This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Laman

Tuesday, November 7, 2017

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) serta Kegiatan dalam Tahapan Literasi Sekolah

GERAKAN LITERASI SEKOLAH
Literasi mungkin telah menjadi istilah yang familiar bagi banyak orang. Namun tidak banyak dari mereka yang memahami makna dan definisinya secara jelas. Sebab memang Literasi merupakan sebuah konsep yang memiliki makna kompleks, dinamis, terus ditafsirkan dan didefinisikan dengan beragam cara dan sudut pandang. Berangkat dari sini, maka perlu kiranya diuraikan apa sebenarnya makna dari Istilah Literasi itu.
Menurut kamus online Merriam-Webster, Literasi berasal dari istilah latin 'literature' dan bahasa inggris 'letter'. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya "Kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar)."
National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai "Kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat." Definisi ini memaknai Literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Dari definisi ini terkandung makna bahwa definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu. 
Di lain sisi, Education Development Center (EDC) menyatakan bahwa Literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis. Namun lebih dari itu, Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Dengan pemahaman bahwa literasi mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia.
Sementara menurut UNESCO, pemahaman orang tentang makna literasi sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya, dan juga pengalaman. Pemahaman yang paling umum dari literasi adalah seperangkat keterampilan nyata -- khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis -- yang terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh dan dari siapa memperolehnya.
UNESCO menjelaskan bahwa kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat. Karena sifatnya yang "multiple Effect" atau dapat memberikan efek untuk ranah yang sangat luas, kemampuan literasi membantu memberantas kemiskinan, mengurangi angka kematian anak, pertumbuhan penduduk, dan menjamin pembangunan berkelanjutan, dan terwujudnya perdamaian. Buta huruf, bagaimanapun, adalah hambatan untuk kualitas hidup yang lebih baik.
Saat ini, Istilah Literasi sudah mulai digunakan dalam arti yang lebih luas, seperti Literasi Informasi, literasi komputer, dan literasi sains yang kesemuanya itu merujuk pada kompetensi atau kemampuan yang lebih dari sekedar kemampuan baca-tulis. Hanya saja, memang pemahaman yang paling umum mengenai literasi yaitu kemampuan membaca dan menulis.
Seseorang melek huruf (bisa baca-tulis) mampu memahami semua bentuk komunikasi yang lain. Implikasi dari kemampuan literasi yang dia miliki ialah pada pikirannya. Literasi melibatkan berbagai dasar-dasar kompleks tentang bahasa seperti fonologi (melibatkan kemampuan untuk mendengar dan menginterpretasikan suara), arti kata, tata bahasa dan kelancaran dalam setidaknya satu bahasa komunikasi. Keterampilan ini menentukan tingkat yang dicapai oleh seorang individu.
Literasi memang tidak bisa dilepaskan dari bahasa. Seseorang dikatakan memiliki kemampuan literasi apabila ia telah memperoleh kemampuan dasar berbahasa yaitu membaca dan menulis. Jadi, makna dasar literasi sebagai kemampuan baca-tulis merupakan pintu utama bagi pengembangan makna literasi secara lebih luas. Dan cara yang digunakan untuk memperoleh literasi adalah melalui PENDIDIKAN.
Pendidikan dan kemampuan literasi adalah dua hal yang sangat penting dalam hidup kita. Kemajuan suatu negara secara langsung tergantung pada tingkat melek huruf di negara tersebut. Oleh karena itulah, orang berpendidikan diharapkan untuk melakukan tugasnya dengan baik.
Praktik pendidikan perlu menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran agar semua warganya tumbuh sebagai pembelajar sepanjang hayat. Untuk mendukungnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). 

GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan di
dalam gerakan tersebut adalah kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Terobosan penting ini hendaknya melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Pelibatan orang tua peserta didik dan masyarakat juga menjadi komponen penting dalam GLS.

FOKUS KEGIATAN DALAM TAHAPAN LITERASI SEKOLAH
1. Tahapan Pembiasaan (belum ada tagihan)
     Kegiatan:
a. Lima belas menit membaca setiap hari sebelum jam pelajaran melalui kegiatan membacakan buku dengan nyaring (read aloud) atau seluruh warga sekolah membaca dalam hati (sustained silent reading).
b. Membangun lingkungan fisik sekolah yang kaya literasi, antara lain: (1) menyediakan perpustakaan sekolah, sudut baca, dan area baca yang nyaman; (2) pengembangan sarana lain (UKS, kantin, kebun sekolah); dan (3) penyediaan koleksi teks cetak, visual, digital, maupun multimodal yang mudah diakses oleh seluruh warga sekolah; (4) pembuatan bahan kaya teks (print-rich materials).

2. Tahapan Pengembangan (ada tagihan sederhana untuk penilaian non-akademik)
     Kegiatan:
a. Lima belas menit membaca setiap hari sebelum jam pelajaran melalui kegiatan membacakan buku dengan nyaring (read aloud) atau seluruh warga sekolah membaca dalam hati (sustained silent reading), membaca bersama, dan/atau membaca terpadu diikuti kegiatan lain dengan tagihan non-akademik. Contoh: membuat peta cerita (story map), menggunakan graphic organizers, bincang buku.
b. Mengembangkan lingkungan fisik, sosial, afektif sekolah yang kaya literasi dan menciptakan ekosistem sekolah yang menghargai keterbukaan dan kegemaran terhadap pengetahuan dengan berbagai kegiatan, antara lain: (1) memberikan penghargaan kepada capaian perilaku positif, kepedulian sosial, dan semangat belajar peserta didik; (2) kegiatan-kegiatan akademik lain yang mendukung terciptanya budaya literasi di sekolah.
c. Pengembangan kemampuan literasi melalui kegiatan di perpustakaan, taman bacaan, atau sudut baca kelas dengan berbagai kegiatan.

3. Tahapan Pembelajaran (ada tagihan akademik)
     Kegiatan:
a. Lima belas menit membaca setiap hari sebelum jam pelajaran melalui kegiatan membacakan buku dengan nyaring, membaca dalam hati, membaca bersama, dan/atau membaca terpadu diikuti kegiatan lain dengan tagihan non-akademik dan akademik.
b. Kegiatan literasi dalam pembelajaran, disesuaikan dengan tagihan akademik di kurikulum 2013.
c. Melakukan berbagai strategi untuk memahami teks dalam semua mata pelajaran.
d. Menggunakan lingkungan fisik, sosial afektif, dan akademik disertai beragam bacaan (cetak, visual, auditori, digital) yang kaya literasi di luar buku teks pelajaran untuk memperkaya pengetahuan dalam mata pelajaran.

Mari bersama-sama kita sukseskan Gerakan Literasi Sekolah di Madrasah kita, MTsN Bakalan Rayung (MTsN 5) Jombang...


Daftar Pustaka:

Materi Diklat Penyusunan RPP K-13 Revisi dan Literasi di MTsN Bakalan Rayung Jombang bekerjasama dengan Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya Tahun 2017.

Buku saku Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2016
http://literasi.jabarprov.go.id/baca-artikel-954-apa-sih-literasi-itu.html

http://mangwaskim.blogspot.com/2016/05/penjelasan-singkat-gerakan-literasi.html


Pendekatan-Pendekatan Pembelajaran dalam K13 Revisi

Pada pendekatan pembelajaran selain pendekatan saintifik, ada beberapa pendekatan lain yang dapat digunakan guru dalam proses pembelajaran, yaitu: pendekatan berbasis genre/teks (Genre Based Approach), pendekatan CLIL, dan pendekatan pendidikan matematika realistik (Realistic Mathematic Education/RME). Berikut uraian dari pendekatan-pendekatan tersebut.

1.         Pendekatan berbasis genre (Genre Based Approach)
Pendekatan ini merupakan pendekatan pembelajaran yang membantu peserta didik lebih kompeten berbahasa, mampu berkomunikasi melalui penguasaan keterampilan berbahasa diantaranya dengan kegiatan menyimak,  berbicara, membaca dan menulis.  Berikut uraian kegiatan pembelajaran berbasis Genre/Teks (Roses dan Martin, 2012).
a.       Membangun Konteks. Tahap ini merupakan langkah-langkah awal yang dilakukan guru bersama peserta didik untuk mengarahkan pemikiran ke dalam pokok persoalan yang akan dibahas pada setiap pelajaran.
Contoh pembelajaran pada tahap membangun konteks untuk matapelajaran Bahasa Inggris, yaitu:
Pendidik menyiapakan contoh-contoh teks report terkait teknologi yang akan dibahas, misalnya Electric Torch, Fan Ceiling, USB Flash Drive atau yang lainnya. Contoh teks dapat berupa teks autentik, teks modifikasi, teks adaptasi, teks buatan pendidik sendiri, atau teks yang diberikan oleh para ahli pendekatan genre-based yang relevan
b.  Menelaah Model/ Dekonstruksi teks. Tahap ini berisis tentang pembahasan teks yang diberikan sebagai model pembelajaran. Pembahasan diarahkan pada semua aspek kebahasaan yang membentuk teks itu secara keseluruhan. Pada tahap ini dikembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik melalui kegiatan membahas serta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya tidak tertera dalam teks, seperti siapa penulisnya, kepada siapa pesan dalam teks ditujukan, dimana teks tersebut dapat ditemukan, dalam konteks apa teks itu dipakai, apakah setiap teks atau setiap pernyataan yang ada dalam teks relevan dengan kehidupan peserta didik, mengapa, apakah setiap pernyataan yang ada dalam teks akan diterima oleh semua pembaca, apakah yang dikatakan dalam teks relevan dengan pengalaman peserta didik atau relevan dengan teks yang pernah dibaca sebelumnya oleh peserta didik terkait topik yang sama.
c.  Joint construction (latihan terbimbing). Pada tahapan ini, peserta didik berlatih menggunakan semua hal yang telah dipahaminya pada tahap sebelumnya. Peserta didik melewati tahap brainstorming, drafting, revising, editing, proofreading, dan publishing.
d.     Independent construction (unjuk kerja mandiri). Pada tahapan ini, peserta didik diberi kesempatan untuk menulis secara mandiri, dengan bimbingan guru yang minimal, hanya kalau diperlukan.

Setelah menulis teks secara mandiri, peserta didik juga dapat melakukan refleksi terkait apa yang telah ditulis atau yang dilakukan, atau apa yang telah dipelajari selama siklus pembelajaran, dan saat membandingkan teks yang mereka tulis dengan teks yang ditulis oleh temannya. Peserta didik juga dapat menceritakan kembali apa yang telah ditulisnya di depan kelas.

2.     Pendekatan CLIL (Content and Language Integrated Learning).
 Pendekatan ini merupakan pendekatan yang digunakan untuk memperkaya pembelajaran dengan prinsip: a) isi [konten] teks—berupa model atau tugas--bermuatan karakter dan pengembangan wawasan serta kepedulian sebagai warganegara dan sebagai warga dunia; b) unsur kebahasaan [komunikasi] menjadi unsur penting untuk menyatakan berbagai tujuan berbahasa dalam kehidupan; c) setiap jenis teks memiliki struktur berpikir [kognisi] yang berbeda-beda yang harus disadari agar komunikasi lebih efektif; dan d) budaya[kultur], berbahasa, berkomunikasi yang berhasil harus melibatkan etika, kesantunan berbahasa, budaya (antarbangsa, nasional, dan lokal).

3.     Pendekatan Contekstual Teaching and Learning (CTL)
CTL merupakan suatu proses pengajaran yang bertujuan untuk membantu peserta didik memahami materi pelajaran yang sedang mereka pelajari dengan menghubungkan pokok materi pelajaran dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Johnson, 2002: 24).


Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik (Realistic Mathematic Education/RME), merupakan merupakan teori pembelajaran matematika yang dikembangkan di negeri Belanda oleh Freudhenthal pada tahun 1973, dengan dua pandangan pentingnya yaitu mathematics must be connected to reality and mathematics as human activity. Karakteristik RME adalah menggunakan konteks “dunia nyata”, model-model, produksi, dan kontruksi peserta didik, interaktif dan keterkaitan (Treffers, 1991). 




#Materi disampaikan dalam Diklat Penyusunan RPP K13 Revisi dan Literasi yang diselenggarakan oleh MTs Negeri 5 (MTsN Bakalan Rayung) Jombang bekerjasama dengan BDK (Balai Diklat Keagamaan) Surabaya.
Rabu, 8 November 2017.

Model-Model Pembelajaran Bruce Joyce dan Marsha Weil

Bruce Joyce dan Marsha Weil (1996) mengetengahkan 4 (empat) kelompok besaran model pembelajaran, yaitu:

1.   Model Interaksi Sosial (The Social Interaction Family)
Tujuan penggunaan model ini antara lain untuk membangun hubungan kerjasama, interaktif, dan produktif diantara peserta didik. Model ini dapat dilakukan melalui kerjasama berpasangan, kerjasama dalam kelompok, bermain peran, atau belajar di dunia nyata, misalnya kondisi sosial tertentu.

2.   Model Pengolahan Informasi (The Imformation Processing Family).
Model ini dirancang agar peserta didik dapat menggunakan olah fikirnya untuk menggali berbagai informasi, melakukan analisis data, dan mengolahnya. Melalui model pengolahan informasi, peserta didik  dapat memperoleh suatu pengetahuan atau pemahaman tentang konsep tertentu (learning to think by thinking).

3.   Model Personal (The Personal Family).
Model ini dimulai dengan pengarahan guru terhadap peserta didiknya tentang pemahaman kemampuannya masing-masing. Pengarahan dapat dilakukan melalui pertanyaan atau permasalahan yang harus diselesaikan  sesuai dengan kemampuan peserta didik, misalnya permasalahan tentang tantangan atau keinginan yang harus dicapai.
  
4.   Model Modifikasi Tingkah Laku (The Behavioral System Family).
Model ini memberikan pembelajaran melalui suatu tugas atau perbuatan yang harus dilakukan peserta didik untuk memperoleh suatu pengalaman dalam menentukan atau memilih solusi pemecahan masalah yang dihadapi, sehingga peserta didik memiliki kompetensi tertentu.

Berdasarkan ke-empat model Joyce dan Weil tersebut, kita dapat diterapkan ke dalam kegiatan pembelajaran menjadi model-model lain yang khusus, sesuai dengan karakteristik materi pembelajaran dan aktivitas yang dikembangkan oleh guru dengan tujuan tertentu. Miisalnya model yang dikembangkan adalah model Investigasi Kelompok (Group Investigation) dan model Bermain Peran (Role Playing) sebagai penjabaran dari Model Interaksi Sosial, sedangkan model Berfikir Induktif  (The Induktif Thinking) sebagai penjabaran dari model Pengolahan Informasi.  Berikut penjelasan dari model-model tersebut.

1.   Model Investigasi Kelompok (Group Investigation).
John Dewey mengatakan bahwa model investigasi kelompok dapat memberikan pengalaman kepada peserta didik dalam memecahkan suatu permasalahan dengan caranya sendiri dan dibicarakan dalam group secara demokratis. Pembagian langkah pelaksanaan model investigasi kelompok terdiri menjadi 6 (enam) fase, yaitu 1) memilih topik; 2) perencanaan kooperatif; 3) implementasi; 4) analisis dan sintesis; 5) presentasi hasil final, dan 6) evaluasi.
Langkah-langkah model pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut;
a.         Peserta didik dibagi kedalam kelompok (4 – 6 orang)
b.   Guru memberikan pengarahan tentang apa yang harus dilakukan oleh peserta didik di masing-masing kelompok.
c.   Peserta didik dihadapkan pada suatu situasi yang memerlukan pemecahan atau suatu keputusan yang harus ditentukan.
d.         Peserta didik mengeksplorasi situasi tersebut
e.    Peserta didik merumuskan tugas-tugas yang harus dilakukan dalam menghadapi situasi tersebut, antara lain merumuskan masalah, menentukan peran anggota kelompok, dan merumuskan alternatif cara yang akan digunakan.
Dalam melaksanakan tiga langkah (a), (b), dan (c) di atas, peserta didik dapat dibimbing oleh guru, sehingga guru bertindak sebagai mentor.
f.          Kerja mandiri
g.     Peserta didik melakukan pengecekan terhadap kemajuan dalam menyelesaikan tugasnya. Kemudian hasil tugas kelompoknya dipresentasikan di depan kelas agar peserta didik yang lain saling terlibat dalam pekerjaan mereka dan memperoleh perspektif luas pada topik itu.
h.      Peserta didik saling memberikan umpan balik mengenai topik yang telah mereka kerjakan berdasarkan tugas masing-masing kelompok, dan peserta didik bersama dengan guru berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran.
Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan secara berulang, sampai ditemukan suatu solusi atau keputusan yang tepat.

2.   Model Bermain Peran (Role Playing)
Model ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk lebih menggali dan memahami orang lain dengan tugasnya masing-masing, melalui pemecahan permasalahan sosial nyata yang dihadapi oleh kelompoknya. Model ini juga akan berdampak pada pemahaman nilai-nilai sosial maupun pribadi, sehingga dapat melatih rasa saling menghargai, kerja keras, dan sifat demokratis. 

Langkah model pembelajaran tersebut sebagai berikut;
a.    Pemanasan; dalam kegiatan ini guru menyampaikan permasalahan yang berkaitan dengan pengalaman peserta didik, sehingga peserta didik dapat merasakan dan mengeksplorasi permasalahan tersebut secara akurat berdasarkan pengalaman atau imaginasinya. Permasalahan dapat disajikan melalui bacaan, cerita lisan, pertanyaan, atau film.
b.       Menentukan peran masing-masing anggota kelompok; 
dalam kegiatan ini, peserta didik dan guru berdiskusi untuk menjelaskan berbagai karakter dengan apa yang disukainya atau tidak disukainya, perasaannya, dan sebagainya. Selanjutnya menentukan sukarelawan untuk berperan dalam masing-masing karakter tersebut.
c.       Menentukan langkah pemecahan masalah;
1)  Masing-masing peserta didik menentukan langkah kegiatan yang akan dilaksanakannya, dapat dibantu oleh guru melalui pertanyaan misalnya; tentang apa yang diobservasi, dimana, dan bagaimana caranya. 
2) Mempersiapkan peran yang akan dilaksanakan melibatkan antara lain karakter, kesukaan atau kebiasaan, cara berfikir, dan cara kerja yang diperankannya. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting, karena akan menentukan keberhasilan keseluruhan pembelajaran. 
d.  Pelaksanaan masing-masing tugas anggota sesuai dengan tugas atau peran yang sudah direncanakan. Perlu ditegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekedar bermain drama, tapi lebih memberikan pengalaman dan pemahaman kepada peserta didik bagaimana seseorang memiliki peran dan tanggungjawabnya. Selain itu peserta didik diharapkan memiliki ide-ide baru yang dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya sebagai hasil perwujudan pencapaian kompetensinya.
e.     Diskusi dan evaluasi hasil observasi dan tugas yang berkaitan dengan ketepatan tugas yang diberikan, waktu, atau tempat obervasi yang bersifat umum yang melibatkan pemain maupun observer.  kegiatan ini bukan mendiskusikan perannya tepat atau tidak, tapi menekankan pada hal-hal yang sangat penting berkaitan dengan kompetensi yang harus dicapai, misalnya; sikap terbuka, materi pelajaran sesuai, dan cara kerja yang tepat.
f.       Langkah berikutnya adalah sharing pendapat antar peserta didik, peserta didik dengan guru yang mendiskusikan hasil dari langkah sebelumnya, sehingga memungkinkan ada penggantian peran. Hasil dari langkah ini adalah fokus perbaikan dalam pelaksanaan, sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang lebih baik.
g.       Diskusi dan evaluasi seperti bagian f.
h.   Sharing pengalaman dan generalisasi. Peran guru dalam kegiatan iniadalah membimbing peserta didik untuk menemukan berbagai alternatif solusi pemecahan masalah dari permasalahan yang serupa, sehingga peserta didik memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupannya.

3.   Model Pembelajaran Berfikir Induktif (Thingking induktively)
Model ini bertujuan untuk melatih peserta didik dalam memahami, mengidentifikasi, dan menentukan keterhubungan antar konsep-konsep yang dipelajarinya untuk dikembangkan atau diaplikasikan dalam situasi atau permasalahan tertentu. Langkah model ini terdiri atas;
a.       Formasi konsep (consept formation). Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini antara lain: 1) identifikasi dan numerasi data yang relevan dengan topik atau permasalahan; 2) mengelompokan data yang memiliki karakteristik yang serupa atau sama; dan 3) melakukan kategorisasi data.
b.  Interpretasi data (Interpretation of data). Pada langkah ini dilakukan; 1) identifikasi keterkaitan atau perbedaan antar data; 2) eksplorasi sebab-akibat dalam suatu keterkaitan; dan 3) menemukan implikasi dan ekstrapolasi antar data.

Aplikasi prinsip (application of principles). Pada langkah ini peserta didik dilatih untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip yang dipelajari untuk menjelaskan fenomena baru atau memprediksi fenomena yang akan muncul.



#Materi Diklat Penyusunan RPP K13 Revisi dan Literasi di MTs Negeri 5 (MTsN Bakalan Rayung) Jombang bekerja sama dengan BDK (Balai Diklat Keagamaan) Surabaya.
Rabu, 8 November 2017.