. Konsumtif yang dipaksa. Jika tidak, rasa takut tidak terobati. Corona menghantui.
Di Indonesia, telah tercipta konsumtif terhadap masker. Faktanya, mereka beramai-ramai memborongnya. Laksana “bakul” meracang yang sedang “kulakan”. Sungguh kepanikan luar biasa. Panik takut terjangkit Corona. Maka, mulailah pencegahan dengan memakai masker. Supaya aman ketika kontak langsung dengan pengidapnya.
Pembelian besar-besaran masker membuat penjual kreatif. Mereka berusaha meraup keuntungan besar. Kapan lagi kalau tidak saat itu. Hukum ekonomi mereka terapkan. Permintaan banyak, maka harga naik berlipat ganda. Fenomena ini membuat pemerintah angkat bicara. Barangsiapa yang menjual masker di atas harga pasar, maka akan berurusan dengan hukum.
Setelah dua warga Indonesia asal depok positif Corona, pemerintah langsung bereaksi. Hal ini karena masyarakat panik. Tak disangka, ternyata Corona sampai juga di Indonesia. Yang awalnya reaksi biasa saja, akhirnya luar biasa. Bayang-bayang terjangkit Corona selalu menghantui. Sehingga permintaan masker melambung. Mereka beranggapan dengan memakai masker akan dapat mencegah terjangkit Corona. Cara termudah yang bisa diterapkan.
Terkini, Corona semakin meluas. Penanganannya semakin aktif. Pemerintah mencoba supaya masyarakat Indonesia tidak kontak langsung dengan penderitanya. Mereka lebih baik tinggal di rumah. Pemerintah menganjurkan itu. Seperti dikutip dari laman Kumparan.com bahwa Menpan RB mengijinkan PNS bekerja di rumah dalam beberapa hari ke depan. Keputusan ini sebagai antisipasi atas meluasnya virus Corona.
Tidak hanya PNS, anak sekolah juga belajar di rumah. Seperti dilansir dari laman liputan 6.com bahwa pemerintah kota dan kabupaten Bogor meliburkan sekolah mulai 16-28 Maret 2020. Siswa belajar di rumah. Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan virus Corona.  UNBK juga ditunda sampai waktu tak terhingga. Tidak hanya di Bogor, sejumlah daerah lain juga meliburkan sekolah. Misalnya, Pemerintah kota Bekasi juga meliburkan siswa. Untuk guru tetap masuk seperti biasa
Belajar di rumah meningatkan kepada home schooling. Dimana anak tidak belajar di sekolah, tetapi di rumah. Pengajar datang ke rumah. Namun, belajar di rumah karena efek Corona ini, orang tua bertindak sebagai guru. Mereka menggantikan guru di sekolah. Orang tua akan merasakan apa yang dirasakan guru. Sehingga yang selama ini tidak terima perlakuan guru kepada anaknya, entah itu karena teralu nakal melebihi batas kewajaran, atau hobi melanggar aturan yang tidak bisa ditolelir, maka sejak belajar di rumah masing-masing, akan merasakan betapa berat mendidik anak. Semoga efek Corona ini menjadi hikmah untuk orang tua masing-masing.
Pemerintah mengijinkan PNS bekerja di rumah selama beberapa hari ke depan. Sebuah momentum bergharga bagi orang tua. Terutama yang berada di kota-kota besar. Yang selama ini sibuk bekerja. Pagi-pagi berangkat, anak masih tidur. Larut malam pulang, anak sudah tidur. Jadi, manfaatkan waktu bekerja di rumah, untuk membuat Chemistry dengan keluarga. Apalagi anak juga belajar di rumah. Kasih sayang dan perhatian luapkan. Kalau tidak ada momen ini, kapan lagi. Ini momen langka. Orang tua dan anak sama-sama berada di rumah dalam beberapa hari ke depan. Semoga Chemistry keluarga bisa tercipta dengan baik.
Terkahir, ingat gaess! Selain kita berusaha mencegah terjangkitnya Virus Corona, kuatkan ibadah kepada Allah SWT. Karena Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa setiap penyakit ada obatnya. Jangan menjauh darinya. Allah SWT maha kuasa atas segala sesuatu yang terjadi di muka bumi. Virus Corona bisa teratasi hanya dengan berusaha, berdo’a, dan bertawakkal kepada Allah SWT. Tidak usah terlalu takut (panik) dan terlalu berani terhadap virus Corona.
Itu saja gaess!

Friday, October 19, 2018

Anak Mau Masuk Pondok, Itu Rezeki!

Seri: Hari Santri Nasional

Manja itu yang akan menghambat masa depan anakmu karena nanti mereka gak bisa mandiri, gak paham agama, gak ngerti Qur’an, gak punya akhlak . Ujung-ujungnya gak bisa jadi jariyah-mu kalau kamu mati.

Anak mau masuk pondok apalagi menghafal Qur’an gak usah ditangisi. Itu rezeki, kamu harus bersyukur. Bayangkan kalau anak-anakmu hidup di luar sekarang, apa iya kamu tega setiap jam 4 memaksa mereka untuk tahajud? Apa iya setiap hari kamu ada waktu menyimak setoran hafalan mereka? Coba kamu lihat dirimu sekarang sudah yakinkah kira-kira shalatmu, puasamu, bisa buat kamu masuk surga?

Kalau kamu yakin amalmu bisa menjamin kamu masuk surga yo sak karepmu. Urusen anakmu dengan budaya bubrah yang sekarang lagi tren di luar sana.

Anak-anak  kecil wes podo pinter dolanan hape, buka situs apa saja bisa. Bangga punya ini, itu. Baju, sepatu, tas bermerk. Lha pas disuruh ngaji blekak blekuk. Ditanya tentang agama prengas-prenges. Arep dadi opo?

Kamu hanya dititipi mereka. Nanti kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Kiro-kiro kalau anakmu lebih bangga kenal artis-artis, lebih bangga dengan benda-benda bermerk, lebih seneng menghafal lagu ora genah, gak kenal Gusti Allah, gak kenal kanjeng Nabi, gak bisa baca dan paham Qur’an, gak ngerti budi pekerti… Lha kalau kamu mati mau jawab apa di hadapan Gusti Allah?

Apa hakmu menghalangi anak-anakmu lebih dekat dengan pemilik-Nya dengan jalan thalabul ilmi di lingkungan yang mendukung mereka menjadi lebih arif dan berbudi? Kamu hanya perantara, dipinjami, dititipi, diamanahi.

Wallahu a'lam ...


Sumber: KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Gontor


Friday, September 29, 2017

MENAFKAHI ORANG TUA

Orang tua tidak takut miskin memberi nafkah pada anaknya saat membesarkan mereka. Tapi banyak anak sering takut kekurangan saat menanggung orang tuanya dimasa tuanya.

Lihat diri kita saat ini; Sehebat apapun, Suksespun setinggi langit, tapi tanpa doa restu orang tua yang membesarkan kita, maka tidak akan ada ketenangan, keberkahan & kebahagiaan dalam hidup.

Uang bisa dicari, ilmu bisa digali, jabatan bisa kita raih, tapi kesempatan untuk mengasihi orang tua takkan terulang kembali.

Satu ibu, bisa merawat tujuh anaknya. Tapi tujuh orang anak belum tentu bisa membahagiakan satu orang ibu.
Satu ayah, bisa menghidupi 7 anaknya, tapi tujuh orang anak belum tentu dapat menghidupi satu orang ayah.

Sesekali tengoklah orang tuamu, tatap wajahnya ketika ia terlelap tidur, lihat kerutan di wajahnya, lihat rambutnya yang kini mulai memutih, lihat badannya yang dulu tegap kini mulai membungkuk. Semua telah berubah termakan waktu tapi tidak dengan kasih sayangnya.

Sudahkah kita membuatnya bahagia hari ini? Sudahkah kita membuatnya bangga hari ini? Sudahkah kita membuatnya tersenyum hari ini?
Tidak akan ada jasa yang mampu kita balas, tidak akan ada kebaikan yang mampu kita balas, semua begitu banyak, begitu tulus.

Yaa Allah Tuhanku,
Hadiahkanlah Kebahagiaan untuk kedua orangtua kami atas segala pengorbanan dan kasih sayang yang telah mereka berikan kepada kami.
Aamiin...

Maafkan...
Ampuni...
Terimakasih...
Aku Mencintaimu Ayah, Ibu...
Kasihmu takkan pernah terganti.

Hai anak Adam...
Perlakukanlah orang tuamu seperti RAJA, maka hidupmu akan seperti raja...

Barokallaahu fiikum... 

Wednesday, November 23, 2016

Welcome..Home, nak!

Berapa anakmu?

3? 2? 1? Berapa yang sekolah?. Apa yang engkau lakukan ketika menerima mereka sepulang sekolah?

Peluk? Sapa? Mengingatkan serentetan peraturan? Mulai dari taroh sepatu di tempatnya sampai, jangan lupa kerjain pe-ernya?

Berapa menit mereka boleh beristirahat sekenanya? Masih pake seragam sekolah? Atau seragam harus sudah masuk ke tempat cucian kotor? Berapa menit? 10? 20? 30?

Pertanyaannya, berapa menit ibu sanggup tahan melihat mereka belum ganti baju dan berleyeh-leyeh baik di kamar ataupun ruangan lainnya?

Apakah mereka sempat ibu tanya?
Mungkin nanti pas makan malam..tentang bagaimana harinya? Bagaimana teman baiknya? Siapa yang menyebalkan? Susah nggak ujian? Perhatikan jawabannya, Ikut antusias pada ceritanya?

Boleh nggak menahan bertanya, berapa nilai ujian kemaren? Tadi pas tes hafalan, bisa nggak? Atau berkomentar tentang hal negatif yang terjadi hari ini. Bisa nggak?

Terdengar familiar?

Ya itulah kebanyakan dari kita. Termasuk juga saya, yang tidak luput dari 'terpeleset' kembali ke metode 'interview' jaman dahulu kala.

Kalau ibu-ibu NGGAK PERNAH mengalami hal diatas.., Masha Allah Tabarakallah! Ibu super hebat.

Anak zaman sekarang, nggak bisa pake metode lama. Perduli hanya pada nilai test aja, kenapa sekian bisa salah, tapi lupa pada jumlah betulnya. Mengingatkan rutinitas dan peraturan, tapi lupa merasakan, bagaimana rasanya menjadi tubuh kecil yang lelah.. Sekolah dari pagi sampai ashar terkadangnya, belum lagi persiapan sekolah itu. Dari bangun sampai rapi menjelang berangkat. Dan pulang? Bersama dengan tas yang super berat.. Berisi pe-er dan tugasan yang tidak kalah beratnya.

Mari berandai sejenak... andai anak itu kita. Maukah diperlakukan demikian? Begitu melangkah masuk ke halaman rumah, sudah disapa dengan.. "Ayoo.. Sepatunya ditaroh di tempatnya, jangan lupa ganti baju...bla..bla..bla"...

"HHhhhhhh, lelahnyaaa! Blm sampe aja disambut sama rentetan perintah. Belum juga kelihatan mukanya. Nanya apa kek, senyum kek.. Jangan2.. Malah nanya tentang nilai test hari ini??"
Begitu kira-kira?

Istighfar

Saya tahu ibu-ibu semua, lelah. Capek. Sudah seharian berjibaku dengan rutinitas yang itu-itu saja, dan sepertinya tidak habis-habisnya. Iya, faham. Ngak perlu lah dapat kerjaan tambahan, nyusun sepatu dan mungut baju seragam yang bau asem yg bertebaran dimana-mana itu. Ya kan??
Cucian piring aja belum selesai semua. 😭

Tapi, sebentar! Sebentar ajaa...
Tarik nafas. Jadilah mereka. Rasakanlah bagaimana lelahnya tubuh kecilnya. Menggendong buku yg banyak, dan beban pelajaran yg diterima hari ini. Belum lagi setumpuk pe-er yg sudah menghantui.
Berhentilah sebentar. Tarik nafas. Atur diri. Senyuuummm... Siapkan posisi pelukan, jongkok.. Biar tingginya sama... Peluk eraaaattt, hujani dengan ciuman... Sapa dengan bilang "mamaaa kangeeen sekali sama (nama) hari ini, bagaimana harimu nak?"

Tanya

Belum tentu ia mau jawab. Ia lelah. Tapi yang pasti, ia akan tersenyum menerima semuaaa perlakuan hangat penuh cinta tersebut!

Nggak percaya?! Cobalah?

Wagu? Aneh? Canggung?
Ah, itu kan karena belum terbiasa
Ala bisa karena biasa...

Bagi yang sudah melakukan ini semuaa.. Alhamdulillah!
Bagi yg belum, yuk kita coba! Dan lihat perbedaannya!

Bagi yang masih suka 'terpeleset' seperti saya, banyak -banyak istighfar dan coba lagi aja 😄. Sampai terbiasa.

Insha Allah kita bisa!
Semangaat 💪🏼💪🏼💪🏼

Untuk para ayah, kalau mau sampe rumah, kami tahu engkau lelah, tarik nafas dan jangan lupa, siapkan senyum terindah, karena buat sang buah hati, ketika ayah pulang ke rumah, mereka sambut bagaikan superhero yang paling ternama.

Insha Allah kita bisa. Demi sang buah hati.
Bukankah jika kita tua nanti, begitu pula sambutan yang kita harapkan dari mereka nanti??

Senyum. Pelukan. Tanyakan.. Bagaimana harimu hari ini nak?

❤❤❤